National Park Explorer Hari-16: Menelusuri Berbagai Sudut Alas Purwo


National-Park-Explorer-Hari-16-012

Nggak terasa ekspedisi National Park Explorer telah memasuki hari ke-16 pada 22 Agustus 2015. Di hari ke-16 Adventuriderz sudah berada di Taman Nasional Alas Purwo yang berada di Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. Taman Nasional Alas Purwo merupakan taman nasional yang kesembilan dari total 10 taman nasional di Pulau Jawa yang dieksplor dalam ekspedisi ini. Sebelumnya Adventuriderz sudah mengunjungi Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Ciremai, Taman Nasional Gunung Merbabu, Taman Nasional Gunung Merapi, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dan Taman Nasional Meru Betiri.

Alhamdulillah hingga mencapai Taman Nasional Alas Purwo Adventuriderz belum mengalami kendala yang cukup berarti. Motor VIAR Cross X 200 SE yang digunakan dalam ekspedisi ini sudah menempuh jarak hampir 3.000 kilometer, melewati berbagai kondisi medan, mulai dari jalan aspal yang mulus hingga single track di pegunungan yang sangat menantang dan lumayan menyiksa mesin. Sejauh ini mesin VIAR Cross X 200 SE masih sangat mumpuni dan selalu siap untuk digeber hingga full throtle.

Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, Adventuriderz tiba di Taman Nasional Alas Purwo pada perjalanan hari ke-15 saat hari sudah menjelang sore. Adventuriderz kemudian bermalam di mess petugas jaga Sadengan, sebuah kawasan savana paling luas dan satu-satunya di Taman Nasional Alas Purwo. Pada hari ke-16 ini Adventuriderz masih akan banyak berkutat dan mengeksplor berbagai sisi menarik di taman nasional yang menurut orang-orang banyak menyimpan cerita mistis.

National-Park-Explorer-Hari-16-005

Pagi hari Adventuriderz sudah beranjak dari tempat tidur, mandi, dan kemudian melihat aktivitas para satwa di Sadengan. Ya, pagi hari memang waktu yang sangat tepat untuk memantau satwa di Sadengan karena sudah menjadi hal yang lazim satwa mencari makan di padang rumput ketika matahari masih belum begitu menyengat. Satu per satu satwa keluar dari hutan. Tentu saja banteng menjadi satwa yang paling mudah dilihat di Sadengan, diikuti dengan burung merak, burung jalak kerbau, burung jalak putih, burung gagak, monyet, dan lutung. Benar-benar menjadi sebuah pemandangan yang indah bisa melihat para satwa berkeliaran dengan bebas di alam. Banteng sibuk merumput, sedangkan burung jalak kerbau dan burung jalak putih dengan santai berada di atas badan banteng untuk mencari kutu. Di lain pihak burung-burung merak jantan sibuk berteriak sembari mengembangkan bulu-bulunya yang sangat cantik agar merak betina terpikat. Saat musim kawin seperti ini memang memang menjadi waktu yang tepat untuk melihat aktivitas burung merak dalam memikat pasangannya.

National-Park-Explorer-Hari-16-013

Puas mengamati aktivitas satwa di Sadengan, Adventuriderz berpamitan dengan Mas Parno dan Mas Pendi, petugas jaga di Sadengan. Adventuriderz harus bergerak ke spot-spot lain di Taman Nasional Alas Purwo yang cukup banyak dengan jarak masing-masing yang lumayan berjauhan. Dari Sadengan, Adventuriderz memacu VIAR Cross X 200 SE menuju Pantai Trianggulasi. Kondisi pantai berpasir putih ini sangat sepi. Bahkan pagi hari itu tidak ada pengunjung sama sekali. Bentang Pantai Trianggulasi sendiri lumayan panjang hingga mencapai Pantai Pancur. Adventuriderz sempat mencicipi riding menelusuri bibir Pantai Trianggulasi namun dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Adventuriderz khawatir kalau sepanjang bibir pantai menjadi tempat pendaratan penyu untuk bertelur, sehingga keinginan menelesuri bibir pantai dengan motor diurungkan.

Adventuriderz memang tidak berlama-lama di Pantai Trianggulasi. Dari sana Adventuriderz memacu motor menuju Pancur melewati jalan aspal yang kondisinya tidak terlalu baik. Aspal sudah banyak yang pecah dan lubang di mana-mana menjadi pemandangan yang sangat biasa. Pancur sendiri merupakan tempat paling ramai di Taman Nasional Alas Purwo. Pancur menjadi pintu masuk menuju berbagai spot lain di Taman Nasional Alas Purwo, misalnya menuju Goa Istana, Goa Mayangkoro, Goa Padepokan, dan Pantai Plengkung (G-Land) yang menjadi tempat favorit wisatawan asing untuk surfing. Tidak sedikit pengunjung yang datang ke Taman Nasional Alas Purwo melakukan ritual di goa-goa tersebut. Jadi bukan hal yang aneh lagi kalau di tempat yang sudah sangat pelosok seperti ini, Pancur bisa dikatakan hidup selama 24 jam. Selalu ada saja pengunjung yang keluar atau masuk goa melalui Pancur meskipun di malam hari. Selain itu, di Pancur terdapat camping ground yang bisa digunakan sebagai tempat untuk mendirikan tenda, dan di sana terdapat sebuah warung makan satu-satunya di dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Selebihnya tidak ada yang cukup menarik di Pancur yang memang lebih difokuskan sebagai pos keluar-masuk goa-goa maupun ke Pantai Plengkung. Memang Pancur memiliki pantai dengan pasir putih, tapi itu tidak menjadi daya tarik utama. Perlu teman-teman ketahui, di Taman Nasional Alas Purwo tidak tersedia penginapan, sehingga mendirikan tenda di camping ground bisa menjadi solusi terbaik. Alternatif lain bisa juga tidur di mushola yang ada di sana.

National-Park-Explorer-Hari-16-017

Meskipun tidak ada objek yang cukup menarik di Pancur, namun Adventuriderz berada di sana dalam waktu yang cukup lama. Sembari ngopi, Adventuriderz sempat ngobrol banyak dengan pemilik warung di Pancur. Obrolan dimulai dengan pengalaman-pengalaman pribadi sampai berbagai ritual yang dilakukan oleh pengunjung yang datang ke Taman Nasional Alas Purwo. Dari cerita itu, ternyata beliau juga suka melakukan perjalanan jarak jauh. Bedanya perjalanan itu ditempuh dengan jalan kaki. Malah si bapak sudah pernah perjalanan kaki hingga pesisir selatan Jawa Barat. Luar biasa kan?

Nah, saat berada di Taman Nasional Alas Purwo memang Adventuriderz nggak berniat masuk ke goa-goa. Kenapa? Akses menuju goa hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki mas bro. Motor nggak bisa masuk. Jarak dari Pancur ke masing-masing goa juga lumayan, rata-rata sekitar 2 kilometer melewati hutan. Bagaimana dengan ke Pantai Plengkung? Ini juga sama, Adventuriderz nggak ke sana. Untuk menuju Pantai Plengkung nggak boleh menggunakan kendaraan pribadi, melainkan harus menggunakan kendaraan sewaan dengan tarif kalau nggak salah Rp 200.000 pergi-pulang untuk jarak sejauh 8 kilometer.

National-Park-Explorer-Hari-16-016

Rasanya Adventuriderz memang cukup betah berada di Pancur. Tapi perjalanan harus dilanjutkan kembali. Dari Pancur Adventuriderz riding ke arah Rowobendo, pos awal sebagai gerbang masuk menuju Taman Nasional Alas Purwo. Selanjutnya Adventuriderz mengambil arah menuju Ngagelan. Track menuju Ngagelan ini cukup seru juga lho karena berupa jalan tanah membus hutan Alas Purwo. Di beberapa titik kondisi jalan terlihat padat, tapi di bagian lain gembur berdebu seperti pasir. Perjalanan menuju Ngagelan sangat sepi, tidak ada satu pun orang yang lewat. Motor bisa dipacu dengan kecepatan penuh karena memang sangat memungkinkan. Jarak antara Rowobendo dan Ngagelan sepanjang 6,5 kilometer itu pun bisa ditempuh sangat cepat.

National-Park-Explorer-Hari-16-021

Sesampainya di Ngagelan, Adventuriderz disambut oleh petugas jaga bernama Pak Supomo. Ini merupakan pertemuan kedua Adventuriderz dengan beliau. Sekitar setahun yang lalu Adventuriderz pernah berkunjung ke Taman Nasional Alas Purwo. Ketika Pak Supomo yang masih bertugas di Pancur membantu Adventuriderz mencari penginapan di rumah penduduk yang ada di Dusun Pasaranyar, perkampungan terakhir sebelum masuk kawasan taman nasional. Bersyukur sekali Pak Supomo masih ingat dengan Adventuriderz.

CAMERA

Memangnya Ngagelan itu tempat apa? Nah, inilah keragaman di Taman Nasional Alas Purwo. Selain punya padang savana Sadengan, Pantai Trianggulasi, Pantai Pancur, Pantai Plengkung, dan berbagai macam goa, Taman Nasional Alas Purwo juga punya tempat penetasan penyu semi alami. Kurang lebih mirip seperti Sukamade di Taman Nasional Meru Betiri. Bedanya Ngagelan memiliki bentang pantai yang jauh lebih panjang dibandingkan dengan Sukamade sehingga petugas harus bekerja ekstra dalam mencari sarang-sarang penyu yang sudah berisi telur.

Tanpa basa-basi Pak Supomo menemani Adventuriderz melihat secara langsung tempat penetasan penyu semi alami di Ngagelan. Kondisi penetasan penyu di Ngagelan sebenarnya nggak jauh berbeda dengan di Sukamade. Namun di sini terdapat penyu-penyu yang dibesarkan untuk tujuan penelitian. Saat itu setidaknya ada tiga jenis penyu yang berada di dalam kolam, yaitu penyu abu-abu, penyu sisik, dan penyu belimbing. Tentu saja ini memberikan pekerjaan tambahan bagi para petugas jaga di Ngagelan karena mereka harus mengganti air kolam setiap hari, memberi makan penyu dengan ikan atau udang segar, hingga menyikat badan penyu agar terbebas dari jamur.

CAMERA

Setelah cukup puas melihat tempat penetasan telur semi alami di Ngagelan, Adventuriderz pamit dengan Pak Supomo karena harus melanjutkan perjalanan menuju spot terakhir di Taman Nasional Alas Purwo, apa lagi kalau bukan Bedul. Jarak antara Ngagelan dan Bedul kurang lebih 6,5 kilometer, kembali melewati jalur off road menembus hutan yang sangat sepi. Asyiknya motor bisa dipacu dengan maksimal lantaran jalannya cukup rata dan mudah dilalui.

Tiba di Bedul, Adventuriderz disambut oleh Pak Sulaiman selaku petugas jaga di sana. Adventuriderz banyak ngobrol dan sharing dengan Pak Sulaiman mengenai Taman Nasional Alas Purwo dan taman-taman nasional lain yang berada di Indonesia. Dari beliau Adventuriderz mendapatkan banyak pengetahuan baru, terlebih beliau sudah pernah ditempatkan di tempat konservasi lainnya, termasuk pernah bertugas di Taman Nasional Gunung Ciremai.

National-Park-Explorer-Hari-16-029

Bercerita mengenai Bedul, lokasi ini sebenarnya hanyalah berupa hutan bakau yang berada di Taman Nasional Alas Purwo bagian barat. Sajian utama di Bedul tentu saja menikmati rimbunnya hutan bakau dan melihat berbagai macam burung migran. Memang Bedul menjadi tempat yang sangat cocok untuk pengamatan satwa, khususnya burung. Burung-burung di Bedul biasanya banyak berseliweran pada pagi dan sore hari.

Oh ya, bisa dikatakan Bedul merupakan ujung barat Taman Nasional Alas Purwo alias sudah mentok. Ada dua alternatif keluar Taman Nasional Alas Purwo dari Bedul. Alternatif pertama tentu saja melewati jalan seperti saat menuju Bedul, dengan kembali ke arah Ngagelan dan Rowobendo melewati hutan sepanjang 13 kilometer, yang dilanjutkan menuju ke arah Desa Kalipait. Alternatif kedua adalah dengan menaiki perahu menyeberangi segara anakan menuju perkampungan yang berada di seberang Bedul.

National-Park-Explorer-Hari-16-031

Untuk menghemat waktu, Adventuriderz lebih memilih keluar Taman Nasional Alas Purwo (Bedul) dengan menaiki perahu yang dikelola oleh masyarakat setempat. Perahu ini biasa menyeberangkan para wisatawan yang ingin masuk ke dalam area Taman Nasional Alas Purwo di sisi Bedul. Bagaimana dengan motornya? Motor tetap bisa dinaikkan ke atas perahu kok. Dalam penyeberangan ini Adventuriderz membayar ongkos Rp 30.000. Itu sudah termasuk ongkos penyeberangan motor beserta ridernya. Kalau motornya lebih kecil tarifnya bakal lebih murah kok, mungkin bisa Rp 15.000 sampai Rp 20.000 saja.

National-Park-Explorer-Hari-16-033

Penyeberangan dari Bedul ke perkampungan itu tidak membutuhkan waktu lama, karena pada dasarnya segara anakan yang diseberangi tidak terlalu luas. Mungkin bentang lebar segara anakan ini hanya sekitar 200 meter. Hanya sekitar 10 menit perahu sudah bersandar di dermaga. Adventuriderz pun langsung menurunkan motor dari atas perahu, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kota Banyuwangi melewati Kecamatan Tegaldlimo. Sialnya siang itu Tegaldlimo sangat ramai oleh karnaval memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Jalan aspal yang relatif sempit itu penuh oleh arak-arakan peserta karnaval. Di sisi kanan-kiri jalan juga penuh oleh warga yang sangat antusias menyaksiakan karnaval. Praktis perjalanan dari Tegaldlimo menuju Kota Banyuwangi terhambat cukup lama, sehingga baru tiba di Kota Banyuwangi saat matahari hampir tenggelam.

Di Banyuwangi, Adventuriderz mampir ke Respiro Store yang berada di Jalan Ahmad Yani No. 74. Monggo buat teman-teman yang berada di Banyuwangi dan sekitarnya, bisa menyambangi Respiro Store Banyuwangi untuk mendapatkan produk-produk apparel yang menarik dengan harga terjangkau. Mulai dari jaket, riding pants, gloves, buff, duffle bag, dan lain-lain, komplit ada di Respiro Store Banyuwangi.

National-Park-Explorer-Hari-16-039

Menariknya nih ya, Respiro Store Banyuwangi biasa digunakan sebagai tempat kongkow para bikers, terutama saat malam minggu. So, kalian bisa menambah teman dan sahabat baru saat berkunjung ke Respiro Store Banyuwangi. Di sana Adventuriderz pun berkenalan dengan beberapa orang. Salah duanya Mas Fatah sebagai Respiro Crew dan Mas Yoga yang merupakan anggota Thunder Club Indonesia (TCI).

Dari Banyuwangi ini rencananya Adventuriderz akan melanjutkan perjalanan menuju Ijen. Ijen memang nggak masuk dalam kategori taman nasional. Tapi rasanya sangat sayang dilewatkan. Lihat saja, banyak sekali wisatawan dari berbagai belahan dunia yang mengunjungi Ijen. Itu sudah cukup membuktikan kalau Ijen sangat layak disambangi dalam ekspedisi ini walaupun bukan sebagai tujuan utama. Toh Adventuriderz sudah sampai di Banyuwangi yang jaraknya nggak terlalu jauh untuk menuju Ijen, sekitar 35 kilometer.

Malam itu jalan menuju Ijen diprediksi macet karena sedang ada acara Jazz Ijen. Adventuriderz baru menggeber motor menuju Ijen sekitar pukul 22.00 WIB, kurang lebih setelah Jazz Ijen bubar. Adventuriderz sangat berterima kasih kepada Mas Yoga yang telah sudi mengawal hingga setengah perjalanan. Selanjutnya kembali melakukan solo riding menembus kegelapan malam melewati jalan mulus yang cukup berliku. Meskipun berada di pegunungan, kondisi jalan dari Banyuwangi menuju Ijen cukup bersahabat. Tanjakan-tanjakan yang ada relatif landai, tidak ada yang cukup tinggi. Tikungan-tikungannya pun biasa saja, nggak spesial. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB ketika Adventuriderz sampai di Paltuding yang merupakan pos masuk pendakian ke Ijen. Paltuding malam itu sudah sangat ramai pengunjung dari berbagai daerah, bahkan dari berbagai negara. Suhu udara yang mencapai 17 derajat di Paltuding membuat badan cukup menggigil. Setidaknya masih ada waktu dua jam sebelum pos pendakian dibuka. Yups, pendakian ke Kawah Ijen memang baru dibuka pada pukul 01.00 WIB. Waktu dua jam ini Adventuriderz manfaatkan untuk beristirahat alias tidur di salah satu ruangan pos. Perjalanan di hari ke-16 ini memang sangat panjang dan menguras tenaga.


Advertisements