National Park Explorer Hari-7: Menikmati Selo di Kaki Gunung Merbabu


National-Park-Explorer-Hari-7-001

Suhu udara di Dataran Tinggi Dieng yang super dingin memang membuat tubuh malas bergerak. Pada hari kedelapan (13/8/2015) ekpedisi National Park Explorer, rencananya Adventuriderz akan memulai perjalanan dari Dieng menuju Selo yang berada tepat di antara kaki Gunung Merbabu dan Gunung Merapi, dua taman nasional yang menjadi target dalam ekpedisi ini. Akan tetapi, dinginnya udara di Dieng membuat Adventuriderz baru meninggalkan Dieng hampir siang hari, sekitar pukul 10.30 WIB. Itupun mesti mampir dulu sarapan mie ongklong khas daerah sana yang begitu lezat.

Untuk perjalanan dari Dieng ke Taman Nasional Gunung Merbabu, tepatnya ke Selo, Adventuriderz memilih mengambil rute Dieng-Tambi-Parakan-Temanggung-Secang-Grabag-Ketep Pass-Selo. Ini adalah rute terdekat dari Dieng ke Selo dengan kondisi track yang cukup bersahabat, karena kondisi jalan yang tergolong sudah bagus dan tanjakan-tanjakan yang ada tidak begitu tinggi. Apalagi di sepanjang perjalanan disuguhi dengan pemandangan alam yang cantik, terutama di perkebunan teh Tambi.

Dieng to Selo, Indonesia - Google Maps 2015-08-15 08-54-00

Oh ya, saat meninggalkan Dieng ini ada pengalaman yang unik. Menjelang persimpangan menuju kebun teh Tambi, ada razia dari Polantas. Adventuriderz pun diberhentikan untuk pengecekan surat-surat. Setelah mengecek surat-surat komplit, ternyata polisi yang memberhentikan malah menyerahkan SIM dan STNK kepada pimpinannya untuk dilakukan penilangan. Permasalahannya, suara knalpot VIAR Cross X 200 SE menurut polisi terlalu keras. Mereka mengira knalpot yang terpasang pada VIAR Cross X 200 SE adalah knalpot racing. Setelah memberikan penjelasan kepada polisi, surat-surat dikembalikan dan mereka tidak jadi menilang. Memang untuk masalah suara knalpot ini sangat tricky. Dalam melakukan razia, polisi tidak dibekali dengan DB Meter, sehingga mereka hanya memperkirakan saja suara ini keras atau tidak berdasarkan perasaan mereka. Padahal di dalam undang-undang sudah jelas diatur berapa DB tingkat kebisingan yang diperbolehkan. Menyangkut suara VIAR Cross X 200 SE, kalau sudah bisa menjadi kendaraan on the road dan bisa mendapatkan surat-surat (STNK, TNKB, dan BPKB), itu berarti sudah lolos dalam pengujian di Balai Uji dan Laik Jalan Kendaraan Bermotor, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan. Artinya apa? Walaupun suara terdengar keras, namun masih memenuhi ambang batas yang ditetapkan olah undang-undang. Nggak masalah sama sekali.

National-Park-Explorer-Hari-7-003

Dalam perjalanan menuju ke Selo ini Adventuriderz membawa VIAR Cross X 200 SE dengan santai saja. Toh jarak dari Dieng ke Selo nggak jauh, hanya sekitar 110 kilometer saja. Uniknya, jalan yang dilewati setelah Grabag ke arah Ketep Pass hingga Selo kebanyakan merupkan tanjakan-tanjakan panjang yang dikombinasikan dengan tikungan landai. Jarang ada tanjakan yang begitu tinggi dengan tikungan tajam.

Mungkin karena gaya riding yang terlalu santai dan banyak berhenti istirahat, Adventuriderz baru tiba di Selo sekitar pukul 15.30 WIB. Selo merupakan sebuah desa sekaligus kecamatan yang berada di lereng Gunung Merapi dan Merbabu. Selo ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kondisi Selo yang berada di kaki Gunung Merapi dan Merbabu sekaligus membuat kehidupan di sana sangat bergeliat. Mata pencaharian warga Selo mengandalkan dari sektor pertanian, khususnya bertani sayur-sayuran yagn tumbuh subur di lereng pegunungan. Selain itu, geliat Selo juga datang dari sektor pariwisata. Yups, Selo merupakan salah satu titik untuk mendaki dua gunung sekaligus, Merapi dan Merbabu. Nggak heran kalau Selo selalu ramai oleh para pendaki yang ingin mencapai puncak Merapi dan Merbabu.

National-Park-Explorer-Hari-7-007

Ketika sampai di Selo, tujuan pertama Adventuriderz tentu saja menuju New Selo karena yang lebih dahulu dilewati. New Selo ini merupakan titik pendakian menuju Gunung Merapi dari sisi Boyolali. Jalur menuju New Selo sudah bagus dengan jalan aspal mulus meskipun tidak lebar. Hanya saja, tanjakan menuju New Selo begitu panjang, tapi itu nggak membuat mesin VIAR Cross X 200 SE lembek. Malah VIAR Cross X 200 SE masih bisa dipacu pada gigi empat hingga sampai di New Selo. Selain sebagai tempat awal untuk mendaki Gunung Merapi, di New Selo juga banyak wisatawan yang datang untuk sekedar bersantai menikmati keindahan alam dan kesejukan udara pegunungan di kaki Merapi dan Merbabu. Di New Selo Adventuriderz sempat mencoba naik ke jalur pendakian awal yang sudah berupa cor-coran. Tanjakan di jalur pendakian ini memang cukup dahsyat, mantep juga buat adventure. Panjang jalur yang sudah dicor ini kalau nggak salah hanya sekitar 500 meter saja. Setelah itu Adventuriderz putar balik dengan kerepotan karena track yang super sempit dan menanjakan, ditambah dengan barang bawaan di motor yang begitu berat.

National-Park-Explorer-Hari-7-012

Dari New Selo, Adventuriderz langsung menuju basecamp pendakian Selo. Bedanya kalau pos pendakian New Selo untuk mendaki ke Gunung Merapi, pos pendakian Selo digunakan untuk menuju puncak Gunung Merbabu. Sebenarnya nggak ada yang cukup menarik di basecamp Selo, kecuali obroan dan cerita-cerita dari pendaki yang baru turun gunung dengan muka yang kucel, penuh debu, dan bercucuran keringat. Hari sudah semakin sore, Adventuriderz meninggalkan Selo menuju Jogja melalui Boyolali, Klaten, dan Prambanan.


Advertisements