Benelli BN 251 Keren Sih, Tapi Sulit Diterima Pasar Indonesia…


Benelli-BN-251-003

Di pasar global, Benelli memiliki dua produk motor naked sport berkapasitas 250 cc. Yang pertama tentu saja Benelli TNT 250, sedangkan yang kedua adalah Benelli BN 251 atau di beberapa negara seperti India disebut dengan Benelli TNT 25. Akan tetapi, Benelli BN 251 memang nggak dipasarkan di Indonesia dengan berbagai pertimbangan. Memang kenapa yang dijual di Indonesia cuma Benelli TNT 250 saja? Yuk simak penjelasannya!

Banyak hal yang membedakan antara Benelli TNT 250 dengan Benelli BN 251. Dari segi desain saja sudah berbeda meskipun ada kemiripan. Perbedaan utama terletak pada konfigurasi mesin. Keduanya memang sama-sama mengusung kubikasi mesin 250 cc, namun Benelli BN 251 hanya memiliki satu silinder, sedangkan Benelli TNT 250 mengandalkan mesin dua silinder. Tentu saja hal itu membuat output power keduanya berbeda cukup jauh. Benelli TNT 250 mampu menghasilkan power 31,5 HP di putaran mesin 12.000 rpm, sedangkan Benelli BN 251 hanya mampu mengeluarkan power 25 HP di putaran mesin 9.000 rpm. Walaupun kalau dilihat torsinya Benelli BN 251 yang cuma satu silinder malah lebih unggul, yaitu sebesar 21,5 Nm/7.500 rpm, sementara Benelli TNT 250 memiliki torsi 20 Nm/9.000 rpm.

Soal desain, nggak ada yang salah dengan Benelli BN 251. Motor ini tergolong ganteng, padat, dan berisi. Apalagi Benelli BN 251 mengandalkan sasis trellis dan suspensi depan upside down, membuatnya terlihat begitu kekar. Kalau dilihat sekilas agak-agak mirip dengan KTM Duke 250. Keren lah! Spesifikasi mesinnya pun tidak terlalu buruk untuk motor motor 250 cc satu silinder. Dengan desain dan spesifikasi seperti itu, Benelli BN 251 diyakini jauh lebih asyik digunakan sebagai kendaraan komuter dengan karakter stop and go karena torsinya yang lebih besar dengan bobot yang lebih ringan dibandingkan dengan Benelli TNT 250.

Benelli-BN-251-002

Sayangnya, motor dengan desain ciamik dan easy to ride belum tentu bisa diterima oleh konsumen di Indonesia. Penyebab utama masalah silinder yang masih jomblo itu tadi. Kebanyakan konsumen di Indonesia suka dengan yang lebih banyak. Jika satu silinder dibandingkan dengan dua silinder, tentu mereka bakal lebih memilih yang dua silinder. Contoh kasusnya bisa dilihat ketika Honda mengimpor CBR250R (satu silinder) untuk memberikan persaingan terhadap Kawasaki Ninja 250 (dua silinder). Honda CBR250R dikenal memiliki power yang bagus, handling bagus, harga lebih murah, dan kerap mengasapi Kawasaki Ninja di ajang balap resmi. Akan tetapi, itu tidak cukup untuk menumbangkan Kawasaki Ninja 250. Penjualan Kawasaki Ninja 250 masih tetap moncer, sebaliknya Honda CBR250R mati perlahan. Di internal Kawasaki sendiri misalnya, Kawasaki Ninja RR Mono/Z250SL (satu silinder), penjualannya nggak lebih baik daripada Kawasaki Ninja 250/Z250 (dua silinder) walaupun harganya jauh lebih murah.

Last, penerimaan konsumen Indonesia terhadap motor 250 cc satu silinder memang masih sangat kurang. Motor multi silinder lebih dipuja dibandingkan dengan motor satu silinder. Salah satu alasannya adalah feel, taste, dan suara ketika mengendarai motor 250 cc satu silinder nggak jauh berbeda dibandingkan dengan nunggang motor berkubikasi lebih kecil seperti 200 cc atau 150 cc. Benelli Motor Indonesia mungkin bisa saja memasukkan Benelli BN 251 ke Indonesia sebagai pelenggap lineup produk. Bisa saja Benelli BN 251 sukses di pasaran Indonesia kalau setting harganya pas, nggak boleh sama apalagi lebih mahal daripada Kawasaki Z250SL. Harga Rp 35 juta sepertinya cukup pantas untuk Benelli BN 251, tapi apa ya mungkin? Hehehe…


Advertisements