Perjalanan Menantang Menggapai Puncak B29 Lumajang (Part 2/2)


B29-Lumajang-Day-2-024

Well, melanjutkan cerita perjalanan menuju Puncak B29 yang terletak di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur… Pada hari kedua tepatnya Minggu (29/3/2015) kami bangun pagi-pagi (Baca: Perjalanan Menantang Menggapai Puncak B29 Lumajang Part 1/2). Harapannya adalah bisa secepat mungkin sampai di Puncak B29 dan mendapatkan foto-foto sunrise yang menarik.

Sayangnya, kami berlima bangun tidur nggak pagi-pagi amat. Mas Fauzi (Fncounter.com) membangunkan Adventuriderz sekitar pukul 05.00. Kami kemudian bersiap-siap, mengemasi barang-barang bawaan, pamit ke Pak Wahyu selaku pemilik homestay, dan langsung ngegas menuju Puncak B29 yang masih berjarak sekitar 3 kilometer dari Desa Argosari. Meskipun jaraknya sudah sangat dekat, tapi ini merupakan 3 kilometer yang sangat menentukan sob, apakah kita akan berhasil mencapai puncak atau nggak.

Dari Desa Argosari, kami menuju check point pos retribusi B29. Kondisi jalan setelah Desa Argosari ini sebenarnya masih relatif bagus, berupa jalan aspal kasar yang cenderung terus menanjak lumayan. Selanjutnya kami mendapati kondisi jalan yang begitu rusak dan basah. Maklum lah, malam sebelumnya turun hujan deras di Desa Argosari yang membuat adventure hari itu menjadi lebih menantang. Adventuriderz yang berada di barisan depan mencoba melewati rintangan pertama ini. Hasilnya roda terpeleset, motor oleng, dan sudah bisa ditebak dong motor langsung ambruk ke kiri. Beruntung Adventuriderz langsung lompat dari motor begitu merasa akan mengalami crash. Badan pun aman, sedangkan motor hanya mengalami kerusakan minor. Yups, baut hand guard yang terpasang di stang tidak kuat menahan impact, sehingga drat rusak dan baut pengunci terlepas dengan sempurna.

Bagaimana dengan anggota tim lainnya? Baik Mas Fauzi, Mas Angga (Ndeso94.com), Mbah Wiro (Nyobamoto.com), dan Mas Respati harus bersusah payah melewati rintangan pertama ini. Bahkan motor Supra X 125 milik Mbah Wiro sempat nyangkut di bebatuan. Kami pun bahu membahu saling membantu dorong motor kalau ada anggota tim yang motornya terjerembab atau motornya susah maju. Kami sempat bertemu rombongan club motor berjaket biru muda dengan berbagai varian motor yang anggotanya pun sangat banyak. Tapi tidak sedikit dari mereka yang masih tertahan di bawah dengan berbagai pertimbangan. Terlihat jelas, tidak sedikit dari rombongan club itu sudah mengalami berbagai permalahan saat berada di bawah, khususnya para rider New Vixion Lightning (NVL) yang kebanyakan kehabisan kanvas kopling, sehingga motor nggak bisa jalan lagi. Sebagian rider yang menggunakan motor sport fairing maupun rider yang nggak mau coba-coba lebih memilih balik kanan, nggak mau mengambil resiko yang lebih fatal.

B29-Lumajang-Day-2-010

Setelah kejadian crash tadi, Adventuriderz baru sadar kalau ban belakang terlalu keras, jadi ban nggak mendapatkan traksi yang baik. Sebelum naik lagi lebih jauh, Adventuriderz mengurangi tekanan angin ban belakang hingga hampir separuhnya. Motor jadi jauh lebih enak buat nanjak, bahkan saat melibas kondisi jalan yang rusak dan basah seperti saat crash pertama, nggak ada gejala slip sama sekali. Adventuriderz melenggang dengan mudah hingga mencapai warung yang berada di dekat pos retribusi, disusul oleh Mas Respati, Mas Angga, dan terakhir Mas Fauzi bersama Mbah Wiro.

Di warung ini kami beristirahat sembari sarapan pop mie untuk mengisi perut setelah bersusah payah melewati jalanan laknat tadi. Beruntung cuaca pagi itu sangat cerah. Kami bisa melihat pemandangan perkebunan warga yang sangat hijau dikombinasikan dengan Gunung Semeru. Sangat cantik!! Bagaimana dengan sunrise? Ahhhh… Kami sudah melupakannya. Bukannya dapat sunrise malah dapat sunlight! Hahahaha.. Yups, saat matahari sudah tinggi kami baru dapat setengah jalan, jadi ya nggak akan mungkin mendapatkan sunrise…

Nah, perlu sobat ketahui, dari Desa Argosari sampai ke pos retribusi B29 ada tiga kombinasi kondisi jalan. Pertama akan melewati jalan aspal kasar dengan sebagian sudah dalam keadaan hancur, lalu akan melewati jalan menanjak yang aduhai berupa paving block, dan terakhir adalah jalur off road berupa tanah merah sejak sebelum pos retribusi hingga ke Puncak B29. Jika sobat datang ke B29 saat musim hujan seperti sekarang dan bisa mencapai pos retribusi saja, sudah merupakan pencapaian yang bagus. Oh ya, ketika menemui kondisi jalan yang remuk ataupun menanjak ekstrem, jangan coba-coba memainkan kopling kalau nggak mau kanvas kopling hangus. Cukup masukkan gigi satu dan gas saja sebisanya. Kalau nggak kuat ya tinggal dorong.

B29-Lumajang-Day-2-013

Cukup puas beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju pos retribusi, membayar karcis sebesar Rp 3.000 per orang, dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Puncak B29. Dari pos retribusi ke Puncak B29 masih berjarak antara 1,5-2 kilometer lagi. Tapi kondisi jalan di sini jauh lebih menantang karena benar-benar full off road. Ditambah lagi malam sebelumnya hujan deras, jadi semakin jossss! Benar saja, Mbah Wiro yang berada di depan langsung terguling di tikungan pertama setelah pos retribusi.

Jalanan setelah pos retribusi memang sangat tricky karena ada tikungan ke kanan yang sangat tajam, diikuti tanjakan tinggi, dan dilanjutkan dengan tikungan tajam ke kiri. Setelah Mbah Wiro mengalami insiden, Adventuriderz coba naik, ternyata tanpa diduga-duga berhasil dengan mulus. Memang kondisi jalan masih licin, tapi pengurangan tekanan angin ban tadi benar-benar membantu memperkuat traksi ban. Teman-teman yang lain tampak kesulitan melewati rintangan yang satu ini, tapi penduduk setempat saling bahu-membahu mendorong motor yang sempoyongan nggak kuat naik. Adventuriderz sih sangat salut dengan penduduk setempat yang bisa melewati rintangan ekstrem seperti ini dengan mudah, bahkan saat berboncengan bertiga sekalipun. Pengalaman dan skill mereka memang luar biasa. Buktinya mereka bisa naik dengan mudah bermodalkan motor-motor biasa seperti GL Pro, Mega Pro, atau Revo yang bannya pun masih dalam kondisi standar, nggak diubah jadi ban enduro atau sejenisnya. TOP!!

Saat teman-teman masih menarik napas karena ngos-ngosan, Adventuriderz pamit jalan duluan. Ternyata di depan masih ada satu lagi rintangan dengan karakter yang sangat mirip. Berupa tikungan tajam ke kanan yang dikombinasikan dengan tanjakan tinggi dan dibanting dengan tikungan ke kiri. Bedanya, kondisi tanah di sini lebih benyek dibandingkan dengan rintangan sebelumnya. Nggak cukup sampai di situ, Adventuriderz yang sudah kesulitan dengan kondisi medan harus berjibaku, berbagi jalan dengan para tukang ojek dan warga setempat yang hilir-mudik naik-turun. Berhasil melewati rintangan yang satu ini rasanya puas sekali, karena perjalanan selanjutnya sedikit lebih mudah. Nggak ada lagi tanjakan dan tikungan yang cukup ekstrem, hanya tanjakan lurus saja. Kalaupun ada tikungan ya tikungan biasa saja. Pokoknya sudah jauh lebih mudah lah.

B29-Lumajang-Day-2-017

Akhirnya Adventuriderz langsung ngacir ke kawasan Puncak B29 dan sampai terlebih dahulu di sana, kemudian disusul Mas Respati sekitar 30 menit kemudian yang datang naik ojek, sedangkan motor Scorpio Z 225 milknya dikendarai oleh joki penduduk setempat. Dari kejauhan Mas Angga pun sudah tampak mendekat. Dia sepertinya cukup lihay di atas NVL dan mungkin menjadi satu-satunya rider NVL non-penduduk setempat yang berhasil mencapai puncak pada hari itu. Berselang waktu cukup lama, Mas Fauzi datang masih bersama Jupiter MX kesayangannya, sementara Mbah Wiro memilih naik ojek dan meninggalkan Supra X 125 di sebuah rumah penduduk. Kalau sudah nggak sanggup lagi memang akan lebih baik naik ojek atau meminta joki penduduk setempat untuk membawa motor kita sampai di atas. Itu jauh lebih aman dan minim resiko. Bukan apa-apa sob, sepanjang jalan itu berupa bukit dan jurang hijau alias perkebunan sayur warga. Akan sangat berbahaya kalau sampai motor tidak terkendali dan masuk ke lereng bukit. Kemarin itu sudah ada contohnya kok.

Nah, pemandangan di Puncak B29 ini memang sangat cantik sob. Di sana kita bisa dengan bebas melihat Gunung Bromo, Gunung Batok, Pasir Berbisik, dan Savana Bromo. Awan-awan yang ada tampak seperti di bawah kita. Nggak mengherankan kalau Puncak B29 disebut juga dengan nama “Negeri di Atas Awan”. Lha wong ketinggiannya saja sudah mencapai 2.900 meter di atas permukaan laut kok. Tidak ada fasilitas yang cukup memadai di kawasan Puncak B29. Hanya ada beberapa warung yang berderet. Toilet permanen pun nggak ada karena masih dalam proses pembangunan.

Bisa sampai di Puncak B29 saat musim hujan memang memberikan sensasi tersendiri. Motor pengunjung yang bisa lolos sampai atas cuma segelintir aja. Bahkan rombongan touring yang jumlahnya lebih dari 50 tadi nggak ada yang lolos sampai puncak. Mereka lebih memilih memarkirkan motor di pos retribusi, kemudian naik ojek atau jalan kaki ke puncak. Sebagian lainnya memilih tidak melanjutkan perjalanan dan balik arah untuk pulang. Kalau penduduk lokal sih jangan ditanya. Skill mereka di kondisi seperti ini sudah sangat bagus, termasuk untuk anak SD sekalipun. Asli, skill berkendara off road anak-anak kecil di sana bakal bikin minder rider yang jago touring kebut-kebutan di jalan raya. Hihihihi..

B29-Lumajang-Day-2-032

Tidak cukup merasa puas di Puncak B29, Adventuriderz mengajak teman-teman menuju ke Puncak B30. Sayangnya mereka lebih memilih tinggal di B29. Nggak bisa dipungkiri sob, perjalanan naik tadi memang menguras tenaga dan cukup membuat trauma. Mereka khawatir kondisi jalan sama seperti tadi atau malah lebih buruk lagi. Ya sudahlah, Adventuriderz ngegas berdua dengan Mas Angga menuju B30. Memang nggak disangka-sangka, jalan menuju B30 walaupun berupa jalur off road single track tapi cukup asyik. Nanjaknya nggak ekstrem dan kondisi jalan nggak becek juga. Jadi lah kami bisa memacu motor cukup kencang. Di speedometer Si Belalang Tempur sempat menyentuh 40 km/jam… Mantaaaap!

Kalau Puncak B29 masuk ke dalam wilayah Kabupaten Lumajang, Puncak B30 yang berada di ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut itu masuk ke dalam wilayah Kabupaten Probolinggo. So, untuk menuju kawasan Puncak B29, selain melewati Argosari (Lumajang) juga bisa lewat Sukapura (Probolinggo). Masih ada satu lagi jalur dari Ranu Pane yang langsung ke kawasan B29. Tapi tentu saja baik dari Sukapura maupun Ranu Pane didominasi jalur off road single track. Beda dengan lewat Argosari yang jalannya sudah cukup lebar. Paling tidak cukup untuk simpangan dua motor dari arah berlawanan.

Pemandangan alam di Puncak B30 nggak kalah menarik kok dibandingkan dengan di Puncak B29. Di Puncak B30 kita akan lebih dekat memandang Gunung Bromo, Gunung Batok, dan Cemoro Lawang, sementara di Puncak B29 lebih leluasa dalam memandang Savana Bromo. Kurang lebih mirip-mirip lah, namun dengan angle yang berbeda. Meskipun begitu, bisa menggapai puncak yang lebih tinggi tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Kapan lagi coba bisa naik ke ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut dengan motor?

Adventuriderz dan Mas Angga nggak lama berada di Puncak B30 karena tiba-tiba awan/kabut turun cukup cepat. Kami tentu nggak mau pandangan gelap karena kabut saat perjalanan pulang. Sesampainya di B29 lagi, kami bergegas turun menuju Desa Argosari. Niat awalnya Adventuriderz ingin lewat jalur B29-Ranu Pane yang full off road itu, kemudian dilanjutkan menuju Bromo. Namun melihat situasi dan kondisi yang kurang memungkinkan, rencana itu dibatalkan. Rute perjalanan pulang masih sama seperti saat berangkat, yaitu melewati Argosari, Senduro, Lumajang, Probolinggo, hingga sampai Surabaya.

B29-Lumajang-Day-2-029

Saat turun dari B29 menuju Argosari, kondisi jalan memang sudah agak kering. Cerobohnya, Adventuriderz memacu motor agak kencang di jalan lurus yang menurun. Motor kemudian oleng saat melewati cekungan bekas jalur motor. Daaaann… Braaaaaakk! Adventuriderz terguling ke kiri dengan kondisi kaki kiri tertimpa Si Belalang Tempur. Hmmm.. Mbah Wiro dan tukang ojeknya sudah jauh di depan, sedangkan Mas Respati, Mas Angga, dan Mas Fauzi terlihat masih tertinggal jauh di belakang. Mau nunggu bala bantuan masih agak jauh. Terpaksa berusaha mengangkat sedikit motor dengan tangan dan kaki kanan yang masih bisa leluasa bergerak untuk membebaskan kaki kiri yang terjepit body motor. Beruntung Adventuriderz pakai safety gear lengkap, mulai dari helm, jaket dengan protektor, sarung tangan berprotektor, celana yang juga dilengkapi protektor, serta riding boots yang cukup mumpuni. Nggak ada gejala sakit pada bagian kaki yang terkena benturan maupun tertindih motor karena safety gear bekerja dengan sempurna. Sedangkan pada bagian siku tangan kiri sedikit sobek, mungkin protektor pada jaket nggak pas saat terjadi benturan atau bisa jadi juga karena benturan terlalu kuat. Bagaimana dengan kondisi motor? Handlebar bengkok kang masss… Jadi Adventuriderz harus mengendarai motor yang sudah nggak sempurna ini sampai Surabaya.

Dari pengalaman Adventuriderz ke Puncak B29 dan Puncak B30 kemarin ada beberapa catatan yang mungkin bisa berguna bagi sobat-sobat sekalian yang ingin pergi ke sana dengan menggunakan motor. Apa saja?

  • Sebaiknya menghindari ke B29 di musim penghujan. Kalau mau nekat ke sana saat musim hujan, harus dipastikan kondisi jalan aman untuk dilewati.
  • Tidak disarankan menggunakan motor berkubikasi besar dengan bobot yang berat karena bakal lebih menguras tenaga. Apalagi kalau sampai terguling, bakal sangat repot untuk mendirikannya kembali. Motor-motor berfairing juga tidak dianjurkan dibawa ke B29. Sayang kalau mesin nyangkut. Idealnya sih pakai motor dual sport.
  • Pastikan motor dalam kondisi prima. Kalau perlu ganti kanvas kopling dulu sebelum ke sana. Percayalah, jalan menuju B29 sangat menguji ketahanan motor.
  • Persiapkan fisik dan mental, terutama saat musim hujan seperti sekarang. Jangan sampai kaget kalau sudah sampai di sana.
  • Ada baiknya tidak memasang side box maupun top box pada motor agar handling motor lebih gampang. Selain itu, mencium tanah adalah hal lumrah saat menuju ke B29, apalagi di musim hujan seperti saat ini. Nggak mau kan box remuk karena ndlosor?
  • Jangan segan-segan ngojek, jalan kaki, atau meminta joki membawakan motor kita kalau memang sudah nggak sanggup. Daripada kenapa-kenapa.
  • Homestay ada di Desa Argosari. Misalnya saja di Homestay Pak Wahyu yang dipatok dengan harga Rp 50.000 per orang. Lumayan buat istirahat setibanya di Desa Argosari. Kontak Homestay Pak Wahyu: 085258627882/085258780254/085236586000.
  • Sobat juga bisa mendirikan tenda di kawasan Puncak B29 untuk bermalam.

*Some images copyright by Mas Angga, Mas Fauzi, Mbah Wiro


Advertisements