National Park Explorer Hari-17: Mendaki Kawah Ijen Demi Blue Fire


National-Park-Explorer-Hari-17-001

Pada perjalanan ekspedisi National Park Explorer hari ke-16 nyaris tengah malam, Adventuriderz sudah berada di Paltuding yang merupakan pos pendakian menuju Kawah Ijen. Kawah Ijen memang nggak termasuk dalam taman nasional dan nggak ada dalam agenda ekspedisi National Park Explorer. Namun salah satu destinasi wisata di Banyuwangi, Jawa Timur, yang satu ini memang sangat sayang jika dilewatkan. Apalagi Adventuriderz masih memiliki cukup waktu karena perjalanan-perjalanan di hari-hari sebelumnya ternyata lebih cepat dibandingkan dengan jadwal yang sudah dibuat.

Meskipun sudah sampai Paltuding sebelum tengah malam, tapi Adventuriderz nggak bisa langsung melakukan pendakian ke Kawah Ijen. Kenapa? Pos pendakian baru dibuka pada pukul 01.00 WIB. Artinya, Adventuriderz bakal memulai mendaki menuju Kawah Ijen pada hari ke-17 (23/8/2015) bersama-sama dengan ratusan pendaki lain yang sudah berada di Paltuding.

Tepat pukul 01.00 WIB, ditemani udara yang begitu menusuk tulang, Adventuriderz pergi menuju loket untuk membayar retribusi sebesar Rp 15.000. Tarif yang ditetapkan untuk pengunjung domestik ini memang cukup murah. Setelah mendapatkan tiket, Adventuriderz langsung bergegas ke gerbang pendakian yang sudah cukup ramai. Mungkin efek liburan akhir pekan sehingga Ijen dibanjiri oleh pengunjung.

Oh ya, Paltuding yang menjadi tempat start pendakian berada di ketinggian 1.850 meter di atas permukaan laut, sedangkan Kawah Ijen berada di ketinggian 2.380 meter di atas permukaan laut. Melihat kondisi itu, pendakian menuju Kawah Ijen sebenarnya nggak terlalu sulit karena hanya naik sekitar 530 meter dengan jarak tempuh kurang lebih sejauh 3 kilometer. Dalam pendakian malam itu Adventuriderz hanya berbekal penerbangan dari lampu flash HP. Adventuriderz memang sudah mempersiapkan diri dengan membawa senter. Sayangnya baterai senter sudah benar-benar habis dan tidak bisa digunakan lagi.

Awal pendakian memang terasa cukup mudah. Kondisi jalan yang dilalui masih relatif landai. Tapi sekitar sepertiga perjalanan hal itu berubah total. Jalan semakin menanjak, berdebu, dan licin karena tanah atau pasir yang sangat gembur. Badan yang semula menggigil kedinginan menjadi bercucuran keringat. Nafas pun mulai tersengal-sengal menghadapi tanjakan yang seolah nggak ada habisnya. Kalau dilihat tracknya, perjalanan menuju ke Kawah Ijen masih sangat bisa dilalui oleh motor, khususnya motor trail yang punya torsi besar. Namun kalau motor diizinkan naik, itu akan mengganggu para pengunjung yang berjalan kaki dan para penambang belerang yang ada di Kawah Ijen lantaran akses jalan yang nggak terlalu lebar.

Sekitar satu setengah jam berjalan, nggak terasa Adventuriderz sudah berada di atas bibir Kawah Ijen. Sayangnya ini bukanlah tujuan akhir. Salah satu alasan kenapa banyak pengunjung yang mendaki Kawah Ijen lebih awal adalah karena ingin melihat api biru atau blue fire yang muncul di dasar kawah. Fenomena blue fire memang sangat menarik perhatian pengunjung Kawah Ijen. So, dari bibir atas kawah ini Adventuriderz perlu turun ke dasar kawah melewati jalan yang sangat terjal. Mendekati dasar kawah, bau belerang memang sangat menyengat. Sebaiknya sih nggak boleh berlama-lama menghirup bau belerang karena bisa merusak sistem pernafasan.

Sekedar informasi saja buat teman-teman, kondisi jalan yang sangat terjal, licin, penuh dengan batu, dan rawan longsor membuat kita perlu ekstra hati-hati ketika berjalan menuju dasar Kawah Ijen. Jalan yang penuh dengan debu dan pasir membuatnya licin dan rawan terpeleset, bahkan tergelincir. Ada baiknya menggunakan sepatu yang benar-benar untuk hiking agar perjalanan menjadi lebih mudah.

Di jalan setapak yang penuh bebatuan itu sesekali Adventuriderz harus berbagi jalan dengan penambang yang memikul belerang dengan berat sekitar 80 kilogram sekali angkut. Yups, penambang-penambang belerang di Kawah Ijen memang orang-orang yang luar biasa. Mereka mampu mengangkut beban yang sangat berat melewati jalan yang super terjal demi mengais rupiah yang tidak banyak. Pekerjaan mereka bukan tanpa risiko. Bahkan risikonya kalau boleh dibilang sangatlah besar. Mulai dari risiko tergelincir di jurang hingga risiko penyakit saluran pernafasan. Dalam jangka panjang, paru-paru para penambang belerang ini terancam rusak. Berbagai risiko itu sepertinya nggak berarti demi mendapatkan pundi-pundi rupiah yang berkisar puluhan ribu saja. Menurut informasi yang Adventuriderz dapatkan, para penambang bisa dua kali naik turun membawa puluhan kilogram belerang dalam sehari.

National-Park-Explorer-Hari-17-003

Akhirnya sekitar pukul 03.00 WIB dini hari Adventuriderz sudah mencapai dasar kawah dan melihat betapa indahnya fenomena blue fire. Api yang berwarna biru itu sesekali muncul dari beberapa spot dan akan menghilang dengan cepat karena tertutup asap belerang. Hal itu terus berulang, sehingga membutuhkan kesabaran yang ekstra ketika akan memotret blue fire. Konon, blue fire ini terjadi karena tingginya suhu di dalam kawah. Kita boleh berbangga nih karena fenomena blue fire hanya ada dua di dunia. Pertama ya di Kawah Ijen ini, sedangkan yang kedua bisa dilihat di Islandia. Oh ya, fenomena blue fire hanya terlihat saat langit masih gelap, tepatnya dini hari. Jika matahari sudah mulai muncul, tentu saja blue fire sudah tidak bisa dilihat lagi.

Pagi itu memang belum banyak pengunjung yang bisa mencapai dasar kawah untuk melihat blue fire. Dari ratusan pengunjung Kawah Ijen, mungkin tidak sampai 20 orang sudah sampai di dasar kawah pada pukul 03.00 WIB. Selain aktivitas pengunjung yang sibuk mengabadikan fenomena blue fire, Adventuriderz juga melihat para penambang mengambil belerang yang masih cair, kemudian mencetaknya menjadi berbagai macam motif. Belerang yang sudah dicetak itu kemudian dijual kepada pengunjung sebagai souvenir. Ya, memang mereka harus pintar-pintar memutar otak untuk mendapatkan uang agar tidak melulu bergantung pada pikulan puluhan kilogram belerang yang sangat membebani badan mereka.

CAMERA

National-Park-Explorer-Hari-17-007

Puas melihat blue fire, Adventuriderz kembali naik ke atas bibir kawah, menanti sunrise. Rasanya menanti sunrise muncul ini juga menjadi perjuangan yang nggak kalah berat. Kurang lebih selama dua jam Adventuriderz dan banyak pengunjung lainnya harus diterpa dengan udara yang begitu dingin. Apalagi angin di pagi itu juga cukup kencang, ditambah dengan mata yang begitu lengket ingin terpejam dan fisik yang mulai letih. Setelah sekian lama menunggu, matahari akhirnya muncul juga walaupun Adventuriderz nggak bisa menyaksikan sunrise karena tertutup awan. Ketika matahari semakin tinggi, air Kawah Ijen yang berwarna hijau terlihat sangat cantik, menjadi pelengkap sajian keindahan pada pagi hari itu.

National-Park-Explorer-Hari-17-009

National-Park-Explorer-Hari-17-011

Pukul 06.30 WIB, Adventuriderz sudah bergerak meninggalkan Kawah Ijen menuju Paltuding. Ternyata perjalanan turun ini jauh lebih sulit dibandingkan dengan perjalanan naik. Adventuriderz beberapa kali terpeleset saat turun. Meskipun demikian, perjalanan turun ini menjadi lebih menyenangkan dan berwarna dengan pemandangan beberapa gunung yang terlihat di depan mata. Ntah gunung apa itu, yang jelas sangat cantik!

CAMERA

Sesampainya di Paltuding, Adventuriderz langsung bergegas memacu tunggangan, VIAR Cross X 200 SE, kembali ke Banyuwangi. Suhu udara yang masih cukup dingin membuat tunggangan hanya dipacu santai, malah cenderung pelan, melintasi jalan aspal mulus yang menurun dan berkelok-kelok. Di Banyuwangi Adventuriderz berhenti cukup lama, membersihkan badan, mengisi perut, dan beristirahat.

Lewat tengah hari, Adventuriderz mulai meninggalkan Kota Banyuwangi ke arah Ketapang dan Situbondo. Tujuannya adalah ke taman nasional terakhir dalam ekspedisi ini. Apa lagi kalau bukan Taman Nasional Baluran yang masuk dalam wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Perjalanan menuju Taman Nasional Baluran kembali dihadang oleh arak-arakan karnaval dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Banyuwangi memang sangat bergairah sebelum dan sesudah 17 Agustus. Banyak sekali rangkaian-rangkaian acara yang digelar, sebuah promosi yang sangat bagus bagi industri pariwisata di sana.

Arak-arakan karnaval berhasil dilewati, Adventuriderz masih memacu tunggangan dengan santai. Toh jarak antara Banyuwangi dan Taman Nasional Baluran nggak begitu jauh, jadi nggak perlu terburu-buru. Sekitar pukul 16.00 WIB, Adventuriderz sampai juga di Taman Nasional Baluran, tepatnya di Pos Batangan. Tanpa buang-buang waktu, setelah membeli tiket masuk, VIAR Cross X 200 SE langsung digeber dengan maksimal menuju ke Savana Bekol. Yups, Savana Bekol merupakan sajian utama di Taman Nasional Baluran. Banyak satwa yang bermunculan di Savana Bekol, mulai dari rusa, banteng, kerbau hutan, hingga burung merak. Menariknya, kondisi jalan menuju Savana Bekol sudah rusa, tapi motor masih bisa dipacu dengan kecepatan tinggi. Jarak antara Batangan dan Bekol sendiri kurang lebih 15 kilometer.

National-Park-Explorer-Hari-17-018

Sayang, Adventuriderz sepertinya tiba di Bekol sudah terlalu sore. Para satwa sudah nggak ada lagi yang nongol. Rusa yang biasanya banyak sekali di Savana Bekol juga tidak nampak sama sekali. Yang bisa dilihat pada sore itu hanyalah padang rumput yang menguning sangat luas. Di musim kemarau seperti sekarang, Savana Bekol memang tampak gersang. Mungkin pemandangan ini bakal berbeda jika datang di musim penghujan.

Sambil menunggu malam tiba, Adventuriderz makan di sebuah warung yang ada di Bekol sembari ngobrol-ngobrol dengan petugas yang ada di sana. Bagaimana dengan tidur malam ini? Di Bekol nggak ada camping ground. Kenapa? Berbagai sisi bekol sering kali digunakan sebagai perlintasan satwa pada malam hari. Tapi kalau ingin tidur nyaman, di Bekol sudah ada penginapan dengan rentang tarif mulai dari Rp 150.000 per malam hingga Rp 300.000 per malam. Tinggal disesuaikan saja dengan kebutuhan.

National-Park-Explorer-Hari-17-023

Malam itu Adventuriderz tetap akan mendirikan tenda. Tempatnya nggak di Bekol, melainkan di Batangan, sekitar pos masuk tadi. Petugas di Pos Batangan yang Adventuriderz temui saat masuk sudah mengizinkan untuk mendirikan tenda di dekat Goa Jepang. Berarti Adventuriderz harus balik lagi ke Batangan sejauh 15 kilometer. Riding dari Bekol ke Batangan melewati hutan di malam hari memang cukup spooky. Nggak ada sama sekali orang yang lewat, nggak ada penerangan. Cahaya lampu ya cuma berasal dari motor saja. Sekitar pukul 20.00 WIB, Adventuriderz sudah sampai lagi di Batangan, mendirikan tenda, dan langsung tidur dengan nyenyak. Keesokan paginya baru berburu foto-foto satwa di Savana Bekol.


Advertisements