Review VIAR Cross X 200 SE (3): Performanya Patut Diacungi Jempol!!


VIAR-Cross-X-200-SE-Tri-Setyo-Wijanarko-001

Beruntung sekali rasanya saya bisa mencicipi nunggang motor trail buatan PT Triangle Motorindo, VIAR Cross X 200 SE, selama berbulan-bulan. Bahkan sekitar 23 hari di antaranya digunakan untuk melakukan ekspedisi National Park Explorer alias menjelajahi taman nasional yang ada di Pulau Jawa dengan berbagai kondisi medan dengan total jarak tempuh mencapai 4.000 kilometer. Hasilnya, kelebihan dan kelemahan VIAR Cross X 200 SE bisa tergali dengan baik dan bisa dibagikan kepada teman-teman semua. Terimakasih buat PT Triangle Motorindo yang sudah sudi memberikan kesempatan kepada saya untuk menggeber habis-habisan VIAR Cross X 200 SE dalam rentang waktu yang cukup lama. Lalu, bagaimana impresi menggunakan VIAR Cross X 200 SE? Yuk kita bahas!

Dari segi riding position, rasanya VIAR Cross X 200 SE nggak ada bedanya dengan motor trail lainnya. Tegak, stang tinggi dan lebar, posisi kaki bisa rileks, dan yang cukup mengejutkan motor ini ternyata lumayan tinggi mas bro. Saya yang mempunyai tinggi 178 cm masih belum bisa menapak dengan sempurna ketika menunggang VIAR Cross X 200 SE. Tapi itu bukan masalah yang berarti kalau motor sudah jalan mah gas aja.. Hehehe..

National-Park-Explorer-Hari-13-006

National-Park-Explorer-Hari-5-007

Berdasarkan pengalaman yang sudah cukup lama bercengkerama dengan VIAR Cross X 200 SE, salah satu hal yang sangat menonjol pada motor ini adalah performanya. Tenaga VIAR Cross X 200 SE begitu bengis, cukup meledak-ledak, dan torsinya juga sangat nampol. Nggak heran kalau mau wheelie bisa dengan mudah dilakukan dengan motor ini. Sekali sentak, ban depan langsung ngangkat mas bro! Dengan tenaganya yang lumayan nampol itu, VIAR Cross X 200 SE bisa dengan sangat mudah menaklukkkan tanjakan-tanjakan tinggi tanpa ada gejala kedodoran sama sekali. Mau nanjak pakai gigi dua, tiga, atau empat nggak ada masalah. Nggak akan gejala ngedrop karena torsi selalu ngisi setiap saat kapanpun dibutuhkan.

Pernah motor ini saya ajak melewati jalanan naik turun ke Kasepuhan Ciptagelar (Taman Nasional Gunung Halimun Salak), lewat jalur pendakian Gunung Ciremai hingga pos dua, jalur terjal antara Cibingbin (Jawa Barat) dan Salem (Jawa Tengah), melewati jalur pegunungan di Dieng, kaki Gunung Merbabu, lereng Gunung Merapi, melahap lautan pasir Bromo, hingga nanjak dari Bromo ke B29 via Bantengan, semuanya dilewati dengan mulus. Nggak ada ceritanya mesin ngowos kurang tenaga atau torsi.

National-Park-Explorer-Hari-11-008

National-Park-Explorer-Hari-11-015

National-Park-Explorer-Hari-11-021

Kalau mas bro biasa pakai motor trail 150 cc brand Jepang (Geng Ijo) dalam kondisi standar, pasti bakal kaget dengan hentakan tenaga yang dikeluarkan oleh VIAR Cross X 200 SE. Ibaratnya kalau naik motor trail 150 cc brand Jepang dalam kondisi standar itu seperti menggembala anak domba. Nah, kalau naik VIAR Cross X 200 SE standar saya ibaratkan seperti menggembala sapi. Tarikan dan tenaganya lebih kuat, tapi masih mudah dikendalikan. Mau diadu off road dalam kondisi sama-sama standar? Wani pek-pekan motor mas bro… Xixixixixi… Terlepas dari kubikasi mesin motor trail brand Jepang yang lebih kecil, tapi harganya itu lho jauh lebih mahal dibandingkan dengan VIAR Cross X 200 SE. Selisihnya bisa mencapai Rp 9 juta. Yups, kemampuan VIAR dalam meracik Cross X 200 SE patut diacungi jempol. Bahkan saya mengacungi dua jempol buat performa mesin Cross X 200 SE, khususnya untuk bermain-main di jalur off road, arena sesungguhnya bagi sebuah motor trail! Terus gimana ketahanan dan kenyamanan VIAR Cross X 200 SE untuk perjalanan jarak jauh?

National-Park-Explorer-Hari-14-017

VIAR Cross X 200 SE sebenarnya sudah pernah diuji oleh tim VIAR Jelajah Indonesia (VJI) seri pertama dengan menempuh jarak sejauh 25.000 km dari Sabang sampai Merauke. Dari situ sudah bisa dibuktikan kalau motor ini memang tangguh. Kalau perjalanan saya kemarin di ekspedisi National Park Explorer hanya menempuh jarak sejauh 4.000 km dari Lampung ke Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Halimun Salak, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Ciremai, Dieng, Taman Nasional Gunung Merbabu, Taman Nasional Gunung Merapi, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Alas Purwo, Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, dan kembali lagi ke Lampung. Perjalanan itu melewati berbagai kondisi medan, mulai dari jalan aspal mulus, jalan perkotaan yang super macet, jalur pegunungan yang penuh tanjakan, jalur off road di pegunungan, jalur berpasir seperti di Bromo, hingga jalur off road bebatuan yang sangat menyiksa seperti di Taman Nasional Meru Betiri. Alhamdulillah VIAR Cross X 200 SE nggak mengalami kendala sama sekali.

Soal kenyamanan, memang motor trail dengan jok yang super sempit dan tipis nggak ada yang nyaman digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Beruntung jok VIAR Cross X 200 SE sedikit lebih empuk dan lebih tebal dibandingkan dengan motor trail 150 cc brand Jepang yang biasa saya gunakan sehari-hari. At least b*k*ng saya masih kuat menempuh jarak antara 200-350 kilometer per hari selama ekspedisi National Park Explorer. Khusus untuk suspensi sudah cukup oke kok walaupun suspensi depan yang sudah upside down itu masih kurang empuk, terutama jika melibas jalur off road berbatu dengan kecepatan tinggi. Wiiiihh… Tangan ngiluuuu…

National-Park-Explorer-Hari-14-010

Mungkin mas bro sekalian bertanya-tanya, berapa sih kecepatan maksimal VIAR Cross X 200 SE kok nekat dipakai untuk ekspedisi jarak jauh? Memang saya nggak begitu mementingkan top speed, karena saya lebih memilih motor yang bisa melewati berbagai kondisi medan dengan mudah. Apalagi sebagian besar kondisi jalan di area taman nasional masih cukup parah. Motor dengan kemampuan off road jauh lebih mendukung dalam ekspedisi tersebut dibandingkan dengan motor berkecepatan tinggi. Ketika di jalan aspal, saya bisa memacu VIAR Cross X 200 SE mentok di kecepatan 100 km/jam. Itupun getaran stangnya sudah sangat terasa dan tentu saja nggak nyaman. Rendahnya top speed itu bukan karena mesinnya yang nggak mampu lebih cepat mas bro, tapi karena VIAR Cross X 200 SE menggunakan gear belakang yang besar berukuran 56T. Gear besar seperti ini enak buat nanjak dengan torsi nampol, namun nggak enak buat speed. Waktu dipacu, gas masih sisa banyak, cuma speed nggak bisa nambah karena dibatasi oleh gear yang besar. Sekali lagi, VIAR Cross X 200 SE pada dasarnya di-setting sebagai motor off road, jadi nggak butuh speed tinggi. Bisa saja mengakali biar speed-nya lebih tinggi, yaitu mengganti gear belakang dengan ukuran lebih kecil.

National-Park-Explorer-Hari-7-002

Ada kelebihan tentu saja ada kekurangan. Setelah saya menjabarkan kelebihan VIAR Cross X 200 SE, tentu saja saya juga akan menulis mengenai kekurangannya. Salah satu kekurangan yang menjadi sorotan saya adalah masalah built quality. Misalnya saja plastik body yang tipis, striping atau sticker gampang ngelupas, sambungan las-lasan yang kurang rapi, dan pengecatan yang tidak maksimal. Memang ini bukan masalah serius, terutama kalau tujuan beli VIAR Cross X 200 SE untuk off road, pasti bakal buthek juga. Toh plastik body yang tergolong tipis itu juga lumayan kuat alias nggak gampang pecah meskipun sering buat ndlosor. Bisa jadi ini salah satu konsekuensi harga motor bisa murah. Tapi akan lebih baik kalau kualitasnya ditingkatkan. Apalagi sekarang banyak yang menggunakan motor trail buat mejeng, buat kendaraan operasional, buat komuter, diubah jadi supermoto. Bakal lebih pede kalau tunggangannya memiliki built quality bagus. Iya kan?

Nggak bisa dipungkiri lampu utama standar VIAR Cross X 200 SE sangat terang. Sayang lampu utama ini gampang putus. Ntah apa penyebabnya. Mungkin saja karena arus listrik nggak stabil, membuat lampu utama nggak kuat kalau dipanjer terlalu lama. Padahal dalam kondisi perjalanan jarak jauh memaksa lampu utama hidup terus, baik siang ataupun malam hari. Untung saja bawa stok bohlam lampu utama buat jaga-jaga. Anomali ini bisa saja terjadi hanya pada unit-unit tertentu. Ya bukan nggak mungkin saya dapat unit yang elektriknya kurang baik.

VIAR-Cross-X-200-SE-Tri-Setyo-Wijanarko-011

Kekurangan selanjutnya pada unit yang saya bawa terletak pada sistem pengereman. Sil master rem depan sering kali nggak mau memompa, keras saat ditekan. Efeknya ya rem depan jadi kurang pakem. Anehnya, kadang gejala itu sembuh dengan sendirinya, rem pun kembali pakem. Ajaib! Ada lagi nih, suara knalpot VIAR Cross X 200 SE menurut saya cukup bising seperti menggunakan knalpot free flow. Padahal ini adalah knalpot standar pabrikan. Memang betul, suara knalpot yang “agak keluar” ini jadi salah satu resep tenaga VIAR Cross X 200 SE menjadi cukup beringas. Akan tetapi, kalau dipakai riding di perkotaan sering kali memancing perhatian pak polisi. Bahkan di Kejajar, Dieng, saya sempat berdebat cukup lama dengan polisi ketika ada razia. Yang dipermasalahkan tentu saja masalah suara knalpot. Mereka mengira knalpot yang dipasang adalah knalpot brong atau knalpot racing yang banyak tersedia di toko-toko aksesoris. Ya walaupun setelah diberi penjelasan akhirnya dibebaskan juga tanpa tilang, tapi lumayan merepotkan juga kalau sering-sering kena urusan seperti ini.

VIAR-Cross-X-200-SE-Tri-Setyo-Wijanarko-018

Ternyata lumayan banyak juga ya PR buat VIAR Motor Indonesia. Akan sangat mengesankan kalau VIAR secara perlahan memberikan update agar VIAR Cross X 200 SE menjadi motor yang lebih sempurna, memiliki performa menawan, built quality jempolan, suara yang lebih silent tanpa mengurangi performa, dan syukur-syukur kalau bisa membuat VIAR Cross X 200 SE ini lebih hemat bahan bakar. Dan jangan lupa, harganya tetap harus lebih murah dari brand Jepang.

Overall, menurut saya VIAR Cross X 200 SE adalah motor yang bagus, tangguh, dan memiliki performa tinggi. Ketahanan mesin VIAR Cross X 200 SE nggak perlu diragukan lagi lah. Dijamin mesin motor ini nggak gampang cengeng. Acungi dua jempol deh buat VIAR, khususnya mengenai performa dan ketahanan VIAR Cross X 200 SE. Spare parts mesinnya pun gampang dicari karena memiliki banyak kesamaan dengan Honda GL series atau Tiger. Kalau ada bagian yang rewel umumnya malah printilan kecil-kecil, bukan bagian mesin. Contohnya ya itu tadi, bagian lampu atau kelistrikan, sil master rem, dan mungkin bagian kecil lain yang belum saya temui anomalinya.

National-Park-Explorer-Hari-16-033

National-Park-Explorer-Hari-17-022

Last, kalau mas bro pengen beli motor buat off road dengan harga murah, rasa-rasanya VIAR Cross X 200 SE bisa jadi pilihan paling pas. Lha wong performa mesin sudah sangat joss, gear nggak perlu ganti, knalpot sudah seperti knalpot free flow, dan ban standar sudah pakai ban tahu IRC Motocross. Pokoknya VIAR Cross X 200 SE ini enduro ready. Tinggal copot kaca spion dan spakbor belakang sudah siap digunakan langsung untuk trabas tanpa perlu mengeluarkan modal tambahan untuk ngoprek mesin, ganti ban, ganti gear, dan lain-lain. Dengan berbagai kelebihan dan kelemahan yang dimilikinya, rasa-rasanya harga Rp 20.620.000 untuk VIAR Cross X 200 SE merupakan best deal dan susah ditolak. Tertarik meminang VIAR Cross X 200 SE?


Advertisements