Tes Harian Benelli TNT 250 (2): Masih Enak Diajak Macet-Macetan

Benelli-TNT-250-Adventuriderz-014

Mas bro, kali ini saya akan melanjutkan review riding harian dengan motor Benelli TNT 250. Pada postingan ini yang dibahas adalah mengenai impresi Benelli TNT 250 jika digunakan untuk macet-macetan di kota, sebuah kondisi yang lumrah bagi para rider di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, maupun Surabaya. Gimana impresinya?

Dari segi bobot, Benelli TNT 250 memang yang paling berat di kelasnya. Nggak tanggung-tanggung, bobot Benelli TNT 250 mencapai 196 kilogram, jauh lebih berat dibandingkan dengan bobot Kawasaki Z250 yang cuma 168 kilogram atau Yamaha MT-25 yang jauh lebih ringan lagi cuma 165 kilogram. Akan tetapi bobot yang gambot itu hanay terasa ketika motor dalam keadaan diam. Kalau sudah jalan, bobot yang berat itu nggak begitu terasa. Bahkan nggak ada perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan motor-motor lain dengan bobot lebih ringan.

Kebetulan sekali ketika pergi ke Pacet sekitar dua minggu lalu, saya harus menembus kemacetan saat keluar dari Kota Surabaya. Kemacetan mulai terjadi di Jalan Diponegoro hingga Trosobo yang sudah masuk wilayah Sidoarjo. Hari Sabtu siang menjelang sore, macet memang sudah menjadi pemandangan lumrah di jalur arah luar Kota Surabaya. Saya juga ketemu macet parah ketika pulang dari Malang beberapa hari yang lalu. Memasuki Bundaran Waru hingga Diponegoro macetnya nggak karuan. Hasilnya, Benelli TNT 250 masih enak diajak nekuk kanan-kiri. Menembus kemacetan pun masih bisa dilakukan dengan mudah. Mungkin itu karena stang baplang milik Benelli TNT 250 sehingga handling dalam kecepatan rendah masih cukup enak.

Asyiknya, power dan torsi Benelli TNT 250 nggak begitu mengintimidasi. Saya nggak melihat adanya perbedaan yang cukup signifikan ketika membawa motor ini dibandingkan dengan motor yang berkubikasi lebih kecil ketika berjalan di kecepatan rendah. Jadi riding dengan Benelli TNT 250 di tengah kemacetan masih bisa santai. Power nggak meledak-ledak seperti moge, masih sangat mudah dikontrol lah. Apalagi kopling cukup empuk dan perpindahan gigi transmisi bisa dilakukan dengan sangat smooth, membuat Benelli TNT 250 memang menjadi motor yang easy to ride!

Saat membawa motor besar seperti ini, panas biasanya menjadi momok yang menakutkan bagi rider. Kabar baiknya, mesin Benelli TNT 250 nggak mengeluarkan panas berlebih meskipun terjebak kemacetan yang cukup parah. Di dashboard sudah ada indikator suhu mesin. Ketika suhu sudah mencapai lebih dari 90 derajat celcius, kipas radiator akan menyala untuk menjaga suhu mesin agar tidak terlalu panas. Kalau nggak salah, suhu mesin maksimal yang terpantau di dashboard hanya 93 derajat celcius saja, nggak pernah lebih. Artinya apa? Proses pendinginan dari radiator begitu efektif. Suhu yang hangat memang terasa menyebar ke atas ketika kipas radiator aktif. Udara hangat juga menjalar di sisi kanan dan kiri mesin. Tapi itu nggak cukup mengganggu kok mas bro. Performa mesin pun tidak terasa mengalami penurunan ketika mesin dalam kondisi panas. Ya setidaknya Benelli TNT 250 masih nyaman diajak melibas kemacetan kota dan relatif cocok digunakan sebagai kendaraan komuter.

Benelli-TNT-250-Adventuriderz-015


Advertisements