Test Ride Royal Enfield Classic Chrome, Cocok Buat Riding Akhir Pekan

Royal-Enfield-Classic-Chrome-003

Beberapa waktu yang lalu Adventuriderz berkesempatan melakukan test ride sebuah motor classic yang punya nilai historis tinggi. Dia adalah Royal Enfield Classic Chrome. Mungkin banyak dari sobat sekalian yang belum begitu familiar dengan brand bernama Royal Enfield. Bagaimana sejarahnya? Yuk simak!

Royal Enfield merupakan sebuah brand yang berada di bawah naungan Enfield Cycle Company asal Inggris. Royal Enfield ini didaftarkan sebagai merk untuk motor, sepeda, mesin pemotong rumput, dan mesin stasioner yang dibuat oleh Enfield Cycle Company. Walaupun sudah berdiri sejak 1893, namun hari jadi Royal Enfield ditetapkan pada tahun 1901 saat Royal Enfield pertama kali memproduksi motor dengan kubikasi 239 cc.

Pada tahun 1955, Royal Enfield membuka cabang di India, tepatnya Chennai, dengan nama Enfield of India. Berdasarkan hukum di India, untuk membuka perusahaan di sana Royal Enfield harus menggandeng perusahaan lokal dan perusahaan lokal ini harus memiliki saham mayoritas alias lebih dari 50 persen. Saat ini Royal Enfield bekerja sama dengan Madras Motors. Nah, Enfield of India ini mendapatkan lisensi untuk merakit motor varian Royal Enfield Bullet 350 dengan berbagai komponen yang didatangkan langsung dari Inggris.

Sayangnya, pada tahun 1971 Royal Enfield yang berada di Inggris harus gulung tikar, sementara Enfield of India masih terus berlanjut dan membeli hak penggunaan nama Royal Enfield. Hingga kini Royal Enfield menjadi sebuah brand motor yang tua yang bermarkas di India dan masih tetap eksis sampai sekarang. Mulai bahas tentang Royal Enfield Classic Chrome yuk!

Styling

Salah satu produk yang Adventuriderz cicipi adalah Royal Enfield Classic Chrome yang merupakan turunan dari Royal Enfield Classic 500. Antara Royal Enfield Classic Chrome dan Royal Enfield Classic 500 bisa dikatakan identik. Desain dan mesin sama, bedanya Royal Enfield Classic Chrome didominasi oleh warna chrome yang mengkilat di sekujur body, membuatnya tampak simple, elegan, harmonis, dan sangat proporsional.

Penampilan Royal Enfield Classic Chrome memang benar-benar classic. Selain warna yang sangat menarik, model headlamp bulat, tangki bahan bakar besar, hingga lampu belakang membulat, membuatnya tampak sangat persis seperti motor-motor Royal Enfield di masa lampau. Asli desainnya sangat retro dan mungkin banyak yang nggak menyangka kalau ini adalah motor baru.

Begitu naik di atas Royal Enfield Classic Chrome, jok terasa empuk dan nyaman. Posisi berkendara juga sangat santai. Di dashboard terlihat instrumen yang sederhanya. Hanya ada penunjuk speedometer berukuran besar yang sangat mendominasi, indikator lampu sign, indikator netral, dan indikator bahan bakar yang akan berkedip jika bensin sudah hampir habis. Sangat sederhana!!

Royal-Enfield-Classic-Chrome-008

Performance

Royal Enfield Classic Chrome mengusung mesin silinder tunggal 499 cc berpendingin udara. Mesin dengan rasio kompresi 8,5:1 ini mampu memuntahkan tenaga hingga 27,2 bhp/5250 rpm dengan torsi maksimal sebesar 41,3 Nm/4000 rpm. Walaupun mengusung teknologi jadul, tapi ada juga teknologi modern yang disematkan pada motor ini, yaitu electronic fuel injection (EFI). Selain itu, Royal Enfield Classic Chrome menggunakan dua busi, seperti yang diaplikasikan pada motor-motor buatan India kebanyakan. Memang power mesin kecil kalau dibandingkan dengan motor 250 cc modern. Tapi siapa yang butuh power besar untuk menikmati motor classic seperti ini?

Saat mencoba Royal Enfield Classic Chrome, electric starter berhasil menghidupkan mesin dengan mulus. Suara yang keluar dari knalpot terdengar sangat khas. Meski hanya satu silinder, tapi Royal Enfield berhasil mengeluarkan suara Classic Chrome seperti layaknya motor bermesin V-twin. Keren abisss!! Coba masuk gigi satu dan jalan perlahan… Ternyata mesin 500 cc big single Classic Chrome tergolong jinak. Nggak ada tenaga yang meledak-ledak seperti moge modern. Asyiknya, setiap kali gas disenggol, torsi besar Classic Chrome siap keluar kapan saja di segala kondisi.

Bagi yang terbiasa menggunakan motor modern, getaran mesin yang sangat kuat di stang dan foot step merupakan pengganggu utama, terutama jika mesin dalam rpm tinggi. Aslii ngerasain getarannya bisa ndredeg.. Konon Royal Enfield memang sengaja tidak memasang engine balancer untuk mengurangi getaran, biar sensasinya persis seperti motor tua Royal Enfield di masa lalu. Tapi untuk melenyapkan getaran itu mudah saja. Cukup bermain di transmisi tinggi dengan rpm rendah, dijamin getaran akan berkurang drastis. Lho apa nggak ndut-ndutan? Nggak sama sekali mas bro. Torsinya yang gede siap menghentak kapan aja tanpa ada gejala drop atau minta turun gigi.

Berdasarkan spesifikasinya, Royal Enfield Classic Chrome bisa melesat dengan kecepatan maksimal 130 km/jam. Adventuriderz sendiri cuma bisa merasakan hingga 120 km/jam. Bukan karena track yang nggak cukup, tapi lebih ke arah kenyamanan. Getaran kembali terasa di kecepatan tinggi. Idealnya Classic Chrome dikendarai pada rentang kecepatan 60-100 km/jam. Enak banget lah buat santai-santai..

Handling

Awalnya Adventuriderz agak kaget ketika Classic Chrome mulai melesat. Kok terasa geal-geol? Apa bagian ban bermasalah? Ternyata nggak bro. Itu karena di bawah jok terdapat per tambahan. Lama-lama riding di atas jok seperti ini asyik juga dan nyaman banget. Di bagian depan Classic Chrome sudah ada sepasang suspensi teleskopik dan sepasang shock absorber di belakang. Keduanya bisa dikatakan cukup oke untuk meredam hentakan di jalanan yang nggak rata.

Classic Chrome memiliki bobot sekitar 190 kilogram, tapi nyatanya cukup mudah mengendalikan motor ini saat berbelok maupun selap-selip di antara kendaraan-kendaraan lain. Ya mungkin itu karena body motor yang nggak terlalu lebar, cukup slim malah. Nggak akan terasa kalau lagi di atas moge.

Bagimana dengan sistem pengereman? Classic Chrome dilengkapi dengan single disc brake 280 mm di bagian depan dan 153 mm drum brake alias tromol di bagian belakang. Adventuriderz sempat mencoba hard brake menggunakan rem depan maupun rem belakang. Hasilnya yahud kang mas.. Rem bekerja dengan sangat baik. Ya meskipun di belakang masih menggunakan rem tromol tapi sangat pakem. Josss!!

Conclusion

Di Indonesia, Royal Enfield Classic Chrome dijual dengan harga Rp 187 juta on the road. Tentu ini harga yang nggak murah untuk produk buatan India. Namun dengan harga segitu sobat bisa mendapatkan hal yang menarik. Mulai dari desain motor yang sangat retro dan cocok untuk nostalgia, riding quality yang bagus, mesin dengan torsi melimpah, jok yang nyaman, hingga suara yang sangat merdu. Desain retro memang menjadi jualan utama Royal Enfield Classic Chrome. Paling enak buat jalan-jalan santai di akhir pekan. Kalau ada yang kurang, menurut Adventuriderz sih getaran mesin itu tadi saja yang agak mengganggu.

Royal-Enfield-Classic-Chrome-007

Specification

  • Engine – 499cc, Single Cylinder, 4 Stroke, OHV, SI Engine, Air cooled
  • Ignition- Electronic Fuel Ignition
  • Compression Ratio – 8.5 : 1
  • Power – 27.2 bhp @ 5250 rpm
  • Torque – 41.3 Nm @ 4000 rpm
  • Transmission – 5 Speed
  • Top Speed – 130 kmph
  • Air Cleaner – Paper Element
  • Engine Oil Grade / Qty – 15W 50 API, SL Grade JASO MA
  • Tyres – 90/90/19 (Front), 120/80/18 (Rear)
  • Brakes – 280mm Hydraulic Disc Brake (Front), 153 mm Single Lead Internal Expanding (Rear)
  • Suspension – Telescopic, Hydraulic Damping, Stroke 130 mm (Front), Swing Arm With Gas Shock Absorbers, Stroke 80 mm (Rear)
  • Electrical System – 12 Volts – DC
  • Head lamp – 60 W / 55 W, HALOGEN
  • Battery – 14 AH
  • Tail Lamp – 21/5 W
  • E-Start Starter Motor – 0.9 KW, DENSO

Dimension

  • Width – 800 mm
  • Wheel Base – 1370 mm
  • Length – 2130 mm
  • Height – 1050 mm
  • Seat Height/ Saddle Height – 800 mm
  • Ground Clearance – 140 mm
  • Weight (Kerb) – 187 Kg (with 90% fuel and oil)
  • Fuel Tank Capacity – 13.5 liters

Advertisements