National Park Explorer Hari-14: Berburu Penyu di Sukamade, Meru Betiri

National-Park-Explorer-Hari-14-005

Pada hari ke-13 ekspedisi National Park Explorer, Adventuriderz sudah mengunjungi Taman Nasional Meru Betiri di sisi Bandealit. Di hari ke-14 (20/8/2015), Adventuriderz masih akan berkutat di Taman Nasional Meru Betiri. Berbeda dengan Bandealit yang berada dalam wilayah Kabupaten Jember, kali ini Adventuriderz menelusuri Taman Nasional Meru Betiri di sisi Sukamade yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Banyuwangi.

Perjalanan di hari ke-14 dimulai dari Kota Kecamatan Glenmore, Banyuwangi. Tentu saja perjalanan menuju Sukamade tidak akan melewati jalan utama yang memutar cukup jauh, melainkan melewati jalan pintas yang sangat sepi, melewati hutan, dan full off road tapi dengan jarak tempuh yang jauh lebih pendek. Dari Glenmore, Adventuriderz berjalan menuju ke arah Kendeng Lembu. Ini merupakan salah satu perkebunan karet, kakao, dan kopi yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII). Jalan yang dilalui menuju Kendeng Lembu memang luas, tapi berupa jalan tanah yang sangat berdebu. Di sini Adventuriderz bisa memacu motor hingga full speed karena berkarakter speed off road.

Setelah meninggalkan Kendeng Lembu, Adventuriderz mengarahkan VIAR Cross X 200 SE ke Treblasala, sebuah wilayah perkebunan kakao dan beberapa tanaman lain milik PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. Jarak dari Glenmore ke Treblasala sekitar 14 kilometer, sedangkan kalau dari Kendeng Lembu kurang lebih 6 kilometer. Jika perjalanan antara Glenmore dan Kendeng Lembu didominasi oleh jalan tanah yang luas, maka dari Kendeng Lembu ke Treblasala jalannya lebih sempit dan didominasi oleh jalan aspal rusak yang berubah menjadi jalan batu. Tentu saja sulit memacu motor dengan kecepatan tinggi karena getarannya sungguh luar biasa.

Memasuki kawasan Treblasala mengingatkan masa remaja Adventuriderz ketika tinggal di dalam area perkebunan tebu dan pabrik gula Sugar Group Companies yang berada di Lampung Tengah. Kondisi di dalam Perkebunan Treblasala rasanya nggak jauh berbeda dengan di sana. Bangunan-bangunan rumah yang menjadi mess karyawan berjejer dengan rapi dalam satu kompleks di tengah perkebunan. Meskipun berada di daerah yang tergolong pedalaman, namun fasilitas di Treblasala tergolong lengkap seperti menjadi sebuah pemukiman yang mandiri. Bahkan setiap pintu keluar-masuk wilayah pemukiman/perkebunan ada pos security beserta petugas yang berjaga.

Oh ya, di dalam area Perkebunan Treblasala cukup banyak jalan bercabang. Kondisi seperti ini memang sempat membuat bingung. Tapi nggak perlu khawatir, dengan menyebut Sarongan sebagai tujuan, maka hampir semua orang di sana pasti mengerti dan akan menunjukkan jalannya. Check point berikutnya setelah Treblasala adalah PAL-I. Sebenarnya PAL-I juga masih masuk ke dalam wilayah Treblasala, tapi lokasinya sudah berada di atas perbukitan dengan kondisi jalan berupa bebatuan yang membuat tenaga lebih cepat terkuras.

National-Park-Explorer-Hari-14-007

Salah satu yang perlu diperhatikan dan menjadi check point utama menuju Sukamade melalui Treblasala adalah PAL-I, karena di sini terdapat jalan yang bercabang. Jika ke kanan melewati jalan yang lebih luas adalah menuju Sumberayu, sedangkan untuk menuju Sarongan/Sukamade belok yang ke arah kiri. Inilah ujian yang sesungguhnya dalam perjalanan hari ke-14. Dari PAL-I menuju Sarongan, Adventuriderz melewati jalan setapak di tengah hutan yang sangat sepi. Tidak ada sama sekali orang yang lewat atau berpapasan sepanjang perjalanan. Suara-suara yang ada paling-paling berasal dari gerombolan monyet abu-abu dan lutung yang memang populasinya masih banyak di hutan ini. Kalau dari tingkat kesulitan, jalan setapak antara PAL-I dan Sarongan ini nggak ekstrem dan nggak sulit dilalui. Jalan benar-benar pas untuk satu motor, cenderung landai, namun berkelok-kelok. Sesekali melewati aliran sungai kecil. Kalaupun ada tanjakan, itu nggak begitu tinggi. Kondisi track yang seperti ini tentu saja bukan halangan sama sekali bagi Cross X 200 SE. Hanya saja, tantangan paling sulit adalah mengalahkan rasa takut dan mental diri sendiri. Bukan apa-apa bro, riding di tengah hutan sepanjang belasan kilometer seorang diri pasti akan menimbulkan rasa was-was. Ntah itu khawatir motor rusak di tengah perjalanan, serangan binatang liar, terjadi insiden tanpa ada pertolongan, dan lain-lain.

Awalnya Adventuriderz memang cukup enjoy ketika masuk ke dalam hutan. Tapi lama kelamaan timbul juga rasa jenuh, was-was, hingga rasa takut. Kenapa? Jalan setapak yang dilalui seperti tak kunjung habis. Hanya berkelok ke kiri dan ke kanan, melewati sungai, melewati tanjakan, turunan, dan kemudian berbelok lagi dengan karakter tempat yang mirip-mirip. Jadi sejak masuk hingga keluar hutan hanya seperti mengulangi hal yang sama berkali-kali. Adventuriderz pun nggak bisa memacu motor dengan kecepatan tinggi karena memang nggak memungkinkan. Akhirnya setelah 40 menit yang terasa sangat lama, Adventuriderz sampai juga di perbatasan antara Glenmore dan Sarongan dengan sambutan para lutung yang bergelantungan di atas pohon. Di sini barulah Adventuriderz bisa bernapas lega. Paling tidak jalur yang diambil sudah sesuai dengan tujuan alias nggak nyasar.

National-Park-Explorer-Hari-14-010

Dari perbatasan antara Glenmore dan Sarongan di pinggiran hutan, Adventuriderz masih harus melewati perkebunan kakao milik PTPN XII Sumberjambe sejauh beberapa kilometer hingga mencapai Desa Sarongan. Yups, Sarongan merupakan desa terakhir sebelum Adventuriderz masuk ke dalam area Taman Nasional Meru Betiri di sisi Sukamade (Banyuwangi). Sebelum masuk ke dalam area taman nasional, tentu saja sebagai pengunjung Adventuriderz perlu membayar tiket sebesar Rp 5.000 per hari, sedangkan motor juga Rp 5.000.

Sisa perjalanan masuk dari pos tiket ke Sukamade di dalam Taman Nasional Meru Betiri kurang lebih sejauh 14 kilometer. Sudah bisa dipastikan kondisi jalan begitu menyiksa motor dan rider karena berupa bebatuan yang tersebar begitu saja. Karakter jalan menuju Sukamade ini sama persis kok dengan Bandealit yang sama-sama berada di dalam Taman Nasional Meru Betiri. So, kalau sebelumnya sudah pernah ke Bandealit nggak akan kaget dengan kondisi jalan ke Sukamade. Menariknya, saat menuju Sukamade perlu menyeberangi sungai yang membuat perjalanan menjadi lebih menantang. Kalau nggak salah ingat, sejak pos tiket hingga ke Sukamade kurang lebih ditempuh dalam waktu 1 jam dengan riding sangat santai, dan Adventuriderz pun langsung pergi ke tujuan utama, yaitu Pantai Sukamade.

National-Park-Explorer-Hari-14-014

Sebenarnya apa sih menariknya Sukamade? Okay, Adventuriderz bakal memberikan sedikit penjelasan. Pantai Sukamade merupakan salah satu tempat pendaratan penyu di Indonesia. Di Pulau Jawa, penyu-penyu paling banyak mendarat untuk bertelur di Sukamade. Melihat proses bertelurnya penyu inilah yang menjadi daya tarik wisatawan dari berbagai belahan dunia datang ke Sukamade, karena peluang melihat penyu bertelur jauh lebih besar dibandingkan dengan tempat lain di Indonesia.

Untuk informasi saja buat teman-teman, di Sukamade terdapat penginapan dan camping ground, sehingga kita bisa dengan leluasa memilih akomodasi sesuai dengan budget masing-masing. Penginapan terdapat di Pantai Sukamade yang dikelola oleh Balai Taman Nasional Meru Betiri dengan tarif mulai dari Rp 200.000 sampai Rp 300.000 per kamar. Ada juga penginapan di Desa Sukamade dengan jarak kurang lebih 6 kilometer dari Pantai Sukamade bernama Wisma Perkebunan yang dibandrol dengan harga Rp 125.000 per orang. Kalau mau mendirikan tenda, sudah disediakan lokasi juga kok di Pantai Sukamade.

CAMERA

Sesampainya di Pantai Sukamade, Adventuriderz berkenalan dengan Pak Sugeng, salah seorang polisi hutan yang juga sebagai ranger di Taman Nasional Meru Betiri bagian Sukamade. Awalnya Adventuriderz akan bermalam di Sukamade dengan mendirikan tenda. Namun, Pak Sugeng mengatakan hal itu tidak perlu dan malah mengajak bermalam di barak polisi hutan atau barak UPKP. Tawaran itu tentu saja Adventuriderz terima dengan senang hati. Di sana Adventuriderz berkenalan dengan petugas dan ranger-ranger lainnya di Sukamade, seperti Pak Nur, Pak Yit, Mas Ardi, Mas Simons, dan lain-lain. Menariknya, dengan tinggal di barak para ranger ini Adventuriderz bisa merasakan secara langsung tugas-tugas ranger, bukan sebagai pengunjung atau wisatawan.

Sudah menjadi hal yang lumrah pada malam hari sekitar pukul 19.00-20.00 WIB seluruh wisatawan yang datang ke Sukamade berkumpul untuk bersiap-siap melihat penyu yang mendarat ke pantai. Saat wisatawan berkumpul inilah para petugas mulai sibuk dan berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada mereka sesuai dengan tugas masing-masing. Malam itu Adventuriderz ikut sebagai ranger dengan tugas mencari penyu yang mendarat di pantai, kemudian menunjukkannya kepada wisatawan.

Pantai Sukamade kurang lebih memiliki panjang 3,5 kilometer. Sepanjang area inilah ranger berpatroli mencari penyu yang naik ke pantai. Para ranger umumnya dibagi menjadi tiga group yang masing-masing berisi dua hingga tiga orang. Masing-masing group kemudian dibagi tugas. Ada yang patroli di area barat, tengah, dan timur. Oh ya, para ranger ini sudah berangkat patroli ke pantai saat para wisatawan sedang melakukan proses registrasi di kantor.

Malam itu Adventuriderz dan Pak Sugeng kebagian mencari penyu di area tengah dengan panjang area patroli lebih dari 1 kilometer. Dengan bermodalkan HT, masing-masing group saling berkomunikasi. Jika salah satu group ranger sudah menemukan penyu yang naik bertelur, maka group akan menginformasikannya kepada group lain dan kepada petugas pemandu wisatawan. Kami sudah bolak-balik berjalan menyisir area pencarian, tapi hasilnya masih nihil, belum ada penyu yang naik. Ya beginilah derita ranger, sudah berjalan sampai 5 kilometer atau 6 kilometer saja kadang belum ada penyu yang naik. Padahal banyak wisatawan yang datang ke Sukamade dan rela membayar mahal hanya untuk melihat penyu bertelur.

National-Park-Explorer-Hari-14-025

Beruntung sekali, walaupun di area pencarian kami nggak ada penyu yang naik ke pantai, kami mendapatkan informasi dari group pencarian di area barat bahwa sudah ada penyu yang naik ke pantai. Nggak perlu menunggu lama, kami langsung menuju lokasi. Wisatawan pun diminta segera menuju ke pantai. Benar saja, seekor penyu hijau dengan ukuran cukup besar naik ke Pantai Sukamade. Sayang sekali penyu itu ternyata nggak bertelur, baru sebatas orientasi. Kemungkinan penyu baru akan kembali untuk bertelur beberapa hari lagi. Memang ini nggak cukup menggembirakan bagi wisatawan, yang malam itu hampir seluruhnya wisatawan asing. Tapi paling tidak mereka masih melihat penyu mendarat di pantai. Kadang malah ada wisatawan yang tidak menemukan penyu sama sekali hingga larut malam. Namanya juga alam, kita nggak bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Wisatawan pun harus mengerti akan hal ini. Nah, jika ada penyu yang mendarat, penyu ini akan dilihat sudah pernah mendarat di Sukamade sebelumnya atau belum melalui sebuah penanda (tagging). Kalau memang belum ada tagging, ranger bakal memberikan tagging serta mengukur panjang dan lebar penyu.

Dalam satu malam, hanya satu ekor penyu saja yang ditunjukkan kepada wisatawan meskipun ranger menemukan lebih dari satu ekor penyu yang naik ke pantai. Itu dilakukan untuk menjaga ekosistem dan kenyamanan penyu-penyu di Sukamade. Malam itu Adventuriderz dan Pak Sugeng kembali patroli dengan menyisir pantai beberapa kali di area tengah. Tapi tetap saja tidak membuahkan hasil sama sekali. Nggak ada penyu yang naik ke pantai. Lelah berjalan berkilo-kilo meter, kami pun kembali ke barak sekitar pukul 23.00 WIB. Sampai di barak kami beramai-ramai langsung menyantap makan malam yang sederhana namun lezat, berupa nasi putih, ikan goreng, dan tempe goreng dengan sambal. Masakan tanpa campur tangan wanita ataupun chef profesional yang begitu nikmat. Setelah perut kenyang, semua orang sudah memejamkan mata. Para ranger memang perlu beristirahat karena keesokan paginya masih banyak tugas yang menanti.


Advertisements