• Home »
  • Adventure »
  • Jelajah Dieng Hari-2: Keliling Telaga dan Kawah, Hujan Plus Jalur Menantang!

Jelajah Dieng Hari-2: Keliling Telaga dan Kawah, Hujan Plus Jalur Menantang!


Dataran-Tinggi-Dieng-Hari-2-038

Riding adventure saat musim hujan seperti sekarang ini memang cukup merepotkan. Apalagi kalau destinasi yang dituju adalah kawasan pegunungan. Hujan bisa turun setiap saat, nggak memandang waktu. Bisa pagi, siang, sore, atau malam. Sulit sekali diprediksi. Hal itu pula yang terjadi saat Adventuriderz pergi ke Dataran Tinggi Dieng di akhir Januari 2015 lalu. Di pagi hari memang cuaca sempat cerah, tapi hanya sebentar saja. Kemudian cuaca berubah menjadi hujan terus-menerus sepanjang hari sejak siang (Baca: Menelusuri Desa Tertinggi di Pulau Jawa dan Melihat Aneka Candi di Dataran Tinggi Dieng).

Hujan yang turun di Dieng pada siang hari memaksa Adventuriderz mengeksplor spot-spot menarik lainnya di bawah guyuran hujan. Bukan apa-apa sob, mau menunda eksplor nggak bisa dipastikan kapan hujan bakal berhenti. Kalau hujan baru reda sore hari pasti Adventuriderz sudah nggak punya waktu lagi berkeliling karena keesokan harinya akan melanjutkan perjalanan ke Jogja dengan mampir terlebih dahulu di Candi Gedong Songo. Apa saja spot yang Adventuriderz kunjungi sambil hujan-hujanan siang itu?

Telaga Merdada

Telaga Merdada terletak tidak jauh dari pusat keramaian di Dieng searah dengan jalan menuju Banjarnegara, tepatnya berada di Desa Karang Tengah. Jalan untuk menuju lokasi telaga relatif bagus dengan dominasi tanjakan yang tidak terlalu curam. Hanya saja siang itu turun hujan lebat disertai kabut yang membuat jarak pandang sangat minim. Adventuriderz sampai kesulitan melihat kondisi jalan di depan. Beruntung kabut pekat itu nggak terlalu lama karena mendekati lokasi telaga, kabut perlahan mulai hilang.

Sore itu bisa dikatakan tidak ada pengunjung yang berwisata di Telaga Merdada. Suasana telaga sepi dan mencekam. Terlihat beberapa orang sedang asyik memancing di bawah guyuran hujan yang lumayan lebat. Pemandangan telaga pun tertutup oleh pekatnya kabut dan hujan. Kalau diperhatikan, telaga dengan luas sekitar 15 hektar ini dikelilingi oleh perbukitan. Pemandangan Telaga Merdada siang itu masih terlihat cantik meskipun agak terkesan spooky. Adventuriderz nggak berlama-lama di Telaga Merdada karena memang sangat sepi dan hujan tidak kunjung berhenti.

Kawah Sileri

Selepas dari Telaga Merdada, Adventuriderz mengajak Si Belalang Tempur menuju ke Kawah Sileri yang dikelilingi oleh Pegunungan Pagerkandang yang sangat hijau. Bagaimana kondisi jalan menuju Kawah Sileri? Sangat bagus sob! Nggak ada masalah sama sekali. Jalannya memang nggak terlalu lebar tapi sudah dalam bentuk aspal halus dengan kontur yang naik-turun dan berliku khas jalanan di pegunungan. Si Belalang Tempur nggak menemukan kesulitan yang berarti melewati jalanan tersebut.

Dalam kondisi normal, pemandangan di Kawah Sileri sangat cantik. Apalagi ini merupakan kawah terbesar yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Kawah Sileri pun masih aktif hingga sekarang. Sayangnya, Adventuriderz datang dalam kondisi hujan sehingga pemandangan kurang terlihat secara maksimal. Oh ya, sebenarnya pemandangan Kawah Sileri sudah bisa disaksikan dari pendopo yang sekaligus tempat parkir. Namun untuk menuju ke bibir kawah, pengunjung harus menuruni bukit melalui jalan setapak sejauh kurang lebih 300 meter. Lagi-lagi Adventuriderz nggak turun ke bibir kawah karena cuaca yang tidak mendukung. Cukup menikmati pemandangan kawah dari atas, sembari berteduh di pendopo.

Sumur Jalatunda

Tidak begitu jauh dari Kawah Sileri terdapat sumur tua yang disebut dengan Sumur Jalatunda. Kurang lebih hanya perlu menempuh waktu perjalanan 10 menit dari Kawah Sileri ke Sumur Jalatunda. Konon, Sumur Jalatunda ini bukanlah sumur buatan manusia, melainkan bekas kawah yang sudah mati kemudian terisi oleh air. Sumur Jalatunda memang tidak seperti sumur biasanya. Sumur ini memiliki diameter yang cukup panjang, mungkin ada sekitar 100 meter, dengan air berwarna hijau keruh.

Lalu, apa sih menariknya Sumur Jalatunda? Di sini ada mitos yang cukup unik sob. Menurut cerita, bagi orang yang berhasil melemparkan batu dan bisa mencapai dinding sumur yang ada di seberang, maka segala keinginannya akan terkabulkan. Percaya nggak percaya, memang sulit melakukannya sob. Saat Adventuriderz melempar batu ke arah dinding di seberang, batu sudah jatuh terlebih dahulu sebelum menyentuh dinding, sekuat apapun cara melemparnya. Berdasarkan penjelasan ilmiah sih di Sumur Jalatunda memiliki daya gravitasi yang sangat kuat, sehingga bbatu yang dilempar bisa dengan mudah tertarik ke dalam sumur sebelum menyentuh dinding di seberang.

Kawah Candradimuka

Gerbang masuk menuju Kawah Candradimuka sebenarnya berdekatan kok dengan Sumur Jalatunda. Nah, untuk menuju Kawah Candradimuka diperlukan effort lebih sob. Kenapa? Kondisi jalan menuju lokasi kawah bisa dibilang sangat buruk. Jalan yang sebelumnya berupa aspal sudah sangat hancur dan tinggal tersisa bebatuan berukuran besar-besar. Kondisi itu diperparah dengan kondisi jalan yang penuh dengan tanjakan dan tikungan curam. Kondisi jalan menuju Kawah Candradimuka benar-benar menguji kehandalan motor. Apalagi dalam kondisi hujan membuat lintasan menjadi sangat menantang.

Terus terang, Adventuriderz belum pernah ke kawah yang satu ini jadi lumayan penasaran meskipun kondisi jalannya bikin geleng-geleng kepala. Ternyata, Kawah Candradimuka itu terletak persis di tepi jalan. Kalau dari atas hanya terlihat seperti kepulan-kepulan asap saja. Nggak seperti Kawah Sileri yang menyerupai sebuah telaga. Terdapat jalan setapak berupa anak tangga menuju ke area kawah di bawah. Ya, lagi-lagi Adventuriderz hanya menengok dari atas saja.

Telaga Dlingo

Selesai menikmati Kawah Candradimuka, Adventuriderz melanjutkan perjalanan ke Telaga Dlingo. Lokasinya searah kok dengan Kawah Candradimuka. Tidak jauh berbeda, kondisi jalan menuju Telaga Dlingo juga lumayan hancur dengan kombinasi tikungan dan tanjakan yang aduhai. Nah, di sini Adventuriderz nggak menemukan jalan menuju tepi telaga. Adventuriderz hanya melihat telaga dari kejauhan di atas bukit. Mau bertanya juga nggak ada sama sekali orang yang lewat. Apalagi hujan lebat tak kunjung reda.

Sambil mencari, Adventuriderz terus saja mengikuti jalan yang hanya satu itu, melewati hutan yang sangat sepi dengan kondisi jalur off road bercampur cor-coran semen pada beberapa titik. Sayangnya tepian Telaga Dlingo tak kunjung ditemukan. Malah Adventuriderz sampai di sebuah perkampungan kecil dan terpencil. Sampai di sana sepertinya sudah mentok, tak ada tanda-tanda jalan menuju telaga dan sepertinya malah menjauh dari lokasi telaga. Daripada terjebak malam di lingkungan yang agak spooky seperti itu lebih baik Adventuriderz segera cabut dant tancap gas kembali ke penginapan melewati jalur yang sama karena hari juga sudah sore.

Contact Me:


Advertisements