National Park Explorer Hari-6: Meninggalkan Ciremai Menuju Dieng



Taman Nasional Gunung Ciremai to Dieng, Kejajar, Indonesia - Google Maps 2015-08-13 06-33-44

Hari keenam (12/8/2015) ekpedisi National Park Explorer merupakan perjalanan paling panjang jika dibandingkan dengan perjalanan hari-hari sebelumnya. Setelah mengeksplor Taman Nasional Gunung Ciremai, Adventuriderz melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Gunung Merbabu yang berada di Jawa Tengah. Jarak antara Taman Nasional Gunung Ciremai dan Taman Nasional Gunung Merbabu ini sangat jauh, mencapai 400 kilometer, sehingga akan lebih baik kalau transit sejenak di antara keduanya. Untuk lokasi transit, Adventuriderz memilih Dataran Tinggi Dieng karena udara di sana begitu sejuk dan memiliki pemandangan alam yang super cantik!

Adventuriderz meninggalkan Pos Apuy di Gunung Ciremai sekitar pukul 08.00 WIB, menelurusi lereng-lereng Gunung Ciremai menuju Sangiang. Memang ini bukan jalur utama, tapi jalur terdekat dengan kondisi jalan sempit, penuh tanjakan tajam, dan turunan curam. Belum lagi kondisi jalan sudah banyak yang rusak. Dalam perjalanan turun ini Adventuriderz sudah dihadang oleh kabut yang sangat pekat disertai gerimis. Kabut tebal dan gerimis baru benar-benar hilang ketika Adventuriderz mencapai Talaga, beberapa kilometer setelah Sangiang. Dari Talaga ke Cikijing hingga Kuningan melewati jalan aspal yang mulus tanpa rintangan apapun.

Di Kuningan Adventuriderz berhenti sejenak untuk sarapan. Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju ke arah Luragung dan Cibingbin. Keduanya masih masuk ke dalam wilayah Kabupaten Kuningan. Rute ini tergolong menarik karena melewati jalan yang tidak lebar namun mulus. Sepanjang perjalanan banyak jalan yang naik turun dengan tikungan-tikungan zigzag, sementara di sebelah kanan maupun kiri dipenuhi oleh hutan jati.

National-Park-Explorer-Hari-6-009

Dari Cibingbin, Adventuriderz menyeberang ke wilayah Jawa Tengah, tepatnya Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, untuk menuju Purwokerto. Jalur dari Cibingbin ke Salem hingga keluar dari Salem sangatlah terjal. Monggo sobat lihat rute di foto paling atas. Di situ Adventuriderz harus membelah beberapa gunung dan perbukitan. Kalau nggak salah Adventuriderz sampai empat kali naik turun gunung dan perbukitan antara Cibingbin hingga meninggalkan Salem. Memang kondisi jalannya sudah bagus, berupa aspal mulus. Bahkan di beberapa lokasi sedang dilakukan penebalan aspal. Tapi tanjakan dan tikungan-tikungannya yang bikin geleng-geleng kepala. Sebagian besar merupakan tikungan lancip seperti ujung segitiga dan dilanjutkan dengan tanjakan tinggi. Benar-benar melelahkan dan menguji torsi mesin motor. Namun kelelahan itu ditebus oleh udara sejuk dan pemandangan hutan pinus yang rimbun sepanjang perjalanan.

National-Park-Explorer-Hari-6-012

Perjalanan berikutnya ke arah Bumiayu, Purwokerto, Pubalingga, hingga Banjarnegara sudah lebih santai karena didominasi oleh jalur utama yang datar. Untuk menuju Dieng dari Banjarnegara terdapat beberapa jalur yang bisa ditempuh. Dua di antaranya Banjarnegara-Wonosobo-Dieng dan Banjarnegara-Karangkobar-Batur-Dieng. Tentu saja Adventuriderz memilih rute yang kedua. Rute ke Dieng lewat Wonosobo sudah terlalu biasa dan pernah dilewati beberapa tahun lalu.

Mengambil rute Banjarnegara-Karangkobar-Batur-Dieng memang nggak salah pilih. Tentu saja tanjakan-tanjakan tinggi dan tikungan tajam masih sangat mendominasi. Tapi pemandangan yang ada juga nggak kalah memukau. Saat magrib tiba, Adventuriderz sudah sampai di Karangkobar dan disambut oleh gerimis. Padahal jarak dari Karangkobar ke Dieng masih sekitar 30 kilometer lagi. Udara sejuk cenderung dingin sudah mulai terasa di badan. Beruntung jaket Respiro Journey yang Adventuriderz pakai masih bisa bertugas dengan baik. Angin dan hujan gerimis tidak mampu menembus hingga ke dalam badan, sehingga badan masih terasa hangat. Kalaupun terasa hawa dingin itu pada bagian tangan karena udara menembus sarung tangan dengan bebas.

National-Park-Explorer-Hari-6-013

Hujan gerimis yang tadinya tipis ternyata semakin lama semakin deras. Nggak cuma itu, kabut pun turun sangat tebal, membuat jarak pandang semakin minim. Dari Karangkobar ini Adventuriderz mengambil jalur selatan ke arah Batur yang secara jarak lebih pendek. Tapi sepertinya ini pilihan yang salah. Jalur ini sangat sepi, minim kendaraan yang lewat. Adventuriderz sempat kelimpungan di tengah hujan, kabut pekat, dan malam yang gelap dengan jarak pandang hanya sampai 3 meter. VIAR Cross X 200 SE pun mesti dipacu sangat lambat. Beruntung ada dua motor yang lewat dan paham dengan kondisi medan, sehingga Adventuriderz langsung ngekor di belakangnya. Bisa dikatakan yang menjadi pemandu perjalanan ini hanya lampu belakang dua motor yang ada di depan. Selebihnya nggak kelihatan sama sekali. Apesnya, setelah melewati Batur yang seperti pemukiman mati di malam hari, saat sedang melibas tanjakan tiba-tiba lampu utama VIAR Cross X 200 SE mati. Motor langsung limbung karena mata Adventuriderz seperti buta, sedangkan dua motor tadi sudah jauh berada di depan. Beruntung tidak terjadi insiden apa-apa, motor masih bisa dikontrol dengan baik. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mengandalkan lampu senja dengan sangat pelan-pelan. Tapi lama-lama kepala ini jadi pusing juga karena mata fokus melihat marka yang cuma samar-samar dengan harapan tidak keluar dari jalur. Lha wong sebelah kanan atau kiri jurang kok. Daripada terjadi insiden, Adventuriderz memilih berhenti di tengah kegelapan sambil menunggu kendaraan lain yang lewat. Tidak lama menunggu ada mobil yang lewat dan langsung Adventuriderz ikuti. Sayangnya mobil itu berhenti sampai perkampungan di depan. Lumayan lah jalan sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ada motor lewat yang Adventuriderz berhentikan. Kebetulan mbak-mbak yang naik motor ini warga setempat yang akan ke Dieng juga. Adventuriderz pun meminta untuk mengikuti di belakangnya sampai Dieng. Alhamdulillah, Adventuriderz tiba di Dieng sekitar pukul 19.00 WIB dengan selamat. Jarak tempuh dari Pos Apuy Gunung Ciremai hingga ke Dieng lewat rute yang sangat menantang ini kurang lebih 300 kilometer, sedangkan total jarak tempuh perjalanan dari hari pertama sampai hari keenam sudah mencapai 1.100 kilometer dan motor VIAR Cross X 200 SE belum mengalami kendala, kecuali lampu utama yang tiba-tiba mati saat menembus kabut di hari keenam ini.


Advertisements