Dari Dieng ke Gedong Songo via Blado, Jalannya Bikin Ciut Nyali

Dieng-Gedong-Songo-via-Blado-Bawang-003

Well, beberapa hari melakukan perjalanan keliling Dieng telah selesai. Memang nggak setiap spot wisata bisa dikunjungi dalam waktu yang bisa dikatakan cuma dua hari dua malam saja. Apalagi kondisi cuaca kurang bersahabat selama di Dieng membuat Adventuriderz nggak bisa keliling secara maksimal. Sekarang waktunya meninggalkan Dieng, kembali ke Jogja tapi mampir dulu di Candi Gedong Songo yang ada di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Dari Dieng sebenarnya cukup mudah kalau mau ke Candi Gedong Songo. Cukup melewati Temanggung dan nanti mengambil arah yang menuju ke Ambarawa. Namun, bukan adventure namanya kalau melewati jalur yang normal-normal saja. Awalnya, Adventuriderz berencana dari Dieng akan riding menuju Bawang yang berada di Kabupaten Batang, kemudian dilanjutkan menuju ke arah Sukorejo, Singorojo, Boja, Limbangan, Sumowono, hingga mencapai Candi Gedong Songo di Bandungan.

Setelah berdiskusi dengan penduduk lokal di Candi Arjuna, Adventuriderz memilih rute yang sedikit berputar lebih ke arah barat. Jadi dari Dieng tidak langsung ke Bawang, melainkan berputar dulu ke arah Batur dan Blado, baru kemudian dilanjutkan menuju Bawang. Rute berikutnya sih sama persis seperti rencana awal. Kenapa kok milih rute ini? Konon jalurnya lebih oke dan menantang. Selain itu, pemandangannya juga lebih cakep! Sebenarnya berapa jauh sih muternya? Ya kalau dari Dieng langsung ke Bawang sih kurang lebih cuma menempuh jarak 20 kilometer, sedangkan rute Dieng-Batur-Blado-Bawang bisa sekitar 60 kilometer. Lumayan banget bedanya!

Yups, sekitar jam 09.00 pagi Adventuriderz sudah mulai ngegas Si Belalang Tempur dari Dieng ke arah Batur dengan diiringi oleh gerimis kecil. Arahnya sama lah dengan menuju Banjarnegara. Jalanan dari Dieng ke Batur ini sangat seru banget sob. Kondisi jalan sangat mulus walaupun nggak terlalu lebar yang didominasi oleh tikungan-tikungan tajam khas pegunungan. Pemandangannya sih nggak perlu diragukan lagi, juara banget! Sepanjang jalan pokoknya mata adem dengan banyaknya perkebunan sayuran di berbagai sisi perbukitan. Joss banget lah..

Setelah sampai di Batur, perjalanan dilanjutkan… Kurang lebih setelah menempuh perjalanan 1,5 kilometer dari Pasar Batur, ada sebuah persimpangan. Adventuriderz mengarahkan Si Belalang Tempur dengan berbelok ke kanan di jalan yang sangat menanjak dan lumayan rusak. Kemampuan motor memang cukup diuji di sini. Jalannya memang aspal, tapi dalam kondisi yang rusak parah. Sepertinya sih ini sedang menaiki sebuah perbukitan. Semakin naik bukannya semakin ramai tapi malah semakin sepi. Adventuriderz nggak bertemu atau berpapasan sama sekali dengan kendaraan lain ketiga melewati jalur itu. Selain itu, lama-lama keadaan kanan-kiri yang sebelumnya didominasi oleh perkebunan berubah menjadi hutan dengan pepohonan yang cukup lebat. Melewati jalur ini nggak bisa high speed sama sekali deh. Lha wong jalan nanjak, rusak, dan penuh tikungan tajam kok. Bisa dapat 40 km/jam beberapa saat saja sudah lumayan. Adventuriderz terus menelusuri jalanan ini karena memang ini jalan satu-satunya dan nggak ada percabangan, sampai akhirnya ketemu sebuah perkampungan kecil. Ntah apa nama kampungnya, di sana tidak ada petunjuk yang pasti. Cuma ya cukup heran saja ada juga masyarakat yang tinggal di daerah terpencil seperti ini. Padahal ini adalah Jawa Tengah, tapi memang masih ada daerah yang sangat terpencil.

Kampung ini sepertinya menjadi penanda kalau jalan sudah mulai menurun terus. Dengan kondisi jalan menurun, beban mesin motor lumayan berkurang drastis, tapi rem bekerja cukup keras. Setelah perkampungan kecil itu kondisi jalan berupa cor-coran semen yang sempit dengan pemandangan yang kembali didominasi oleh perkebunan sayur milik warga. Akan tetapi, setelah itu Adventuriderz kembali masuk ke sebuah jalan di mana kanan-kiri berupa hutan yang sangat lebat. Kondisi siang itu nggak hujan, tapi jalanan di tengah hutan yang cukup hancur itu sangat lembab dan basah. Ditambah lagi dengan kabut tebal yang menghadang secara tiba-tiba, membuat pandangan ke depan sangat terbatas. Yups, jalur inilah yang membuat Adventuriderz sedikit ciut nyali. Di tengah hutan lebat, lembab, kabut tebal, jalan rusak, riding seorang diri, dan kondisi jalan yang super sepi merupakan kombinasi sempurna untuk membuat siapapun bergidik. Yang bisa dilakukan hanyalah tancap gas sebisa mungkin, senyaman mungkin, agar bisa lebih cepat keluar dari hutan. Dengan kondisi jalan seperti itu, Si Belalang Tempur masih cukup nyaman digeber lebih dari 60 km/jam berkat suspensinya yang cukup mumpuni. Ntah jaraknya yang memang jauh atau apa, Adventuriderz merasa agak lama berada di dalam hutan itu sampai akhirnya bertemu jalan aspal yang lebih baik dan tiba di sebuah desa dengan nama Kembanglangit.

Dieng-Gedong-Songo-via-Blado-Bawang-006

Desa Kembanglangit kalau Adventuriderz nggak salah lihat masih masuk ke dalam wilayah Kecamatan Blado, Kabupaten Batang. Desa yang satu ini dikelilingi oleh perkebunan teh. Dari Desa Kembanglangit, Adventuriderz masih harus menuju ke Kecamatan Blado. Jangan bayangkan jalannya bakal mulus. Nggak sama sekali! Kondisi jalan di Desa Kembanglangit rusak parah, berupa bebetuan besar yang disusun di jalan. Siang itu di Desa Kembanglangit tergolong gelap karena matahari nggak kelihatan sama sekali. Adventuriderz hanya bisa melihat kabut yang turun sangat pekat, benar-benar mengganggu jarak pandang. Konsentrasi tinggi dan kesabaran sangat diperlukan saat melewati kondisi seperti ini. Untungnya di Desa Kembanglangit masih ada 1-2 kendaraan yang lewat. Meskipun sudah sering riding di pegunungan, Adventuriderz belum pernah merasakan kabut sepekat ini.

Sampai di Kecamatan Blado kondisi jalan sudah jauh lebih mulus. Tidak ada lagi jalan-jalan yang berlubang maupun kabut yang mengganggu pandangan. Dari Blado, Adventuriderz masih harus menempuh perjalanan menuju Bawang yang kemudian dilanjutkan ke Plantungan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Kendal, Sukorejo, dan Singorojo. Karena hari sudah siang, Adventuriderz berhenti dulu di sebuah warung sate di Singorojo untuk mengisi perut yang sudah mulai kelaparan dan mengistirahatkan badan sejenak. Kelar makan, perjalanan dilanjutkan menuju Boja, Limbangan, Sumowono, hingga sampai di Candi Gedong Songo. Candi Gedong Songo sendiri masuk ke dalam wilayah Desa Banyukuning, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang (Ambarawa), Jawa Tengah.

Sekitar lima tahun yang lalu sebenarnya Adventuriderz juga sudah pernah berkunjung ke Candi Gedong Songo. Tidak ada perbedaan yang cukup signifikan antara Candi Gedong Songo yang sekarang dengan lima tahun lalu. Kalaupun ada yang berbeda, akses jalan dari candi ke candi sudah semakin baik dan nyaman bagi para pengunjung. Kalau sobat mau ke Candi Gedong Songo, paling tidak siapkan waktu dua jam untuk berkeliling candi. Selain itu, siapkan juga fisik yang prima untuk trekking. Perjalanan dari satu candi ke candi lain di komplek Candi Gedong Songo memang cukup menguras tenaga.

Hari itu Adventuriderz berkeliling Candi Gedong Songo dengan cepat. Mungkin hanya perlu waktu sekitar 1 jam saja sudah mengelilingi seluruh candi. Bukan apa-apa sob, cuaca sedang kurang bersahabat karena mendung. Adventuriderz khawatir turun hujan saat berkeliling komplek candi yang super luas itu. Selain itu, hari juga sudah sore, sedangkan Adventuriderz masih harus melanjutkan perjalanan menuju Jogja. Karena hari sudah sore pula, niat ke Rawa Pening di Ambarawa dibatalkan. Jadi ya langsung melanjutkan perjalanan menuju Salatiga, Boyolali, Klaten, hingga sampai lagi di Jogja.

Dieng-Gedong-Songo-via-Blado-Bawang-012


Advertisements