Misi Perjalanan Menjemput “Si Belalang Tempur” KLX150L di Jogja

p_20161021_082543.jpg

Mas bro… Kurang lebih selama 4 bulan (Juni-Oktober 2016) admin Adventuriderz.com meninggalkan Surabaya dan kemudian berada sementara di kampung halaman di Lampung Timur. Ngapain aja mas selama itu? Oke tak cerita deh… Jadi dari Juni saya memang sudah pulang kampung untuk menjalani puasa dan merayakan Lebaran di Lampung. Pasca Lebaran, saya sibuk mempersiapkan pernikahan yang alhamdulillah berlangsung dengan lancar pada pertengahan September 2016. Cieeee… Hahaha… Praktis selama 4-5 bulan saya sangat minim nunggang motor. Pergi ke sana-sini lebih banyak menggunakan mobil. Kenapa? Di Lampung, apalagi Lampung Timur, ke mana-mana lebih aman pakai mobil. Setidaknya mobil jauh lebih aman dari begal ketimbang motor. Bukan rahasia lagi, tingkat kriminalitas, terutama begal motor, di Lampung Timur memang sangat tinggi!

Nah… Sekitar pertengahan Oktober 2016 lalu saya sudah kembali ke Surabaya. Sayangnya, si belalang tempur, tunggangan kesayangan masih berada di Jogja, karena sebelum pulang ke Lampung sengaja dititipkan di rumah kakak yang berada di kota gudeg. Walaupun di sana motornya jarang atau malah nggak dipakai, paling nggak ada yang menghidupkan mesin minimal 1-2 kali seminggu. Soalnya kalau motor dibiarkan nganggur terlalu lama pasti juga akan rusak. Maka setelah berada di Surabaya ada misi menjemput si belalang tempur Kawasaki KLX150L yang berada di Jogja.

Misi penjemputan dimulai pada 18 Oktober 2016 dengan nunggang Kereta Api Sancaka Sore yang berangkat dari Stasiun Gubeng Surabaya pukul 17.25 WIB. Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam, kereta akhirnya tiba di Stasiun Tugu Jogja. Sampai kapanpun, kampung halaman kedua saya ini memang selalu ngangenin, memberikan kesan tenang dan nyaman. Beda banget dengan Surabaya yang memiliki ritme sangat cepat. Sebelum ngacir ke rumah kakak menggunakan taksi, saya bersama istri menyempatkan mampir di angkringan yang berada di Jalan Pasar Kembang, selatan Stasiun Tugu. Rasanya bener-bener Jogja banget!!

20161018_171554.jpg

Perjalanan Surabaya-Jogja dengan Kereta Api Sancaka Sore

Keesokan harinya (19 Oktober 2016), baru deh saya mulai pegang si belalang tempur yang udah nganggur lumayan lama. Ada rasa kagok karena udah lama banget nggak nunggang motor. Apalagi motor terasa berat lantaran angin ban sudah berkurang setengah. Nggak perlu nunggu lama, saya langsung membawa si belalang tempur ke bengkel resmi Kawasaki yang berada di Jalan Gejayan. Cuma perawatan rutin aja kok… Servis ringan, ganti oli, dan cek berbagai macam part agar si belalang tempur sehat lagi. Namanya motor nggak pernah dipakai, ganti oli tetap wajib dilakukan. Kebetulan antrean servis nggak lama, jadi si belalang tempur bisa ditangani dengan cepat. Kelar servis, sambil familiarisasi/penyesuaian kembali dengan si belalang tempur sebelum melakukan perjalanan panjang Jogja-Surabaya, saya ngajak istri jalan-jalan keliling Jogja. Lebih ke jalan-jalan kuliner aja sih… Mulai dari makan rujak es krim di Pakualaman, makan sate klathak Pak Pong, hingga nenen di Kalimilk.

20161019_091415.jpg

Si belalang tempur sedang menjalani perawatan rutin

20161019_092025.jpg

Deretan belalang tempur generasi baru

20161019_091550.jpg

Deretan belalang tempur generasi baru

20161019_102031.jpg

Rujak Es Krim Pakualaman

20161019_183608.jpg

Sate Klathak Pak Pong

20161019_195615.jpg

Kalimilk

Familiarisasi kembali dilakukan pada 20 Oktober 2016 dengan ngajak si belalang tempur dan istri ke Hutan Pinus Mangunan (Bantul) yang sekarang sedang sangat ngehits di Jogja. Tempat yang satu ini memang cukup asyik untuk bersantai bersama teman atau keluarga. Suasananya adem, rindang, dan walaupun pengunjungnya nggak pernah sepi, tapi Hutan Pinus Mangunan nggak terasa crowded. Nggak heran kalau lokasi Hutan Pinus Mangunan yang cantik kerap dijadikan spot foto pre-wedding. Sebenarnya di Jogja nggak cuma ada Hutan Pinus Mangunan aja lho… Ketika saya coba telusuri, tidak jauh dari Hutan Pinus Mangunan juga ada Hutan Pinus Becici dan beberapa hutan pinus lain hingga tembus ke Pathuk, Gunungkidul, yang terkenal dengan Bukit Bintang-nya.

20161020_090142.jpg

Hutan Pinus Mangunan

20161020_091603.jpg

Hutan Pinus Mangunan

p_20161020_084945_hdr.jpg

Hutan Pinus Mangunan

p_20161020_084603_hdr.jpg

Hutan Pinus Mangunan

Melakukan familiarisasi selama dua hari dengan si belalang tempur setelah tidak menyentuh motor selama 5 bulan rasanya sudah cukup banget. Pada 21 Oktober 2016 pukul 05.30 WIB dimulailah perjalanan dari Jogja menuju Surabaya dengan riding gear yang komplit, mulai dari base layer long sleeve Respiro, jaket Respiro Journey, celana riding Respiro Velocity, sarung tangan Respiro Combusto, helm Snail MX311, dan sepatu. Plus semua barang ditaruh di duffle bag waterproof Respiro Tourmaster 40. Lengkap deh!!! Ini bukanlah pengalaman pertama saya naik belalang tempur dari Jogja ke Surabaya atau sebaliknya. Malah udah sering banget… Tapi dengan istri?? Memang baru kali ini mas bro!! Seperti biasanya, dari Jogja si belalang tempur diarahkan menuju ke Klaten dan Solo. Dari Solo kemudian si belalang tempur diajak ke arah Karanganyar. Lho kok nggak ke arah Sragen? Yups… Sengaja mas bro, saya lebih demen lewat Tawangmangu, Cemoro Kandang, dan Cemoro Sewu karena jalurnya jauh lebih adem.

Karena riding bareng asisten, ya nggak heran kalau si belalang tempur digeber dengan santai. Saya benar-benar menikmati tanjakan, turunan, tikungan tajam hingga udara super sejuk yang ada di jalur Karanganyar – Tawangmangu – Cemoro Kandang. Sekitar pukul 08.30 WIB kami tiba di Cemoro Kandang. Di sini kami berhenti sejenak di “Warung Makan Aris Transite 55” yang memang sudah jadi langgangan kalau lewat Cemoro Kandang. Menu spesial di warung ini adalah sate kelinci. Asli… Sate kelincinya enak bangettt… Apalagi dipadu dengan teh manis panas… Cocok banget dengan suasana Comoro Kandang yang begitu dingin dan dipenuhi oleh kabut pekat pagi itu… Kebetulan perjalanan kami adalah hari Jumat. Padahal kalau akhir pekan warung yang satu ini jadi jujukan para biker Jatim dan Jateng yang melakukan sunday morning ride (sunmori). Bisa dilihat dari stiker klub atau komunitas berjejer penuh tertempel di dinding warung.

p_20161021_082543a.jpg

Sampai di Cemoro Kandang

20161021_083707.jpg

Sate kelinci di Warung Transite 55 – Cemoro Kandang

20161021_085322.jpg

Pemandangan di Cemoro Kandang

Setelah kelar sarapan di Cemoro Kandang, perjalanan dilanjutkan ke arah Sarangan. Hmmm… Ntah kenapa jalur ini selalu sepi dan nyaman. Enak buat riding santai. Di Sarangan kami sengaja nggak mampir. Kami lebih memilih lanjut ke arah Magetan, Madiun, Jombang, Mojokerto, hingga Surabaya. Sisa perjalanan terakhir memang lebih menyiksa karena suhu udara lumayan panas. Beberapa kali kami harus berhenti istirahat. Selain saya harus banyak menenggak air minum akibat dehidrasi, istri juga kerap mengeluh bokong panas. Maklum lah, nunggang KLX150L dalam jarak lebih dari 300 km pasti menyiksa. Itu nggak cuma berlaku bagi boncenger lho, tapi juga berlaku buat rider! Syukurnya sih perjalanan dalam misi penjemputan si belalang tempur itu cukup lancar. Kami sudah berada di Surabaya sekitar pukul 14.00 WIB. Waktu total yang dibutuhkan mencapai 8,5 jam. Agak lambat kalau dibandingkan dengan riding seorang diri. Tapi nggak masalah, yang penting selamat sampai tujuan… Dan misi penjemputan si belalang tempur pun selesai. Habis ini si belalang tempur enaknya diajak ke mana ya?


Advertisements