National Park Explorer Hari-11: Adventure Sesungguhnya di TNBTS


National-Park-Explorer-Hari-11-001

Pada hari ke-11 ekspedisi (17/8/2015) National Park Explorer, Adventuriderz sudah sampai di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Ini merupakan taman nasional yang ketujuh dari total 10 taman nasional dalam ekspedisi National Park Explorer. Bagaimana serunya menjelajah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru?

Pagi hari Adventuriderz sudah bersiap-siap meninggalkan Desa Tosari yang tidak jauh dari pintu masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di sisi Pasuruan. Ditemani oleh suhu udara yang masih cukup dingin, Adventuriderz mengajak VIAR Cross X 200 SE naik menuju loket tiket dan membayar seharga Rp 32.500. Untung saja jaket Respiro Journey mampu menahan dinginnya pagi hari di Bromo. Cukup dengan menutup ventilasi udara, jaket sudah kedap terhadap udara.

Melewati tanjakan-tanjakan tinggi menuju ke arah Penanjakan memang bukan menjadi halangan berarti bagi tunggangan Adventuriderz. Pagi itu Penanjakan memang sengaja dilewatkan. Adventuriderz langsung menuju ke lautan pasir Bromo dan menggeber VIAR Cross X 200 SE dengan kecepatan tinggi. Dengan kobinasi antara torsi besar dan ban pacul, lautan pasir Bromo memang menjadi track yang sangat tepat untuk motor ini. Sayangnya, Adventuriderz tetap saja sempat terguling akibat tidak bisa mengendalikan motor saat melibas pasir gembur dengan kecepatan tinggi.

National-Park-Explorer-Hari-11-009

Sesampainya di Pura Luhur Poten yang ada tidak jauh dari kawah Gunung Bromo, Adventuriderz bergabung dengan dua rider Kawasaki KLX150 asal Surabaya. Tidak lama kemudian nongol satu rekan dari dua rider itu. Ternyata itu Mas Dhony, rider Kawasaki KLX250 yang sempat bertemu dengan Adventuriderz ketika sedang menyetel velg di sebuah bengkel di Surabaya beberapa bulan yang lalu. Mereka yang tergabung dalam Kracker, klub para rider penyemplak Kawasaki D’Tracker maupun Kawasaki KLX yang sudah diubah menjadi supermoto, mengajak Adventuriderz riding ke arah savana Bromo. Yups, anak-anak Kracker memang sedang riding bersama. Konon katanya ada sekitar 150 motor yang datang ke Bromo dari berbagai daerah untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Di tengah lautan pasir Adventuriderz kehilangan jejak Mas Dhony dan teman-teman yang sempat terguling beberapa kali. Di savana Bromo, ada lagi teman-teman dari Kracker yang nyamperin. Mereka ternyata juga pembaca blog ini. Hehehe…

Kalau sobat mau tahu, savana Bromo merupakan salah satu tempat paling cantik di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Orang-orang juga biasa menyebut savana Bromo dengan Bukit Teletubbies. Itu karena lokasinya yang berbukit-bukit dan dipenuhi oleh savana yang hijau agak mengering karena musim kemarau, sangat menyejukkan mata memandang. Kombinasi antara padang savana yang hijau agak menguning, jalanan berpasir, dan debu yang beterbangan saat ada kendaraan lewat membuat savana Bromo seperti di Dakar. Luar biasa cantik!!

National-Park-Explorer-Hari-11-015

Puas berfoto di savana Bromo yang sangat indah, Adventuriderz melanjutkan perjalanan ke arah Jemplang dan Ranu Pane. Jalur dari savana ke Jemplang ini bisa dikatakan sangat parah, berupa paving block yang sudah remuk diselimuti debu-debu halus yang sangat tebal, dan diperparah dengan tanjakan yang lumayan tinggi. Ban meleset ke kiri dan ke kanan sudah sangat biasa. Motor-motor nggak kuat naik juga sudah menjadi pemandangan umum. Bahkan teman-teman Kracker banyak mengalami trouble pada motornya di tanjakan Jemplang. Kebanyakan mereka kehabisan kanvas kopling. Adventuriderz bersyukur, menggunakan VIAR Cross X 200 SE bisa dengan mudah melibas track yang sulit ini hingga mencapai Jemplang. Oh ya, jalur keluar-masuk Bromo di Jemplang ditutup mulai 18 Agustus 2015 hingga 15 Desember 2015 karena akan diperbaiki. So, sobat yang mau keluar masuk Bromo, sekarang hanya ada dua pintu, yaitu di Tosari (Pasuruan) dan Cemoro Lawang (Probolinggo).

Adventuriderz sampai di Jemplang ini sekitar pukul 12.00 WIB. Sebelum melanjutkan perjalanan, Adventuriderz makan siang di sebuah warung di Jemplang. Rupanya di sana juga sudah banyak berkumpul teman-teman Kracker yang lolos dari tanjakan Jemplang. Ketika perut sudah kenyang dan energi sudah kembali pulih, Adventuriderz meninggalkan Jemplang ke arah Bantengan/Ranu Pane. Tujuannya adalah ke B29, sebuah bukit yang terletak pada ketinggian 2.900 meter di atas permukaan laut. B29 masih masuk ke dalam wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di sisi Lumajang.

National-Park-Explorer-Hari-11-021

Kalau boleh dibilang, jalur yang dilewati dari Bantengan/Ranu Pane menuju B29 ini sangat menantang. Kebanyakan yang lewat sini hanyalah para penggemar motor trail dan penduduk sekitar yang memang sudah hafal dengan medan. Bukan apa-apa bro, sepanjang kurang lebih 10-12 kilometer hanya jalur off road setapak yang menanjak. Di kanan dan kiri jalur berupa hutan penuh semak-semak. Kadang-kadang Adventuriderz harus menunduk agar kepala tidak nyangkut di batang pohon yang melintang atau semak-semak yang menjuntai pendek menutupi jalur. Sesekali pula melewati jalur setapak yang kanan kirinya jurang, tapi pemandangannya sangat cantik karena langsung menghadap ke savana atau lautan pasir Bromo yang ada di bawah bukit. Melewati jalur setapak seperti ini memang membutuhkan konsentrasi tinggi. Kadang Adventuriderz berpapasan dengan off roader lain dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Kalau nggak konsentrasi dan berhati-hati, bisa saja terjadi kecelakaan dengan off roader lain.

Walaupun melewati jalur yang lumayan sulit dan menantang, akhirnya Adventuriderz sampai juga di B29 tanpa kendala apapun. VIAR Cross X 200 SE nggak mengalami kesulitan berarti dalam menaklukkan jalur tikus antara Ranu Pane dan B29. Mesin juga nggak kedodoran sama sekali. Malah rata-rata menggunakan gear position 2 atau 3 sepanjang perjalanan.

National-Park-Explorer-Hari-11-027

Setibanya di B29, Adventuriderz disambut oleh pemandangan cantik. Gunung Bromo, Gunung Batok, lautan pasir Bromo, dan savana Bromo terlihat dengan sangat jelas dari puncak bukit. Di sisi lain terlihat Gunung Semeru yang gagah, paling tinggi di antara gunung-gunung lainnya. Pemandangan perbukitan yang ditanami sayuran oleh warga juga menjadi daya tarik tersendiri, semakin melengkapi keindahan B29.

Rencananya Adventuriderz bermalam di kawasan B29 dengan mendirikan tenda di sana. Tapi apa mau dikata, pengunjung B29 sore itu nggak banyak. Diprediksi juga nggak ada orang lain yang camping di sana. Oleh karena itu, salah seorang pemilik warung di B29 mempersilakan Adventuriderz bermalam di warungnya saja, sementara beliau pulang ke rumahnya di bawah, ntah itu Desa Argosari atau Desa Gadog, Adventuriderz kurang paham. Tentu saja dengan senang hati Adventuriderz menerima tawaran itu. Menjelang malam ternyata ada rombongan lima orang yang akan camping di B29. Namun Adventuriderz tetap tidak mendirikan tenda dan lebih memilih tidur di dalam warung yang sudah ada tempat tidurnya terbuat dari bambu dilapisi karpet. Ternyata ini adalah pilihan yang sangat tepat. Di malam hari angin di B29 bertiup sangat kencang. Bahkan ketika di dalam warung yang tertutup rapat saja suara angin itu terdengar sangat kuat seperti hujan lebat. Nggak terbayang kalau Adventuriderz tetap nekat mendirikan tenda yang tanpa frame itu. Mungkin bisa terbang tendanya.

National-Park-Explorer-Hari-11-030

Malam itu Adventuriderz tidur dengan tidak nyenyak. Meskipun sudah menggunakan sweater, celana panjang, kaos kaki, sarung tangan, penutup kepala, dan kemudian masuk ke dalam sleeping bag, suhu udara di B29 masih sangat menusuk tulang. Angin yang sangat berisik juga membuat mata yang sudah sangat mengantuk ini sulit terpejam. Ya ini memang nggak mengherankan sih, karena lokasinya saja sudah berada di ketinggian 2.900 meter di atas permukaan laut. Monggo kalau teman-teman mau merasakan dinginnya B29.


Advertisements