2 Rider, 3 Hari, 3 Provinsi: Jelajah Pesisir Pantai Selatan Jawa (Hari-2)


Jelajah-Pesisir-Selatan-Jawa-Kawasaki-KLX150L-dan-VIAR-Cross-X-200-SE-016

Di hari kedua, kami melanjutkan perjalanan setelah malam harinya bermalam di sebuah penginapan di Pantai Indrayanti. Kami akan kembali menjelajahi pantai-pantai eksotis di sebelah selatan Pulau Jawa. Destinasi pertama kami pagi itu adalah Pantai Watu Lumbung yang masih dalam wilayah Kabupaten Gunungkidul, tepatnya Kecamatan Girisubo. Perjalanan ke pantai ini sudah cukup menantang karena kami lagi-lagi menghadapi kombinasi jalan berupa cor-coran dan makadam yang naik-turun dan berliku, sangat tidak nyaman untuk high speed. Tapi apa daya Pak Adhi yang berada di depan terus memacu VIAR Cross X 200 miliknya dengan kencang. Adventuriderz yang menggunakan ‘Si Belalang Tempur’ Kawasaki KLX150L tentu nggak mau ketinggalan. Menjelang sampai di lokasi, jalan pun berubah menjadi jalur off road yang berlumpur. Seru banget mas bro!! Dan kami pun sampai di Pantai Watu Lumbung dengan pemandangan sangat memukau.

Kenapa kok disebut dengan nama Pantai Watu Lumbung? Ntahlah, mungkin karena di pantai ini terdapat bebatuan karang yang bentuknya unik seperti sebuah lumbung. Kami hanya bisa memarkirkan motor di atas bukit, sedangkan untuk sampai di tepi pantai harus menuruni jalan setapak. Kami sengaja hanya memandang Pantai Watu Lumbung dari atas saja sudah cukup puas. Kami tidak bisa terlalu berlama-lama karena perjalanan kami masih panjang dengan target mencapai Pacitan di sore hari.

Pantai Sadeng adalah tujuan kami berikutnya. Nggak ada yang cukup istimewa dalam perjalanan ke Pantai Sadeng karena hanya melewati jalanan utama yang berupa aspal mulus. Kalau sobat belum tahu, Pantai Sadeng merupakan pantai nelayan terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pantai ini memiliki pelabuhan kapal nelayan yang cukup besar dengan fasilitas paling lengkap. Kami hanya berhenti sejenak saja di Pantai Sadeng untuk melepas dahaga di warung. Setelah itu langsung tancap gas mengarah ke pesisir selatan Jawa Tengah.

Dari Pantai Sadeng ada kok jalan pintas menuju Pantai Nampu di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Tentu saja kondisi jalan berupa makadam yang sangat terjal dan menyiksa mesin motor. Tapi kondisi jalan yang sepi membuat kami bebas menarik gas dalam-dalam. Sayangnya, masih berada di sebuah desa paling ujung timur Gunungkidul yang masih masuk ke dalam Kecamatan Girisubo, ban motor Pak Adhi bocor. Kami terpaksa mencari tukang tambal ban terlebih dahulu. Luar biasanya, kami disambut dengan hangat oleh masyarakat di desa ini. Bahkan kami yang hanya punya kepentingan menambal ban pun diberi minuman teh manis hangat oleh warga. Terlihat sekali warga di sini begitu guyub. Mereka banyak bercengkerama di luar rumah, anak-anak kecil pun bermain di luar. Jauh berbeda dengan kondisi masyarakat di perkotaan pastinya. Sinyal HP pun sangat sulit didapatkan di sini.

Kelar tambal ban, kami melanjutkan perjalanan ke arah Paranggupito di Kabupaten Wonogiri, dengan target Pantai Nampu. Kondisi jalan melewati pesisir selatan ini memang nggak begitu sulit. Bisa dikatakan kombinasi antara light off road (makadam) dan aspal. Tapi itu sudah cukup membuat tangan mati rasa menahan getaran di stang dalam kecepatan yang lumayan tinggi. Nggak terasa kami tiba juga di Pantai Nampu. Sebuah kebanggaan tersendiri karena kami sudah meninggalkan Kabupaten Gunungkidul yang begitu panjang, terjal, dan menguras tenaga.

Jelajah-Pesisir-Selatan-Jawa-Kawasaki-KLX150L-dan-VIAR-Cross-X-200-SE-020

Bagaimana dengan Pantai Nampu? Pantai ini bisa dikatakan sangat cantik dengan banyak spot yang bisa dieksplor. Di dalam satu area yang luas terdapat banyak sekali pemandangan yang memikat dan menyejukkan mata. Mulai dari pantai dengan pasir putih yang sempit, aliran sungai yang bermuara ke laut membentuk seperti air terjun, hingga pantai pasir putih yang sangat luas. Lengkap ada di sini. Dijamin deh akan berdecak kagum saat melihat pemandangan yang luar biasa ini.

Di Pantai Nampu kami berbincang dengan tukang parkir yang ada di sana, bertanya mengenai jalur off road ke arah Pantai Klayar di Pacitan. Dan kami pun diberi tahu mengenai jalur-jalur off road di sana, bahkan kalau mau nekat bisa terus menelusuri bukit menggunakan jalur single track hingga ke Pantai Klayar. Karena kami hanya berdua, jadi nggak akan nekat melewati jalur single track itu. Kami hanya melewati sebagian kecil jalur off road hingga ketemu lagi dengan jalan raya yang sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Pacitan. Di jalur itu kami sempat menemukan jalan berlumpur, nggak ada bedanya seperti rawa. Itu pun sudah cukup menguras tenaga dan memaksa kami berhenti di warung untuk istirahat sekalian makan siang.

Perut sudah kenyang, waktunya menatap Pantai Klayar yang sudah tidak jauh lagi. Kondisi jalan aspal yang tergolong mulus menemani perjalanan kami hingga ke Pantai Klayar. Pantai Klayar merupakan salah satu pantai paling terkenal di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Pantai ini memang cantik dengan pasir putih yang bersih. Nggak heran pengunjung Pantai Klayar cukup ramai. Melihat beberapa orang bermain ATV (All Terrain Vehicle) di tepi pantai, kami tentu nggak mau kalah. Kami ikut menelusuri pasir putih di bibir pantai dengan motor kami. Sesekali deburan ombak menghantam motor membuat riding di tepi pantai semakin seru. Yang paling merepotkan adalah saat akan keluar dari bibir pantai. Pasir putih memiliki karakter yang berbeda dengan pasir hitam. Pasir putih yang kering membuat ban motor susah bergerak. Semakin digas, ban motor bukannya maju tapi malah menggali semakin dalam. Agar motor bisa berjalan, mau nggak mau harus turun mendorong motor. Selain mengeksplor bibir pantai, di Pantai Klayar kami juga menaiki sebuah bukit dengan pemandangan menghampar luas, sangat cantik! Kita bisa dengan bebas memandang laut selatan dari bukit ini.

Jelajah-Pesisir-Selatan-Jawa-Kawasaki-KLX150L-dan-VIAR-Cross-X-200-SE-025

Oh ya, kami juga sempat mampir ke Pantai Ngiroboyo yang persis berada di sebelah Pantai Klayar. Pantai ini juga tergolong menarik lho sob. Memang pasirnya nggak putih seperti Pantai Klayar, melainkan berwarna hitam. Tapi di Pantai Ngiroboyo ini merupakan tempat bermuaranya Sungai Maron. Nggak sedikit pengunjung yang datang ke Pantai Ngiroboyo menggunakan perahu dari Sungai Maron. Beruntung kami tiba di Pantai Ngiroboyo saat laut surut, sehingga kami bisa riding di bibir pantai dengan bebas, bahkan mencapai tepi aliran Sungai Maron yang bermuara di Pantai Ngiroboyo.

Dari Pantai Ngiroboyo kami terus berjalan ke arah timur. Kami sempat melewati tepi Sungai Maron yang menjadi titik awal perahu-perahu wisata menuju Pantai Ngiroboyo. Kami selanjutnya menyeberangi Sungai Maron melalui jembatan yang ada menuju pantai-pantai lainnya. Sangat banyak pantai-pantai yang kami temukan. Umumnya adalah pantai-pantai kecil yang masih sangat sepi atau malah tidak ada pengunjungnya sama sekali. Kombinasi jalan aspal yang hancur, makadam, hingga jalan tanah di tengah kebun-kebun warga yang sangat sepi mengiringi perjalanan kami ke arah timur, hingga pada satu titik kami bertemu dengan Pantai Srau. Kalau boleh menilai, Pantai Srau juga tergolong salah satu pantai paling cantik di Pacitan. Area Pantai Srau tergolong sangat luas dan kami bisa melihat berbagai spot yang begitu memikat. Pilihan kami untuk memandang Pantai Srau tentu saja dengan membawa motor kami menaiki bukit yang terjal dan penuh bebatuan besar. Mesin motor dan suspensi benar-benar diuji dalam perjalanan ini. Jika berhasil, sudah pasti mendapatkan pemandangan yang tidak biasa.

Jelajah-Pesisir-Selatan-Jawa-Kawasaki-KLX150L-dan-VIAR-Cross-X-200-SE-028

Hari sudah semakin sore, kami bergegas meninggalkan Pantai Srau menuju Pantai Teleng Ria yang tidak jauh dari Kota Pacitan. Saat menuju Pantai Teleng Ria ini sebagian besar jalan yang dilewati berupa jalan aspal yang mulus, terutama Jalur Lintas Selatan (JLS). Nggak ada yang cukup istimewa. Begitu sampai di Pantai Teleng Ria, kami sekali lagi riding menelusuri pasir hitam di bibir pantai yang super panjang. Karakter pasir hitam berbeda dengan pasir putih. Kalau pasir putih bikin ban ambles, pasir hitam cenderung padat. Meskipun pasir gembur pun nggak bikin ban motor ambles kok. Asli enak banget riding di bibir Pantai Teleng Ria yang jaraknya berkilo-kilo meter hingga mentok ketemu dengan muara sungai. Tinggal nunggu aja parts motor karatan kalau nggak segera dicuci karena kerendem air laut terus. Puas bermain-main, kami mencari penginapan di sekitar Pantai Teleng Ria. Yups, kami memutuskan beristirahat di Pacitan mas bro. Badan sudah remuk nggak karuan setelah riding seharian. Di Pantai Teleng Ria banyak kok penginapan bagus dengan harga yang cukup murah. Tentu itu jadi tempat yang sangat ideal untuk beristirahat.


Advertisements