National Park Explorer Hari-13: Menelusuri Meru Betiri di Sisi Bandealit

National-Park-Explorer-Hari-13-004

Meru Betiri merupakan taman nasional yang kedelapan dalam ekspedisi National Park Explorer, sekaligus menjadi taman nasional kedua di Jawa Timur yang dikunjungi oleh Adventuriderz setelah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Adventuriderz mengunjungi Taman Nasional Meru Betiri pada hari ke-13 (19/8/2015) ekpedisi National Park Explorer.

Perlu sobat ketahui, Taman Nasional Meru Betiri ini sangat luas dan terbagi dalam dua wilayah kabupaten, yaitu Jember dan Banyuwangi. Akses masuk ke Taman Nasional Meru Betiri juga berada di dua titik pada masing-masing kabupaten. Pertama adalah dari sisi Jember dimana kita masuk hingga ke ujung di Bandealit, sedangkan yang kedua dari sisi Banyuwangi bisa ditelusuri hingga ke Sukamade.

Perjalanan hari ke-13 dimulai dari Kecamatan Puger, Jember, tempat Adventuriderz bermalam. Dari Puger menuju Taman Nasional Meru Betiri di sisi Bandealit ini sebenarnya nggak terlalu jauh. Adventuriderz cukup mengambil arah ke Ambulu yang dilanjutkan menuju Kotta Blater yang merupakan perkebunan karet milik PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII). Kondisi jalan dari Puger, Ambulu, hingga Perkebunan Kotta Blater berupa aspal yang mulus, sehingga Adventuriderz bisa menggeber VIAR Cross X 200 SE dengan kencang. Kondisi jalan mulai berubah ketika memasuki perkebunan. Kenapa? Kondisi jalan yang awalnya mulus tadi sudah beralih menjadi jalan aspal yang rusak, bahkan mirip seperti jalur semi off road. Meskipun kondisi jalan kurang baik, untungnya tunggangan Adventuriderz masih nyaman digeber dengan kecepatan tinggi berkat suspensi belakang yang cukup lembut.

Keluar dari perkebunan karet milik PTPN XII, Adventuriderz mulai masuk ke Desa Andongrejo. Ini merupakan desa terakhir sebelum memasuki wilayah Taman Nasional Meru Betiri di sisi Jember (Bandealit). Tidak terlalu lama menelusuri jalan di Desa Andongrejo, Adventuriderz sudah sampai di pos masuk menuju Taman Nasional Meru Betiri. Di sini pengunjung perlu membayar tiket sebesar Rp 5.000 per orang dan Rp 5.000 untuk satu motor. Tarif itu berlaku untuk satu hari saja. Kalau misalnya ingin berada di dalam taman nasional selama beberapa hari, ya tinggal kalikan saja dengan jumlah harinya tersebut.

National-Park-Explorer-Hari-13-001

Kondisi jalan rusak di dalam perkebunan PTPN XII yang sudah Adventuriderz lewati sebelumnya itu ternyata bukan yang terburuk. Masih ada jalan yang jauh lebih parah lagi sepanjang 14 kilometer di dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri, mulai dari pos masuk hingga ke Bandealit. Nah, sepanjang perjalanan di dalam area taman nasional sebenarnya cukup landai. Nggak banyak tanjakan, turunan, maupun tikungan tajam. Hanya saja Adventuriderz nggak betah kalau harus menggeber tunggangan dengan kecepatan tinggi karena batu-batu yang tersebar di jalanan tergolong besar-besar. Daripada badan remuk semua, mendingan riding dengan santai sambil menikmati rimbunnya pepohonan di dalam hutan.

Dalam perjalanan masuk menuju Bandealit, Adventuriderz melewati sebuah spot atau area yang biasanya ditumbuhi oleh Bunga Raflesia. Raflesia memang merupakan salah satu flora endemik dan mudah ditemukan di Taman Nasional Meru Betiri. Untuk melihat Bunga Raflesia tentu saja kita harus masuk ke dalam hutan. Sayangnya Adventuriderz tidak menemukan sama sekali Bunga Raflesia di lokasi sebaran yang ada di Taman Nasional Meru Betiri ini padahal sudah masuk antara 50-100 meter ke dalam hutan. Yang paling mudah dilihat justru lutung karena banyak bergelantngan di atas pohon.

Setelah mencari Bunga Raflesia tanpa membuahkan hasil, Adventuriderz melanjutkan perjalanan menelusuri hutan Taman Nasional Meru Betiri. Semakin masuk ke dalam kondisi jalan bukan semakin baik, tapi malah semakin parah. Ya hal ini memang lumrah sebagai kawasan konservasi. Paling tidak biar tidak terlalu banyak pengunjung yang datang dengan kondisi jalan rusak parah seperti ini. Nah, di dalam area taman nasional ternyata masih ada perkampungan. Perkampungan kecil itu memiliki bangunan-bangunan rumah yang cukup sederhana, tertata dengan rapi, dan fasilitasnya cukup lengkap mulai dari sekolah TK, sekolah SD, masjid, dan lain-lain. Sepertinya ini adalah mess para pekerja perkebunan di PTPN XII dan masih masuk ke dalam wilayah Desa Andongrejo.

National-Park-Explorer-Hari-13-007

National-Park-Explorer-Hari-13-009

CAMERA

Jarak antara perkampungan para pekerja perkebunan dengan Bandealit kurang lebih masih 3 kilometer lagi. Paling tidak di sisa 3 kilometer ini kondisi jalan sudah lebih baik. Bebatuan tidak terlalu besar dan sudah tertata dengan baik. Di sisi lain kondisi tanah berupa pasir putih, menunjukkan lokasinya sudah tidak jauh lagi dari pantai. Di sisa perjalanan ini Adventuriderz beberapa kali melewati sungai dan jembatan yang masih dalam kondisi baru dengan kanan-kiri didominasi oleh perkebunan sengon, hingga akhirnya sampai juga di pos jaga Taman Nasional Meru Betiri di Bandealit.

Tidak perlu menunggu terlalu lama, Adventuriderz langsung mengarahkan Cross X 200 SE menuju Pantai Bandealit yang memang menjadi ikon utama di sini. Tidak diduga-duga, Pantai Bandealit sangat sepi dan masih sangat alami dengan bibir pantai yang sangat panjang. Memang jarang ada pengunjung yang datang ke Bandealit karena melihat kondisi jalan yang sulit dilalui. Selain Pantai Bandealit, Taman Nasional Meru Betiri di sisi Jember ini juga punya Savana Pringtali yang dihuni berbagai macam satwa. Adventuriderz menyempatkan diri masuk ke dalam Savana Pringtali yang sangat rimbun dengan akses berupa jalan setapak. Sayangnya setelah sampai di Savana Pringtali Adventuriderz hanya menemukan beberapa jenis burung. Adventuriderz nggak menemukan mamalia seperti banteng, rusa, kerbau hutan, dan sejenisnya. Satwa-satwa seperti itu memang lebih sulit dilihat di dalam Taman Nasional Meru Betiri, kecuali kalau memang niat jungle track.

National-Park-Explorer-Hari-13-012

Adventuriderz nggak terlalu lama berada di dalam Taman Nasional Meru Betiri di sisi Bandealit. Setelah cukup puas melihat beberapa spot, Adventuriderz langsung keluar melewati jalur yang sama seperti saat berangkat, melewati Desa Andongrejo, Kotta Blatter, Ambulu, hingga masuk ke Kota Jember. Di Desa Andongrejo perjalanan Adventuriderz sempat tersendat karena adanya karnaval memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Untung saja karnaval itu nggak terlalu panjang. Dari Kota Jember, Adventuriderz mengarahkan Cross X 200 SE menuju ke arah Kabupaten Banyuwangi melewati Alas Gumitir yang mempunyai jalanan aspal mulus penuh dengan kelokan. Tujuan Adventuriderz setelah Bandealit tentu saja Taman Nasional Meru Betiri di sisi Sukamade. Dalam perjalanan hari ke-13 ekspedisi National Park Explorer, Adventuriderz bermalam di Glenmore, sebuah kota kecamatan kecil di Banyuwangi yang dilintasi oleh jalan utama Jember-Banyuwangi.


Advertisements