National Park Explorer Hari-3: Jalur Menantang ke Ciptagelar (TNGHS)

National-Park-Explorer-Hari-3-004

Hari ini, Minggu (9/8/2015), merupakan hari ketiga dalam ekspedisi National Park Explorer yang dilakukan oleh Adventuriderz. Setelah dua hari sebelumnya berkutat dengan Taman Nasional Ujung Kulon di Kabupaten Pandeglang, Banten, di hari ketiga ini Adventuriderz pergi ke destinasi yang kedua, yaitu Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang masuk dalam wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Seperti apa serunya perjalanan ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak?

Taman Nasional Gunung Halimun Salak merupakan sebuah taman nasional yang sangat luas. Adventuriderz juga bukanlah seorang pendaki yang ingin menaklukkan puncak Gunung Halimun maupun Gunung Salak. Dalam perjalanan kali ini Adventuriderz hanya ingin berkunjung ke sebuah perkampungan adat bernama Kasepuhan Ciptagelar yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Bagi yang belum tahu tentang Ciptagelar, ini adalah perkampungan bagi masyarakat sub-etnis Sunda yang tinggal di sekitar Gunung Halimun. Sebenarnya kasepuhan atau kampung tua di Gunung Halimun nggak cuma Ciptagelar saja, melainkan masih ada beberapa kasepuhan lain yang tersebar di wilayah Sukabumi, Lebak, dan Bogor. Kasepuhan di Gunung Halimun sering pula disebut dengan Kasepuhan Banten Kidul. Menariknya, berbagai kasepuhan di Gunung Salak, termasuk Ciptagelar, masih mempertahankan adat istiadat lama dalam kehidupan sehari-hari. Masing-masing kasepuhan juga dipimpin oleh seorang ketua adat yang dipanggil dengan sebutan Abah. Misalnya saja Kasepuhan Ciptagelar yang dipimpin oleh Abah Ugi. Beliau mewarisi pimpinan dari ayahnya, Abah Anom, yang sudah meninggal sejak tahun 2007.

Nah, Adventuriderz memulai perjalanan ke Ciptagelar dari Pelabuhan Ratu dengan waktu keberangkatan sudah agak siang, sekitar pukul 09.30 WIB. Untuk mencari jalan menuju Ciptagelar sebenarnya cukup mudah. Dari Pelabuhan Ratu, Adventuriderz riding ke arah Cisolok atau Sawarna. Inna Samudra Beach Hotel merupakan salah satu penanda yang paling mudah. Kalau sudah menemukan Inna Samudra Beach Hotel, tidak jauh dari sana ada persimpangan ke kanan dengan petunjuk menuju PTPN VIII Pasir Badak. Tinggal ambil jalur itu dan kemudian mengikutinya terus. Kalau masih bingung, nggak ada salahnya juga kok bertanya kepada warga. Oh ya, warga di Pelabuhan Ratu nggak semuanya ngerti tentang Ciptagelar. Misalnya saat bertanya kepada warga mereka nggak tahu Ciptagelar, coba tanyakan dengan kata kunci lain yang seharusnya cukup ampuh, yaitu Kasepuhan Banten Kulon, menyebut nama Abah Ugi, atau bertanya lokasi Seren Taun. Biasanya mereka sudah paham dengan salah satu dari tiga kata kunci itu.

Ternyata, perjalanan menuju Ciptagelar ini sangat menantang lho… Setelah belok kanan dari Inna Samudra Beach Hotel, kondisi jalan masih cukup normal. Beberapa bagian jalan memang rusak, tapi masih cukup oke.. Setelah lewat PTPN VIII Pasir Badak, kondisi jalan berubah dari yang semula aspal mulus menjadi jalan aspal yang rusak parah hingga menemukan plang pintu masuk Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Cobaan nggak cuma berhenti sampai di situ aja kok. Semakin masuk ke dalam, kondisi jalan semakin parah. Nggak cuma aspal rusak, namun kondisi jalan berubah hanya berupa jalanan batu yang sangat bumpy. Itu belum ditambah dengan berbagai tanjakan yang tinggi dan berkelok, serta bagian kanan-kiri berupa jurang dan tebing. Kondisi track yang penuh batu dan banyak tanjakan seperti ini tentu sangat menguras tenaga motor beserta ridernya.

National-Park-Explorer-Hari-3-001

Beruntung sekali Adventuriderz membawa motor VIAR Cross X 200 SE. Motor ini dengan mudah melibas berbagai tanjakan yang tinggi sekalipun. Malah VIAR Cross X 200 SE punya power dan torsi berlebih. Itu terbukti ketika melibas tanjakan-tanjakan tinggi, Adventuriderz rata-rata menggunakan gear tiga atau empat dengan kecepatan 50-60 km/jam. Kalau memaksa menggunakan gear satu atau dua, selain nggak bisa mengail speed, roda depan motor juga sering ngangkat. Selain menikmati jambakan motor yang dahsyat, nggak ada salahnya lirik kiri-kanan karena pemandangannya asli keren banget! Mulai dari hutan rimbun di lereng bukit, area persawahan dengan terasering yang menghijau, hingga aliran-aliran air sungai. Pokoknya cakep lah!

Tanpa terasa, Adventuriderz sudah menempuh satu jam perjalanan dan mulai memasuki berbagai perkampungan adat, termasuk Sirnaresmi dan Sirnarasa. Itu terlihat dari adanya bangunan yang berfungsi sebagai lumbung padi di sekitar rumah-rumah warga. Setelah kedua perkampungan itu, Adventuriderz masuk ke Ciptarasa. Menurut sejarahnya, Ciptarasa sendiri dulu merupakan lokasi perkampungan adat yang dipimpin oleh Abah sebelum pindah ke Ciptagelar. Di Ciptarasa, Adventuriderz disambut oleh Pak Kokon. Sebelumnya Adventuriderz hanya bisa mendengarkan cerita kalau warga di Kasepuhan Banten Kulon, ntah itu Ciptarasa, Ciptagelar, atau yang lainnya ramah-ramah. Kini Adventuriderz bisa merasakan langsung.

National-Park-Explorer-Hari-3-009

Setibanya di Ciptarasa, Adventuriderz dipersilakan masuk ke dalam sebuah rumah yang dulunya pernah ditinggali Abah. Tanpa basa-basi hidangan kopi hitam panas, air putih, pisang goreng, dan kerupuk sudah ada di depan mata untuk memenani kami ngobrol di dalam rumah itu. Berdasarkan cerita Pak Kokon, kini rumah milik Abah di Ciptarasa biasanya digunakan oleh tamu jika kemalaman saat perjalanan menuju atau dari Ciptagelar. Dari penuturannya pula, Adventuriderz baru tahu kalau warga di sana pantang menjual padi, beras, atau nasi. So, bisa dipastikan kalian nggak akan bisa menemukan warung makan. Gimana kalau lapar? Kata Pak Kokon sih tinggal minta saja ke warga, pasti dengan senang hati akan memberikannya. Tapi kalau beli dipastikan nggak ada.

Obrolan kami nggak terasa sudah hampir satu jam. Adventuriderz pun pamit dengan Pak Kokon karena harus melanjutkan perjalanan ke Ciptagelar. Pak Kokon memberikan informasi kalau Abah Ugi tidak ada di rumah karena sedang turun berziarah ke makam leluhur. Walaupun nggak bisa bertemu dengan Abah Ugi, hal itu nggak menyurutkan niat melihat secara langsung perkampungan adat Ciptagelar. Jarak dari Ciptarasa ke Ciptagelar kurang lebih 9 kilometer melewati hutan Gunung Halimun yang sangat rimbun. Bagaimana dengan kondisi jalannya? Masih nggak berubah kok. Jalan masih berupa bebatuan dengan tanjakan-tanjakan yang nggak kalah ekstrem dibandingkan dengan saat menuju Ciptarasa.

National-Park-Explorer-Hari-3-014

Hutan sepanjang 9 kilometer sudah terlewati, Ciptagelar sudah terlihat mengintip di balik area persawahan. Pekampungan yang satu ini memang sangat khas karena semua bangunan masih menggunakan kayu dan atapnya pun terbuat dari bahan seperti jerami. Sampai di Ciptagelar, Adventuriderz langsung menuju Imah Gede yang merupakan tempat untuk menerima tamu di sana. Imah mungkin sama dengan omah (Bahasa Jawa) atau rumah. Berdasarkan penalaran ngawur aja, Imah Gede adalah rumah besar. Memang bangunannya tergolong paling besar dibandingkan dengan bangunan lain di sekitarnya. Para tamu yang berkunjung ke Ciptagelar biasanya menggunakan Imah Gede sebagai tempat beristirahat dan menginap.

Di Imah Gede ini Adventuriderz disambut oleh emak. Ntah siapa namanya, namun beliau menyebut dirinya sebagai emak. Emak adalah salah seorang warga Ciptagelar yang sedang membantu mempersiapkan berbagai hidangan untuk para tamu di Imah Gede. Keramahan dan kehangatan warga Ciptagelar kembali Adventuriderz rasakan di sini. Begitu duduk di dalam Imah Gede, segelas air putih beserta berbagai camilan sudah dihidangkan. Baru juga ngobrol sebentar, si emak sudah meminta (dengan sedikit memaksa) Adventuriderz untuk makan siang. Memang menunya sederhana, tapi terasa sangat luar biasa. Perlu dicatat, semua tamu yang berkunjung ke Ciptagelar, apakah itu makan atau bermalam di sana, semuanya free of charge alias gratis. Jangan pernah berpikir untuk membayar, karena mereka memberikannya dengan tulus.

National-Park-Explorer-Hari-3-022

Setelah selesai makan, si emak kembali menanyakan, apakah Adventuriderz akan bermalam di Ciptagelar atau tidak? Jika memang mau menginap, beliau mempersilakan Adventuriderz bermalam di rumahnya yang tidak jauh dari Imah Gede. Ajakan dari emak ini pastinya membuat Adventuriderz terharu, sebuah hal yang sangat sulit ditemui di luar Ciptagelar. Sayangnya Adventuriderz harus menolak tawaran dari emak karena masih memungkinkan keluar dari Ciptagelar sebelum petang. Padahal kalau punya banyak waktu, berada di Ciptagelar paling tidak sehari semalam saja, pasti bisa lebih memahami kehidupan di sana.

Menjelang sore Adventuriderz berpamitan dengan beberapa orang yang berada di Imah Gede sebelum meninggalkan Ciptagelar. Awalnya, dari Ciptagelar Adventuriderz ingin ke Citalahab yang juga berada di dalam Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Pak Kokon yang Adventuriderz temui di Ciptarasa sempat mengatakan ada jalur setapak lewat hutan dari Ciptagelar ke Citalahab dengan jarak 14 kilometer. Saat musim kemarau seperti sekarang, jalur ini katanya bisa dilewati oleh motor, terutama motor trail. Tapi setelah bertanya kepada beberapa warga di Ciptagelar, semuanya menggelengkan kepala. Mereka nggak menyarankan Adventuriderz lewat sana karena terlalu riskan, apalagi hanya seorang diri. Selama ini warga setempat pun jarang ada yang lewat rute itu dengan motor. Kebanyakan mereka jalan kaki ketika akan ke Citalahab. Ya sudah, Adventuriderz nurut saja. Mereka pasti lebih paham dengan kondisi di sana.

National-Park-Explorer-Hari-3-024

Yups, dengan sedikit terpaksa Adventuriderz meninggalkan Ciptagelar dengan rute yang sama saat berangkat. Bedanya, ketika bertemu dengan plang Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang tadi, Adventuriderz melihat ada jalur off road single track. Nggak tahu arahnya ke mana, yang penting masuk aja. Rasanya badan udah remuk lewat jalan batu terus dengan kecepatan tinggi. Jalur off road yang berupa tanah merah bisa menjadi pilihan menarik sebab nggak bumpy seperti jalan batu. Jalur off road single track yang satu ini ternyata asyik juga. Ada kombinasi tanjakan tinggi, tikungan tajam, hingga turunan curam. Rute yang membelah bukit itu ternyata nggak begitu jauh sampai ketemu dengan jalan aspal rusak lagi. Setelah tembus, ternyata jalan tembusannya berbeda dengan jalan ketika berangkat. Adventuriderz harus melewati beberapa desa yang masuk Kecamatan Cikakak. Ntah lebih pendek atau malah lebih jauh. Yang pasti tembusan akhir tetap di jalan penghubung antara Cisolok dan Pelabuhan Ratu, tidak begitu jauh dari Inna Samudra Beach Hotel tadi. Dengan kondisi badan yang sudah mulai lelah, Adventuriderz menggeber motor dengan santai ke Sukabumi untuk bermalam. Kenapa? Sebab Sukabumi sudah dekat dengan kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, taman nasional ketiga yang akan dikunjungi setelah Taman Nasional Ujung Kulon dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.


Advertisements