Jelajah Dieng Hari-1: Keliling Komplek Wisata Telaga Warna

Dieng-Telaga-Warna-003

Sobat Adventuriderz sekalian… Melanjutkan cerita solo riding ke Dieng di sini, setelah mendapatkan penginapan dan menaruh berbagai perlengkapan lenong, Adventuriderz kembali memacu Si Belalang Tempur keliling Dataran Tinggi Dieng.

Sekilas tentang Dieng, ternyata Dieng memiliki arti tersendiri bagi penduduk setempat. Penduduk mengartikan Dieng sebagai tempat yang indah dan penuh dengan suasana spiritual. Nggak aneh memang.. Terhampar di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, membuat pemandangan Dieng sangat memukau. Apalagi di sekitar Dieng banyak tersebar berbagai candi peninggalan sejarah yang tentu saja memperkuat nuansa spiritual.

Oh ya, wilayah Dieng ini merupakan perbatasan antara Wonosobo dan Banjarnegara, sehingga sebagian wilayahnya dibagi antara kedua kabupaten tersebut. Dieng Kulon misalnya, masuk ke dalam wilayah Kecamatan Batur, Banjarnegara, sementara Dieng Wetan masuk ke dalam wilayah Kecamatan Kejajar, Wonosobo. Konon, Dieng adalah salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah. Tapi jangan khawatir, suasana di sana nggak sepi-sepi amat kok. Malah cenderung ramai dan sangat hidup, terutama di akhir pekan. Dijamin nggak seperti layaknya wilayah terpencil deh!

Siang menjelang sore itu Adventuriderz riding dari penginapan menuju salah satu objek wisata bernama Telaga Warna yang lokasinya tergolong dekat dengan penginapan. Kalau dihitung mungkin hanya sekitar 1 kilometer saja jaraknya. Untuk masuk ke Telaga Warna pengunjung cukup membayar tiket masuk Rp 5.000 saja. Relatif murah kok. Ada apa di Telaga Warna?

Telaga Warna ya layaknya sebuah telaga atau danau. Bedanya, warna air di Telaga Warna ini bisa berbeda-beda. Kadang nampak hanya berwarna hijau keputihan, tapi kadang juga berwarna-warni seperti pelangi. Nah, hal itu terjadi karena di Telaga Warna ini terdapat kandungan sulfur atau belerang. Jadi ya jangan heran kalau saat berada di Telaga Warna aroma belerang itu cukup menyengat. Ada baiknya menggunakan masker saat berada di sini.

Masih di komplek Telaga Warna, terdapat beberapa spot lain yang sangat sayang dilewatkan, seperti kawasan Rumput Wlingi, Telaga Pengilon, Pesanggrahan Bumi Pertolo, Batu Tulis, Goa Jaran, Goa Sumur, dan Goa Semar. Kalau hanya punya waktu 1-2 jam saja sih nggak bakal puas dan nggak bisa mengunjungi berbagai spot itu dengan santai.

Puas berkeliling kawasan Telaga Warna, Adventuriderz menyempatkan diri mencicipi Mie Ongklok yang merupakan kuliner khas setempat. Mie Ongklok merupakan sajian mie kuning yang campur dengan kol dan kucay, kemudian disajikan dengan disiram kuah kental yang panas. Nah, biasanya Mie Ongklok ini disajikan dengan sate sapi. Tapi karena nggak ada sate sapi, sate ayam pun jadi. Lezaaaatt!

Keliling Telaga Warna sudah… Makan Mie Ongklong juga sudah… Kok ya kebetulan sekali kabut yang super terbal dan gerimis mulai turun sob. Ya beginilah nasib kalau jalan-jalan saat musim hujan, pasti bakal banyak waktu yang terbuang karena hujan. Nggak masalah, nikmati saja. Lagipula juga sudah sore.. Mumpung hujan belum deras, Adventuriderz pun memutuskan kembali penginapan, mempersiapkan diri dari dinginnya udara Dieng di malam hari yang bisa mencapai 10 derajat celcius. Bahkan di musim kemarau bisa mencapai nol derajat… Brrrhhh… Kenapa mesti siap-siap? Soalnya Adventuriderz perlu minum obat sob. Gejala alergi di badan Adventuriderz belakangan ini semakin intens nongol. Alergi apa sih? Intinya alergi perubahan suhu dan debu rumahan. Kalau debu jalanan nggak masalah. Nah, kalau kena debu rumahan atau ada perbuahan suhu udara yang drastis, misal dari dingin ke panas atau dari panas ke dingin, sudah dipastikan bakal bersin-bersin. Heuheu..

Contact Me:


Advertisements