Impresi Pakai Kawasaki KLX 150L Setelah 12.000 Kilometer


Kawasaki-KLX-150L-008

Tanpa terasa Adventuriderz sudah sembilan bulan bersama Si Belalang Tempur Kawasaki KLX 150L. Dalam waktu sembilan bulan itu, Si Belalang Tempur baru memperoleh mileage 12.000 kilometer. Artinya, kalau dirata-rata hanya menempuh 1.200 kilometer per bulan. Mileage Si Belalang Tempur memang nggak banyak, karena dia lebih banyak nganggur daripada jalan.

Yups, mileage sebanyak 12.000 kilometer itu mungkin sekitar 80 persen ditempuh untuk perjalanan jarak jauh. Sedangkan untuk penggunaan sehari-hari masih ada motor lainnya, atau kalaupun digunakan paling hanya menempuh 4-8 kilometer saja per hari. Selebihnya digunakan untuk perjalanan jarak jauh, mulai ratusan hingga ribuan kilometer sekali jalan.

Lalu, bagaimana impresi setelah menggunakan Si Belalang Tempur sepanjang 12.000 kilometer? Well, Adventuriderz sebelumnya dan sampai saat ini menggunakan motor sport dengan karakter napas panjang-panjang dan bisa mengail top speed lumayan tinggi. Begitu pindah ke motor dual sport tentu agak kaget karena karakternya total berbeda.

Jika biasanya duduk membungkuk, kali ini harus berdiri tegak, dan riding position Si Belalang Tempur maupun motor dual sport lainnya itu agak aneh. Posisi duduk tegak dan agak maju. Stang yang cukup tinggi dan lebar membuat bahu rileks, nggak gampang pegel, tapi kaki dipaksa ditekuk ke belakang. Untuk penggunaan jarak jauh di motor sport, biasanya yang lebih dahulu pegel-pegel adalah bagian lengan tangan, bahu, atau punggung. Tapi dengan Kawasaki KLX 150L, yang paling cepat terkena serangan pegel-pegel itu bagian paha. Feel ini bisa saja berbeda pada setiap orang, karena tergantung postur tubuh juga.

Selanjutnya untuk feel berkendara. Karakter napas KLX 150L ini seperti layaknya motor dual sport, pendek-pendek. Baru gas sebentar udah minta pindah gigi dan itu sangat cepat. Nggak terasa udah sampai di gigi lima alias mentok! Karakter yang seperti ini memang sangat asyik buat stop and go di jalanan kita yang padat. Torsi ngisi terus saat diperlukan. Begitu juga saat melewati tanjakan atau jalan jelek, mesin selalu siap menyalurkan tenaga untuk naik dengan cepat. Tapi, masalah besar terjadi saat menemui track jalan aspal yang lurus dan kosong, karena top speed KLX 150L sama sekali nggak bisa diharapkan.

Bagaimana dengan handlingnya? Jelas ringan banget sob. Stang sebenarnya sudah diganti dengan fatbar yang sangat lebar. Untuk bermanuver jelas lebih nyaman, tapi stang lebar juga memberikan sisi negatif, yaitu sulit selap-selip di kondisi lalu lintas yang macet. Nah, KLX 150L ini masih terasa nyaman hingga kecepatan 80 km/jam. Di atas itu, getaran stang lumayan terasa. Akan tetapi, untuk penggunaan di dalam kota maupun di luar kota manuvernya enak banget. Banting kanan-kiri sangat enteng dan mudah.

Salah satu keunggulan lain dari KLX 150L ini adalah suspensinya yang nyaman dan lembut. Adventuriderz pernah dalam perjalanan dari Jakarta menuju Jogja lewat jalur selatan terkena macet sepanjang Nagrek hingga Tasikmalaya. Jalanan benar-benar penuh. Ada bahu jalan yang kosong dengan kondisi berupa campuran antara tanah, bebatuan kecil, dan pasir. Di saat itu nggak ada kendaraan lain yang memanfaatkan bahu jalan ini, termasuk motor-motor pun nggak ada yang mau turun. Berkat suspensi yang lembut ini Adventuriderz terus menggeber Si Belalang Tempur di bahu jalan dengan kecepatan 50-70 km/jam. Lumayan banget kan daripada mesti nunggu macet di aspal?

Salah satu sektor paling lemah dari KLX 150L maupun KLX 150S dan nggak menutup kemungkinan juga D’Tracker 150 adalah power dan torsi. Walaupun KLX 150L itu judulnya motor dual sport, namun torsinya nggak istimewa, tenaganya pun lembek. Power motor ini hanya 8,6 kW/8.000 rpm dan torsi 12 Nm/6.500 rpm. Torsi maksimal sudah bisa dikail di rpm rendah membuat motor ini lincah dan enak buat stop and go, termasuk buat nanjak-nanjak ringan juga masih oke.. Sebenarnya tenaga dan torsi segitu sudah cukup untuk penggunaan motor sebagai kendaraan komuter. Bencana baru terjadi jika motor digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Gemes rasanya liat jalan lurus kosong melompong seperti di Pantura tapi kecepatan hanya mentok di 115 km/jam. Jadi kayak siput di jalanan seluas dan sepanjang itu.

Terus apa lagi kekurangan motor ini? Lagi-lagi menyoroti untuk perjalanan jarak jauh, karena saya cukup sering melakukannya, riding position yang tegak membuat angin sangat mudah menghempas ke tubuh. Masih mending kalau tailwind atau crosswind, nah kalau kena headwind (angin depan) jelas tenaga motor lumayan drop. Power nggak seberapa, kena headwind pula, terasa deh lemotnya. Kelemahan lainnya ya tangki bahan bakar yang cuma 7 liter. Sebenarnya cukup lumayan, toh konsumsi bahan bakar nggak begitu boros, rata-rata hanya 38 km/liter. Artinya, kalau tangki bahan bakar terisi full bisa menempuh sekitar 266 kilometer. Not big problem sih…

Bagaimana dengan tingkat durabilitasnya? Sejauh ini belum ada komplain, nggak ada masalah yang cukup krusial. Sepanjang pemakaian 12.000 kilometer sudah servis dan ganti oli sebanyak lima kali. Servis dan ganti oli pertama di 1.000 kilometer, kedua di 3.000 kilometer, ketiga di 6.000 kilometer, keempat di 9.000 kilometer, dan kelima di 12.000 kilometer. Adventuriderz sengaja ganti oli dan servis sesuai dengan buku pedoman dengan rentang 3.000 kilometer sekali. Oh ya, setiap servis dan ganti oli ini Si Belalang Tempur juga diganti filter olinya, jadi selalu membutuhkan oli sebanyak 1,3 liter setiap kali mengisi.

Untuk parts yang diganti, selama 12.000 kilometer hanya karet roller rantai dan kanvas rem depan-belakang. Roller rantai bawaan KLX 150L memang jelek, sudah hancur dalam waktu tiga minggu, sedangkan kanvas rem diganti karena sudah tipis dan waktunya ganti. Kalau parts yang diganti karena pertimbangan tertentu adalah stang, sprocket belakang, dan rantai. Sudah itu saja, selebihnya masih standar. Dalam waktu dekat ini kemungkinan juga akan ganti ban belakang yang sudah mulai tergerus. Overall, Adventuriderz puas dengan Kawasaki KLX 150L, apalagi sudah menemani Adventuriderz menjelajah Pulau Jawa, dari ujung barat di Merak hingga ujung timur di Banyuwangi. Pernah juga nyeberang sampai Lampung, nggak ada kendala sama sekali. Meskipun demikian, Adventuriderz masih berharap Kawasaki mau melakukan update pada KLX 150, terutama di sektor mesin. Oke.. Segitu aja testimoni tentang KLX 150L. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan sebelum membeli.

Welcome-To-Dieng-007

Contact Me:


Advertisements