National Park Explorer Hari-15: Tiba di Taman Nasional Alas Purwo

CAMERA

Mengeksplor kawasan Taman Nasional Meru Betiri, khususnya di sisi Sukamade, memang sangat menyenangkan. Tidak melulu soal track yang cukup menantang, tapi kawasan Taman Nasional Meru Betiri menyajikan kekayaan alam yang menawan. Penyu memang menjadi sajian utama di Sukamade. Tempat ini menjadi salah satu lokasi konservasi bagi penyu di Pulau Jawa. Pengunjung yang datang di Sukamade bisa melihat secara langsung proses bertelurnya penyu, serta melepas tukik-tukik (anak penyu) yang sudah menetas ke pantai.

Pada hari ke-15 (21/8/2015) ekspedisi National Park Explorer, Adventuriderz masih berada di Sukamade. Aktivitas Adventuriderz di pagi hari masih berkutat dengan penyu. Di pagi hari para ranger sudah berpatroli ke pantai, mencari kemungkinan penyu bertelur di Pantai Sukamade. Patroli pagi itu memang nggak sia-sia. Kami bisa menemukan dua sarang yang sudah diisi penuh oleh telur penyu. Nggak salah lagi, di malam hari ada penyu yang mendarat dan bertelur di pantai meskipun nggak terpantau oleh para ranger. Telur-telur penyu ini selanjutnya diambil, kemudian dibawa ke penangkaran untuk ditetaskan. Kenapa sih kok mesti dibawa ke penangkaran khusus? Alasan utamanya adalah karena di alam terbuka telur-telur penyu menjadi incaran predator. Dua predator yang kerap memangsa telur penyu antara lain babi hutan dan biawak. Dengan dibawa ke penangkaran, peluang telur-telur penyu menetas jauh lebih besar jika dibandingkan dengan dibiarkan di alam. Sekarang sudah tahu kan kalau tugas ranger di Sukamade tergolong berat. Nggak cuma berupaya menunjukkan penyu yang sedang bertelur kepada wisatawan di malam hari, tetapi juga harus patroli mencari telur penyu di pagi hari. Itu belum termasuk menjaga kawasan taman nasional agar tetap menjadi tempat yang nyaman bagi seluruh satwa yang ada.

CAMERA

Hari itu kami menemukan dua sarang yang berisi telur penyu. Satu sarang berisi 110 butir telur, sedangkan satu sarang lagi terdapat sekitar 70-an butir telur. Jumlah itu memang nggak mengejutkan sama sekali. Malah kadang satu ekor penyu bisa bertelur hingga 180 butir. Di dalam ruang penetasan semi alami, telur-telur dimasukkan ke dalam lubang sedalam kurang lebih 40 cm, mirip seperti lubang di ekosistem aslinya. Tapi itu juga tergantung dari jumlah telur. Semakin banyak telur yang didapatkan, maka lubang yang dibuat untuk penetasan juga semakin dalam. Oh ya, telur-telur dari indukan yang berbeda akan dimasukkan ke dalam lubang yang berbeda pula. Setelah dimasukkan ke dalam lubang pasir, telur-telur selanjutnya ditimbun dan diberi tanda mulai dari jenis penyu, jumlah telur, dan tanggal penemuan telur.

Setelah berupaya mencari dan melihat proses bertelurnya induk penyu di malam hari, pagi hari seperti ini wisatawan yang datang ke Sukamade kembali berkumpul di area kantor BPKP. Tujuannya melepas anakan penyu atau tukik ke pantai. Memang ini menjadi hiburan tersendiri bagi wisatawan. Tentu saja proses pelepasan tukik perlu diawasi oleh petugas atau ranger. Kali ini Adventuriderz kembali ikut ke pantai untuk mengawasi proses pelepasan tukik oleh wisatawan. Binatang yang sangat imut dan baru berumur beberapa hari itu harus hidup mandiri di alam bebas. Mereka bakal menghadapi sulitnya hidup hingga survive menjadi seekor penyu dewasa. Sayangnya peluang hidup tukik-tukik begitu kecil. Gimaa nggak? Dari 1.000 ekor tukik yang dilepas, kemungkinan yang hidup menjadi penyu dewasa hanyalah satu ekor. Uniknya, ketika tukik sudah menjadi penyu dewasa dan akan bertelur, mereka akan kembali ke tempat mereka dilahirkan, dalam hal ini Sukamade.

CAMERA

Proses pelepasan tukik sebenarnya bukanlah ritual akhir bagi wisatawan yang datang ke Sukamade. Bagi yang punya waktu lebih luang, mereka bisa melakukan aktivitas jungle track dengan menelusuri hutan. Harapannya tentu saja bisa bertemu dengan aneka satwa maupun tumbuhan langka yang ada di Taman Nasional Meru Betiri seperti Bunga Raflesia. Kebetulan pagi itu tidak ada wisatawan yang melakukan jungle track, sehingga tugas Adventuriderz sebagai ranger jadi-jadian di Taman Nasional Meru Betiri berakhir setelah mengawasi wisatawan dalam proses pelepasan tukik.

Saat hari sudah siang, Adventuriderz berpamitan dengan teman-teman ranger di Sukamade yang sudah sudi menyambut dan menerima dengan hangat kedatangan Adventuriderz. Sungguh menjadi pengalaman yang sangat berharga bisa mengikuti tugas mereka, makan bersama-sama, hingga tidur di tempat yang sama. Siang itu Adventuriderz meninggalkan kawasan Pantai Sukamade menuju Desa Sukamade untuk menunaikan shalat jumat. Yups, masjid di dalam area taman nasional memang hanya ada di Desa Sukamade yang berjarak kurang lebih 6 kilometer dari pantai dengan kondisi jalan full off road yang didominasi oleh jalan berpasir. Kalau dideskripsikan, Desa Sukamade merupakan desa yang relatif kecil. Sepertinya ini desa milik perusahaan yang mengelola perkebunan di Sukamade. Pihak yang menghuni Desa Sukamade kebanyakan ya karyawan perusahaan perkebunan tersebut. Kurang lebih kondisinya sama dengan Treblasala milik PT PP London Sumatra Indonesia Tbk yang Adventuriderz lewati dalam perjalanan ke Sukamade sehari sebelumnya.

National-Park-Explorer-Hari-15-011

Selesai menunaikan shalat jumat, Adventuriderz langsung keluar dari Sukamade melewati jalan yang sama seperti saat berangkat. Jalan keluar-masuk Sukamade memang hanya ada satu, jadi nggak ada pilihan lain. VIAR Cross X 200 SE pun kembali diuji melewati jalan batu yang kondisinya lumayan parah sepanjang belasan kilometer. Beruntung motor ini punya power dan torsi yang oke, selain dari suspensi motor yang nggak terlalu buruk, sehingga Adventuriderz bisa dengan cepat meninggalkan hutan Taman Nasional Meru Betiri menuju destinasi berikutnya, Taman Nasional Alas Purwo.

Jarak antara Taman Nasional Meru Betiri di sisi Sukamade dengan Taman Nasional Alas Purwo nggak begitu jauh. Kalau nggak salah jaraknya hanya kurang dari 70 kilometer. Rute yang ditempuh dalam menjangkau Taman Nasional Alas Purwo dari Sukamade pun nggak sulit sama sekali. Adventuriderz cukup mengarahkan kuda besi menuju Desa Sarongan, kemudian menuju Kecamatan Pesanggaran, dan dilanjutkan ke arah Kecamatan Tegaldlimo di Kabupaten Banyuwangi. Kondisi jalan yang dilewati dalam perjalanan ini relatif mulus, paling tidak sampai di Dusun Pasaranyar, Desa Kalipait, yang merupakan pemukiman terakhir menjelang Taman Nasional Alas Purwo. Dari Dusun Pasaranyar, Adventuriderz mulai memasuki kawasan hutan jati yang cukup rimbun dan menimbulkan kesan spooky. Kondisi jalan yang tadinya mulus sudah berubah menjadi jalan aspal yang rusak. Asyiknya walaupun kondisi jalan kurang baik, namun VIAR Cross X 200 SE masih nyaman dipacu dengan kecepatan tinggi hingga 80 km/jam.

National-Park-Explorer-Hari-15-018

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Adventuriderz sudah mencapai pintu gerbang Taman Nasional Alas Purwo, tepatnya di pos Rowobendo. Di sini Adventuriderz perlu membeli tiket masuk Taman Nasional Alas Purwo yang cuma Rp 5.000 per hari. Petugas di Rowobendo menyarankan Adventuriderz mendirikan tenda di pos Pancur yang jaraknya kurang lebih 8 kilometer dari Rowobendo. Pertimbangannya, Pancur merupakan spot paling ramai di Taman Nasional Alas Purwo. Banyak pengunjung yang hilir-mudik ke Pancur, terutama yang ingin pergi ritual ke berbagai goa di dalam hutan maupun yang ingin pergi menikmati keindahan Pantai Plengkung (G-Land). Selain itu, di Pancur juga terdapat camping ground dan warung yang buka selama 24 jam. Memang sangat mendukung mendirikan tenda di Pancur dibandingkan dengan spot lain di area Taman Nasional Alas Purwo.

Di dalam area Taman Nasional Alas Purwo terdapat beberapa spot yang menarik untuk dikunjungi. Namun, Adventuriderz memilih Sadengan sebagai spot kunjungan yang pertama. Dari Rowobendo ke Sadengan ini perlu menembus hutan yang begitu rimbun tapi kondisi jalannya tergolong baik. Dalam perjalanan menuju Sadengan, Adventuriderz melewati Pura Luhur Giri Salaka dan Situs Kawitan yang menjadi tempat ibadah bagi umat Hindu. Tidak jauh dari Pura Luhur Giri Salaka terdapat persimpangan. Ke kiri adalah menuju Sadengan dengan track berkarakter high speed off road. Kuda besi bisa saja dipacu dengan kecepatan tinggi, tapi tetap perlu memperhatikan kenyamanan para satwa penghuni hutan ini karena satwa seperti rusa, burung merak, ayam hutan, monyet, dan lain-lain kerap melintas atau mencari makan di jalan. Jangan sampai mereka kaget dengan kehadiran kita.

Lalu, seperti apa sih Sadengan itu? Sadengan merupakan padang savana satu-satunya di Taman Nasional Alas Purwo. Sadengan menjadi tempat berkumpulnya satwa khas taman nasional ini, apalagi kalau bukan banteng dan burung merak. Di Sadengan Adventuriderz berkenalan dengan Mas Parno dan Mas Pendi, petugas yang berjaga di Sadengan. Kami menghabiskan waktu sore dengan ngobrol sembari mengamati banteng dan burung merak yang masih banyak berkeliaran di savana. Setiap hari mereka bertugas mengamati dan menghitung jumlah satwa di savana, mulai dari banteng, burung merak, rusa, ajag atau anjing hutan, burung jalak putih, burung jarak kerbau, dan berbagai macam satwa lain yang berkeliaran di savana. Sekilas memang terlihat mudah, tapi nyatanya juga sulit mas broo..

National-Park-Explorer-Hari-15-023

National-Park-Explorer-Hari-15-025

Hari sudah semakin gelap, Adventuriderz nggak kunjung beranjak dari Sadengan. Malah Mas Parno mempersilakan jika Adventuriderz ingin bermalam di mess Sadengan yang hanya dihuni oleh dua orang petugas jaga saja, padahal kapasitasnya bisa menampung hingga tujuh orang petugas. Ya daripada riding dalam kondisi gelap ke Sadengan dalam jarak yang tidak dekat, Adventuriderz lebih memilih menerima tawaran mereka.

Oh ya, di Sadengan ini tidak ada sinyal HP sehingga siapapun bakal sulit berkomunikasi dengan dunia luar. Listrik pun hanya menggunakan generator yang dihidupkan pada malam hari. Malam itu generator hanya diisi dengan bensin 1,5 liter yang diperkirakan hanya mampu bertahan sejak menjelang magrib sampai pukul 22.00 atau 23.00 WIB. Sadengan di malam hari memang benar-benar sunyi seperti tidak ada kehidupan, kecuali sesekali terdengar satwa-satwa yang mengeluarkan suara berisik. Sukamade di Taman Nasional Meru Betiri masih jauh lebih hidup dibandingkan dengan Sadengan pada malam hari. Malam itu pun tidak ada lagi kegiatan yang dilakukan selain makan malam yang lagi-lagi dengan masakan tanpa campur tangan wanita dan tidur dengan lelap.


Advertisements