2 Rider, 3 Hari, 3 Provinsi: Jelajah Pesisir Pantai Selatan Jawa (Hari-1)


Jelajah-Pesisir-Selatan-Jawa-Kawasaki-KLX150L-dan-VIAR-Cross-X-200-SE-007

Perjalanan jelajah pantai selatan Pulau Jawa ini dimulai dari Semarang oleh dua orang rider dengan dua motor yang berasal dari dua brand berbeda, yaitu Kawasaki KLX150L yang dikendarai Adventuriderz dan VIAR Cross X 200 yang tunggangi oleh Pak Adhi.

Kami berangkat dari Semarang sekitar pukul 08.30 menuju Pantai Parangtritis di Bantul, Yogyakarta. Bisa dikatakan tidak ada yang istimewa dalam perjalanan dari Semarang menuju Pantai Parangtritis karena kami melalui jalan utama yang didominasi oleh aspal mulus. Kami tiba di Pantai Parangtritis sekitar pukul 11.30 dan istirahat sejenak di tepian pantai sebelum melakukan adventure yang sesungguhnya.

Dari Pantai Parangtritis, barulah kami berjalan ke arah timur menuju Pantai Kesirat. Tentu saja kami tidak melalui jalanan utama, melainkan jalanan kampung yang berada di sisi selatan Jalur Lintas Selatan (JLS) dan didominasi oleh jalan cor-coran yang banyak tanjakan, turunan, dan tikungan. Memang sebagian besar jalanan di pesisir selatan Yogyakarta ini sudah dicor hingga ke pelosok. Sesekali kami harus keluar ke JLS karena jalan perkampungan tidak tembus hingga ke tempat tujuan kami. Akhirnya kami sampai di Pantai Kesirat yang berupa tebing. Tidak ada pantai pasir putih di sini. Yang ada hanyalah tebing yang curam. Biasanya Pantai Kesirat digunakan sebagai tempat untuk memancing bagi penduduk setempat.

Beruntung sekali, sebelumnya Adventuriderz pernah blusukan ke Pantai Kesirat. Di sana ada jalan yang tembus langsung menuju destinasi berikutnya, Pantai Gesing. Kondisi jalan masih sama, berupa cor-coran yang masih nyaman untuk dilewati. Jarak antara Pantai Kesirat dan Pantai Gesing nggak jauh kok, cuma butuh waktu sekitar 10-15 menit sudah sampai. Berbeda dengan Pantai Kesirat yang belum diberdayakan secara maksimal, Pantai Gesing merupakan pantainya para nelayan dengan pemandangan cukup cantik. Banyak perahu nelayan beraneka warna berjejer rapi di tepi pantai yang berpasir putih.

Perjalanan berikutnya adalah menuju pantai-pantai yang sudah cukup familiar, seperti Pantai Ngobaran, Nguyahan, dan Ngerenehan. Dari Pantai Ngerenehan ternyata ada jalan tembus juga ke arah Pantai Baron, melewati jalan cor-coran di tengah perkebunan. Walaupun belum cukup menantang, tapi seru juga lho kondisi jalannya. Kami bisa geber gas dengan maksimal hingga sampai ke Pantai Baron dan Pantai Kukup. Kami nggak mampir di kedua pantai itu karena motor nggak bisa masuk hingga tepi pantai. Jadi ya langsung tancap gas ke Pantai Krakal. Baru lah di sini kami berhenti untuk foto-foto di tepi pantai. Pantai Sundak dan Pantai Indrayanti pun kami lewati bagitu saja.

Jelajah-Pesisir-Selatan-Jawa-Kawasaki-KLX150L-dan-VIAR-Cross-X-200-SE-003

Hal yang cukup menantang terjadi saat kami menuju Pantai Ngetun. Dari jalan aspal, jarak menuju Pantai Ngetun sekitar 3 kilometer. Tidak seperti menuju pantai-pantai lain yang sudah berupa cor-coran, jalan menuju Pantai Ngetun masih berupa jalan makadam yang sangat bumpy. Namun kami tidak pernah memacu motor dengan pelan hingga tangan seperti mati rasa menahan goncangan. Ketika sudah dekat dengan pantai, kondisi jalan berubah cukup buruk, benar-benar becek, berlumpur, dan sangat licin. Tidak begitu lama jalanan yang cukup rusak itu kami lalui dan kami tiba juga di Pantai Ngetun dengan sedikit ngos-ngosan.

Pantai Ngetun merupakan pantai yang masih sepi pengunjung. Pantainya sih lumayan kecil, tapi memiliki pasir putih yang cantik. Konon katanya Pantai Ngetun menjadi salah satu tempat favorit bagi penyu saat bertelur. Selain itu, terdapat pula hewan-hewan lain yang hidup di sekitar Pantai Ngetun, seperti ubur-ubur dan kelomang. Kalau Adventuriderz menilai, sepinya Pantai Ngetun ini terjadi karena akses jalan yang begitu buruk. Apalagi kalau musim hujan, bakal jadi nightmare!

Hari sudah semakin sore, kami pun melanjutkan perjalanan ke pantai berikutnya, yaitu Pantai Timang. Sudah kenal dengan Pantai Timang? Pantai ini sangat terkenal dengan gondolanya yang digunakan oleh para pemancing udang. Sama seperti jalan menuju Pantai Ngetun, jalan menuju Pantai Timang didominasi oleh makadam, meskipun kondisinya jauh lebih baik. Begitu sampai, kami langsung membawa motor kami naik ke atas bukit. Beruntung dua motor ini sanggup naik ke bukit yang lumayan tinggi dan penuh bebatuan besar itu, sehingga kami nggak perlu jalan jauh saat akan menuju ke gondola. Kami menyaksikan matahari tenggelam dengan cantik di Pantai Timang. Kami menyempatkan diri istirahat sejenak di sebuah warung dekat gondola sembari memesan minuman dingin untuk mengilangkan rasa dahaga.

Jelajah-Pesisir-Selatan-Jawa-Kawasaki-KLX150L-dan-VIAR-Cross-X-200-SE-005

Hari sudah gelap, tapi masih ada beberapa pantai lagi yang menjadi target kami. Di tengah kegelapan kami nekat lanjut ke Pantai Jogan. Nah, dari Pantai Timang ke Pantai Jogan ini juga ada jalan pintas. Kondisinya sama, didominasi makadam, sesekali berlumpur dan licin, di tengah perkebunan yang sudah tidak ada orang sama sekali. Adventuriderz pernah melewati jalur ini, jadi berjalan di depan. Saat mencoba memacu motor dengan kecepatan tinggi, Adventuriderz nyaris terperosok jatuh karena terpeleset saat menghantam batu. Kami hanya berupaya secepat mungkin mencapai Pantai  Jogan. Sampai di Pantai Jogan pun kami hanya berhenti sejenak, kemudian lanjut ke Pantai Siung yang sudah sangat sepi seperti tidak ada kehidupan. Padahal Pantai Siung bisa dikatakan sebagai pantai yang paling ramai di sekitar sini.

Terjebak malam seperti ini kami agak bingung. Di hari itu, tujuan akhir kami sebenarnya adalah Pacitan. Sayangnya saat hari sudah malam kami baru sampai di Pantai Siung, Gunungkidul. Pak Adhi mengajak melanjutkan perjalanan menuj Pacitan. Di tengah perjalanan kami berhenti istirahat di masjid. Di situ kami berhitung ulang, apakah akan melanjutkan perjalanan ke Pacitan atau bermalam di Gunungkidul. Adventuriderz coba cek GPS, jarak ke Pacitan masih 75 kilometer. Artinya, dalam kondisi gelap seperti itu paling tidak butuh waktu sekitar 2 jam. Sementara itu,  penginapan paling dekat dari posisi kami saat itu adalah di Kota Wonosari dengan jarak 35 kilometer dan Pantai Indrayanti dengan jarak 20 kilometer.

Pak Adhi sepertinya sudah cukup kelelahan setelah beberapa jam menghajar jalan makadam yang sangat tidak bersahabat untuk motor dan ridernya. So, kami memutuskan kembali ke Pantai Indrayanti dan melanjutkan perjalanan ke arah Pacitan keesokan harinya. Pantai Indrayanti memang menjadi tempat bermalam yang sangat ideal karena banyak penginapan dengan tarif murah di sini.


Advertisements