Mudik Yuk: 1.100 Km Surabaya-Lampung Dalam 24 Jam

Mudik-28-29-Juni-2015-003

Well, sebenarnya perjalanan mudik sudah Adventuriderz lakukan, dengan keberangkatan dari Surabaya pada 28 Juni 2015 dan tiba di Lampung pada 29 Juni 2015. Tapi Adventuriderz baru sekarang bisa update perjalanan mudik di blog ini karena berbagai kendala. Pertama karena kelelahan, sedangkan alasan kedua karena sinyal ponsel yang memang kurang bagus.

Okeee… Pada 28 Juni 2015 pukul 05.30 WIB Adventuriderz start dari Kota Pahlawan. Sesuai dengan rencana, rute yang diambil adalah melalui Jalur Pantura. Dari Surabaya, Adventuriderz membawa ‘Si Belalang Tempur’ Kawasaki KLX150L yang dipenuhi dengan side bags, duffel bag, dan tank bag meluncur menuju ke arah Gresik, Lamongan, Tuban, Rembang, Kudus, Demak, hingga Semarang. Beruntung sekali pagi itu bertepatan dengan hari Minggu sehingga perjalanan juga sangat lancar, nggak ada kemacetan sama sekali. Bahkan dari Surabaya ke Semarang yang berjarak sekitar 320 kilometer bisa ditempuh dalam waktu 5 jam saja.

Bisa dikatakan Adventuriderz nggak berhenti istirahat selama perjalanan dari Surabaya hingga Semarang. Paling-paling berhenti cuma untuk keperluan isi bensin saja. Selebihnya gas terus. Adventuriderz baru berhenti istirahat sejenak ketika mengisi bahan bakar di sebuah SPBU yang berada di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, setelah menempuh perjalanan sejauh 370 kilometer. Dari Kendal itu perjalanan terus dilanjutkan menuju Pekalongan, Pemalang, Tegal, hingga Cirebon. Lalu lintas sepanjang perjalanan memang cukup sepi, hanya berupa jalan lurus dan mulus yang sebenarnya sangat membosankan.

Sekitar pukul 15.00 WIB, Adventuriderz sudah sampai di Cirebon. Total sudah menempuh jarak sekitar 550 kilometer. Artinya apa? Cirebon merupakan pertengahan antara Surabaya dan Lampung. Awalnya Adventuriderz berencana bermalam di Kota Cirebon setelah menempuh setengah perjalanan. Namun, waktu masih lumayan siang dan badan masih segar bugar, membuat Adventuriderz memutuskan untuk jalan terus, paling tidak sampai di Jakarta baru mencari penginapan.

Dalam perjalanan dari Cirebon ke arah Indramayu, Losarang, Patrol, dan Cikampek ini menjadi tantangan tersendiri, karena jalanan sudah banyak dipenuhi oleh truk-truk berukuran besar dan panjang. Butuh konsentrasi yang sangat tinggi lah. Menjelang sampai di Cikampek, tepatnya di sebuah SPBU di Ciasem, Subang, Jawa Barat, Adventuriderz kembali berhenti karena waktu magrib telah tiba. Saatnya istirahat agak lama dan mengisi perut yang sudah sejak dini hari belum diisi.

Perjalanan berikutnya bisa dikatakan ramai lancar, melewati Cikampek yang sejak setahun lalu lewat masih saja banyak jalan yang tidak rata. Kondisi malam hari yang sudah gelap semakin menyulitkan perjalanan. Nah, Adventuriderz sendiri bertekat untuk terus melanjutkan perjalanan hingga mencapai Jakarta yang mestinya sudah tidak jauh lagi. Sayangnya, perjalanan benar-benar tersendat ketika sampai di Cikarang maupun keluar dari Kota Bekasi. Yups, Adventuriderz meninggalkan Kota Bekasi menuju Jakarta melewati Jalan Raya Kalimalang yang memang begitu sempit dan padat. Dari situ kemudian tembus ke Cawang, dan melintasi tengah Kota Jakarta di Jalan Gatot Subroto. Lagi-lagi di sini Adventuriderz belum merasa kelelahan. Nggak tahu kenapa bisa begitu. Badan masih segar bugar, jadi diputuskan untuk lanjut ke arah Tomang, selanjutnya belok kiri ke Jalan Daan Mogot menuju Tangerang hingga Pelabuhan Merak.

Adventuriderz sampai di Kota Tangerang sekitar pukul 22.00 WIB. Memang cukup lama menembus antara Cikampek hingga Tangerang karena kemacetan di Bekasi yang lumayan mantap. Di Tangerang tentu saja berhenti sejenak untuk kembali refuel bahan bakar, nggak lupa mengisi kembali perut yang sudah mulai kosong. Sekitar pukul 23.00 WIB Adventuriderz kembali melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Merak, Banten. Rute inilah yang menurut Adventuriderz lumayan menantang. Kenapa? Penerangan begitu minim, banyak gundukan-gundungan sambungan beton jalan yang tidak terlihat, ditambah lagi tidak ada marka jalan. Ini terjadi sepanjang perjalanan dari Cikupa-Balaraja-Serang. Tentu membutuhkan konsentrasi tinggi agar tidak kena jebakan betmen.

Mudik-28-29-Juni-2015-012

Melihat kondisi jalan yang seperti itu, Adventuriderz sengaja tidak memacu gas dalam-dalam. Akhirnya tiba juga di Pelabuhan Merak sekitar pukul 01.30 WIB pada 29 Juni 2015. Langsung deh antre membeli tiket kapal ferry senilai Rp 49.000 per motor. Ternyata sudah naik dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 39.000. Dari loket, Adventuriderz di arahkan menuju dermaga dua untuk naik kapal yang sudah siap berangkat. Kebetulan dapat kapal yang memang nggak besar, tapi juga sepi penumpang. Kebanyakan hanya truk-truk saja yang naik ke kapal ini. Khusus untuk motor diarahkan naik ke lantai dua kapal. Setelah parkir, Adventuriderz menuju ruang lesehan biar bisa tidur selonjoran. Cuma terlelap sekejap saja sudah ada pengumuman dari kru kapal agar penumpang bersiap-siap turun karena kapal akan segera bersandar. Wah nggak nyangka sama sekali dalam waktu dua jam pelayaran, kapal sudah bersandar di dermaga enam Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Padahal biasanya bisa tiga jam, bahkan lebih.

Bersandar di Pelabuhan Bakauheni pukul 04.00 WIB dini hari sebenarnya membuat Adventuriderz agak mikir, mau langsung lanjut atau nunggu matahari terbit? Buka apa-apa sih sob, perjalanan menuju kampung Adventuriderz di Kecamatan Jabung, Lampung Timur, memang dikenal rawan begal. Tapi setelah dipikirkan memang nanggung, satu jam perjalanan lagi sampai di rumah. Bersyukur sisa perjalanan yang cuma 50-60 kilometer itu cukup lancar. Melewati Jalan Lintas Timur Sumatera, kondisi jalan memang sangat gelap. Hanya ada beberapa truk yang terlihat lewat. Namun karena sudah masuk waktu subuh, banyak juga warga yang baru berangkat maupun pulang dari masjid. Selain itu, nggak sedikit pula anak-anak muda yang jalan-jalan, jogging di pagi hari. Akhirnya Adventuriderz tiba di rumah pukul 05.00 WIB atau menempuh perjalanan selama hampir 24 jam. Memang agak gila sih ya. Adventuriderz sendiri nggak pernah berpikir bisa menempuh perjalanan nonstop sejauh itu. Sebaiknya jangan ditiru yah…

Oh ya, jarak total yang ditempuh nggak sampai 1.100 kilometer kok. Tepatnya adalah sejauh 1.070 kilometer. Ya nyaris aja sih… Itu nggak ada nyasar-nyasarnya sama sekali. Nggak ada rute yang berputar-putar juga. Sedangkan untuk konsumsi bahan bakar, dalam perjalanan jarak jauh ini Si Belalang Tempur memang jauh lebih boros. Total menghabiskan sekitar 37,5 liter bahan bakar. Dengan menggunakan Pertamax, kalau diuangkan ya habis Rp 350.000 lah untuk bahan bakar aja. Semoga bisa menjadi pertimbangan…


Advertisements