Riding Santai ke Coban Pelangi via Padang Savana Bromo

Bromo-Savana-Coban-Pelangi-011

Sudah pernah mendengar nama Coban Pelangi? Kalau belum bakal Adventuriderz jelaskan nih sob. Coban Pelangi adalah sebuah air terjun cantik yang masuk dalam wilayah Desa Gubukklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Jaraknya kurang lebih sekitar 35 kilometer kalau ditempuh dari Kota Malang ke arah Tumpang/Ranu Pane.

Nah, sekitar dua minggu yang lalu Adventuriderz riding santai saja ke Coban Pelangi berboncengan sama partner in crime. Adventuriderz memang sudah beberapa kali lewat Coban Pelangi, tapi nggak sekalipun berhenti mampir. Tentu saja kami nggak lewat jalur Surabaya-Malang kemudian ke arah Tumpang. Biar lebih menarik, kami memilih lewat Bromo, yang merupakan destinasi wisata paling memikat di Jawa Timur.

Pukul 04.30 pagi Adventuriderz sudah mulai mengajak ‘Si Belalang Tempur’ Kawasaki KLX150L keluar Kota Surabaya, mengarah ke Sidoarjo dan Pasuruan. Jalur yang kami lalu ini sama persis saat ‘Riding Tektok Surabaya-Bromo Dalam Hitungan Jam‘ beberapa waktu lalu, yaitu masuk ke kawasan Bromo melalui Pasuruan-Warungdowo-Puspo-Tosari. Di Pasuruan sempat berhenti sebentar di SPBU untuk mengisi bahan bakar. Yups, SPBU terakhir memang hanya ada di Kota Pasuruan saja. Setelah naik ke arah Pasrepan, Warungdowo, Ranggeh, Puspo, Tosari, hingga Bromo nggak ada lagi SPBU. Paling mentok dapat bensin eceran.

Kenapa kok memilih jalur ini untuk ke Bromo? Alasan pertama, tentu saja jalur inilah yang paling dekat kalau dari Surabaya. Jalurnya memang sepi, tapi kondisi jalannya tergolong sangat mulus. Meskipun didominasi oleh jalan aspal yang mulu, tapi perjalanan tetap seru kok karena sepanjang jalan penuh dengan tikungan-tikungan tajam dan tanjakan yang cukup tinggi. Banyak yang tidak merekomendasikan lewat jalur ini saat ke Bromo karena rawan begal. Namun bagi Adventuriderz ya bismillah saja. Kalau memang niatnya baik ya semoga saja mendapatkan perlindungan.

Sekitar pukul 06.30 kami sudah turun dari Gunung Penanjakan dan sampai di lautan pasir Bromo. Kami berhenti sejenak di lautan pasir ini bersama-sama dengan rombongan rider yang sangat ramai di akhir pekan. Berbagai jenis motor rasanya tumplek blek di lautan pasir ini. Mulai dari KLX150, Z250, Z250SL, Verza, CB150R, Vixion, Byson, Vario, BeAT, Mio, hingga Vespa tua pun berduyun-duyun melewati lautan pasir menuju kawah Gunung Bromo. Memang kendaraan paling ideal di Bromo adalah motor trail. Itu terlihat dari para rider KLX150 yang umumnya melesat begitu cepat, sedangkan motor-motor lainnya sering kali terjerembab maupun jatuh di pasir yang gembur.

Pagi itu sungguh sangat dingin, sementara lautan pasir dipenuhi oleh kabut, sehingga jarak pandang menjadi terbatas. Itu belum termasuk debu-debu yang berhamburan saat dilewati oleh mobil-mobil 4WD sewaan yang dinaiki oleh wisatawan. Karena perut sudah mulai keroncongan, Adventuriderz menggeber Si Belalang Tempur dengan cepat melewati lautan pasir menuju ke arah Cemowo Lawang, pintu masuk Bromo dari sisi Probolinggo. Adventuriderz dan partner in crime memang nggak mampir ke kawah Gunung Bromo karena sudah beberapa kali ke sana. Di Cemoro Lawang pilihan makanannya lebih banyak, tapi bakso panas tetap menjadi pilihan utama pagi itu.

Bromo-Savana-Coban-Pelangi-005

Setelah cuaca cerah, kabut pagi menghilang, Adventuriderz kembali mengajak Si Belalang Tempur bermain-main di lautan pasir. Tujuannya adalah ke Pasir Berbisik, sebuah padang pasir yang sangat luas dan kadang menimbulkan suara bisikan saat ada angin kencang berhembus. Sudah tentu kami berhenti sejenak untuk mengambil foto. Puas di Pasir Berbisik, kami melanjutkan perjalanan ke Padang Savana Bromo atau yang tidak jarang disebut dengan Bukit Teletubbies. Ya, walaupun ban Si Belalang Tempur sudah lumayan gundul, tapi syukurnya bisa dengan mudah melewati lautan pasir yang menggembur karena masuk musim kemarau. Kami berhenti cukup lama di Padang Savana untuk menikmati keindahan alam yang luar biasa ini, sebuah tempat paling hijau di sekeliling Gunung Bromo… Cantiknyeee!!

Bromo-Savana-Coban-Pelangi-015

Hari sudah semakin siang, Si Belalang Tempur diarahkan dari Padang Savana menuju ke Jemplang. Memang kondisi jalan di sini rusak parah dan menanjak. Kalau nggak begitu paham teknik riding yang tepat di kondisi seperti ini, dijamin dorong itu adalah hal yang biasa. Saran Adventuriderz, seburuk apapun kondisi jalannya, usahakan motor bisa melesat dengan cepat. Nggak perlu ngebut sih, tapi gunakan gigi transmisi rendah dengan rpm tinggi, plus jangan sekali-sekali berhenti di tengah tanjakan. Usahakan jalan terus sampai tanjakan terlewati. Kalau ada kendaraan lain yang sedang melewati tanjakan, tunggu dulu sampai lolos, barulah kita lewat. Intinya gas terus, jangan sampai berhenti di tengah tanjakan! Tanjakan paling berat menjelang persimpangan Jemplang. Selain tanjakannya tinggi, kondisi jalannya juga sangat buruk. Tetap usahakan jangan sampai berhenti di tengah tanjakan kalau nggak mau mesin motor loss power.

Dari Jemplang ke Coban Pelangi sudah nggak jauh lagi. Perjalanan hanya turun saja, nggak ada tanjakan. Apa itu lebih mudah? Ternyata nggak tuh bro! Mungkin efek turunan yang lumayan curam, kaki Adventuriderz terus-menerus menginjak rem. Efeknya, rem kepanasan dan terjadi rem blong. Padahal Adventuriderz sudah cukup berhati-hati menggunakan rem depan maupun belakang, dan cukup banyak dibantu dengan engine brake. Namun nyatanya rem belakang tetap mengalami kegagalan. Rem kembali normal saat sudah dalam kondisi dingin, waktu itu sih kami sudah sampai di Coban Pelangi.

Untuk masuk ke Coban Pelangi ini nggak perlu bayar mahal mas bro. Adventuriderz sih nggak begitu ingat. Tapi sepertinya buat tiket masuk berdua plus parkir motor nggak sampai Rp 15.000. Dari parkiran ke lokasi air terjun masih cukup jauh. Harus berjalan kaki melewati jalan yang sudah disediakan sejauh kurang lebih 800 meter. Suhu udara di sini begitu sejuk, sekeliling jalan banyak pepohonan yang rimbun. Ya memang Coban Pelangi ini cocok untuk berwisata di akhir pekan. Sebaiknya persiapkan fisik yang prima saat liburan ke Coban Pelangi. Soalnya kita mesti menempuh jalan kaki 1,6 kilometer PP, dengan kondisi jalan nanjak saat keluar. Kalau pas masuknya sih santai, karena jalan menurun. Sayangnya saat kami sampai di lokasi air terjun, matahari sedang tidak muncul karena tertutup mendung, sehingga efek pelangi yang ada di Coban Pelangi nggak bisa kami lihat.

Bromo-Savana-Coban-Pelangi-020

Kami agak lama berada di Coban Pelangi, tapi setelah merasa cukup berada di sana, ya waktunya pulang. Jalur pulang sudah bisa dipastikan berbeda dengan saat berangkat. Jika berangkatnya dari Surabaya lewat Pasuruan, Tosari, Bromo, dan Jemplang, maka perjalanan pulang ini lewat Tumpang, Malang, Lawang, Pandakan, Porong, Sidoarjo, hingga tiba kembali di Surabaya sekitar pukul 17.00. Artinya cuma 12 jam saja kami jalan-jalan.


Advertisements