Motor Retro Scrambler Viar Lebih Pas Pakai Mesin Maksimal 250 cc!



Booth-Viar-Motor-Indonesia-di-Jakarta-Fair-Kemayoran-2016-005

Di Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2016 lalu brand motor lokal yang punya pabrik di Semarang, Viar Motor Indonesia, memamerkan sebuah konsep motor retro scrambler. Pada dasarnya prototipe motor retro dari Viar ini identik dengan Shineray XY400 yang menggunakan mesin satu silinder 398 cc, SOHC, 4-stroke, 4-valve, dan berpendingin udara. Dari pameran itu ternyata nggak sedikit yang berminat terhadap motor retro scrambler dari Viar. Namun, tentu saja Viar harus memutar otak, apakah jadi memproduksinya secara massal atau tidak. Apa alasannya?

Sudah menjadi rahasia umum kalau motor dengan mesin di atas 250 cc dikenakan pajak (PPN BM) yang besar. Motor dengan mesin di atas 250 cc sampai dengan 500 cc kena PPN BM 60 persen, sedangkan motor di atas 500 cc dikenakan PPN BM 125 persen. Dari situ bisa dilihat kalau motor retro scrambler dari Viar yang pakai mesin 400 cc bisa dikenakan PPN BM 60 persen. Melihat pajak yang begitu besar, sulit menjual motor ini dengan harga yang terjangkau. Masalah semakin pelik karena brand Viar belum cukup kuat untuk masuk ke segmen “semi premium” dengan harga mahal.

Lalu bagaimana solusinya? Soal desain, motor retro scrambler yang dipamerkan oleh Viar sudah sangat keren. Mulai dari frame, suspensi, fender, handlebar, lampu, hingga bagian konsol dashboard sudah sangat menggambarkan sebagai motor jadul. Ditambah dengan ban semi tahu membuatnya memiliki karakter kuat sebagai motor scrambler. Permasalahan utama hanya di bagian mesin yang terlalu besar. Opini pribadi saja, Viar bisa menggantinya dengan mesin maksimal di angka 250 cc mas bro… Salah satu yang bisa digunakan adalah mesin milik Viar Cross X 200 GT. Memang sih mesin ini berkapasitas 200 cc, tapi Viar bisa sedikit meningkatkan kapasitasnya menjadi 233 cc biar lebih bertenaga dengan mengubah ukuran bore x stroke. Tentu saja karakter mesin Viar Cross X 200 GT yang meledak-meledak dan punya napas pendek harus diubah agar napasnya lebih panjang namun tidak mengurangi hentakan torsinya yang dahsyat.



Jika menggunakan mesin 200-250 cc, Viar memiliki ruang untuk membandrol motor dengan harga yang lebih rasional. Apalagi mesin Viar Cross X 200 GT menggunakan pendingin udara yang sederhana, sehingga cukup pas ditempel pada motor retro scrambler yang memang harus memiliki kesan sederhana. Kalau pakai mesin berpendingin radiator sih bukan motor retro lagi namanya. Mungkin salah satu kekurangan menggunakan mesin Viar Cross X 200 GT adalah dimensinya lebih kecil dan terkesan kopong kalau ditempel pada frame Shineray XY400 tesebut. Gimana menurutmu mas bro?

viar-classic-400-cc.jpg

Advertisements