• Home »
  • Article »
  • Jangan Berharap Trail Entry Level dari Yamaha Indonesia, Ini Sebabnya!

Jangan Berharap Trail Entry Level dari Yamaha Indonesia, Ini Sebabnya!

Mulai tahun 2017 nanti segmen motor trail entry level diprediksi akan semakin ramai karena semakin banyak pabrikan yang ikut terjun di dalamnya. Salah satu pabrikan yang ngebet terjun di segmen motor trail entry level adalah Astra Honda Motor (AHM) melalui CRF150L (nama unofficial). Artinya, pada tahun depan Kawasaki KLX150 bakal memiliki pesaing yang sepadan dari sesama brand Jepang. Itu belum termasuk kabar Suzuki Indomobil Sales (SIS) yang konon sedang mempertimbangkan menjual motor trail DR200S di Indonesia. Terus bagaimana dengan Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM)? Apakah ingin ikut terjun membanjiri segmen motor trail entry level juga??

Kalau YIMM ingin terjun mengisi segmen motor trail entry level sebenarnya mereka punya modal yang cukup kuat dan bagus. Apa itu?? Di Eropa, Yamaha punya WR125R yang menggunakan basis mesin Motori Minarelli M/C 125. Di Indonesia, mesin Motori Minarelli M/C 125 sedikit dinaikkan kapasitasnya jadi 150 cc, kemudian dipasang pada sejumlah motor yang diproduksi oleh YIMM, yaitu V-Ixion, Xabre, R15, dan MX-King. Jika mau, YIMM tentu dengan mudah menggunakan basis mesin yang sama pada motor trail entry level. Pastinya production cost jadi lebih rendah karena common part dengan V-Ixion, Xabre, R15, dan MX-King. Satu kelebihan lagi, mesin V-Ixion yan menerapkan teknologi SOHC 4-valve dan berpendingin cairan performanya jelas lebih unggul dibandingkan dengan mesin KLX150 dan CRF150L yang masih mengadopsi model SOHC 2-valve berpendingin udara.

Tapi sayangnya, sampai saat ini YIMM belum ada niat memproduksi motor trail entry level tuh bro… Untuk motor trail, YIMM masih akan tetap mengandalkan WR250R yang didatangkan secara utuh (CBU) dari Jepang. Otomatis harganya ya nggak bisa murah sama sekali karena tembus Rp 103 juta on the road Jakarta. Keengganan YIMM memproduksi motor trail entry level itu diungkapkan langsung oleh Asisten General Manager Marketing YIMM Pak Masyikur. Alasan utamanya adalah market motor trail masih dianggap kecil oleh Yamaha Motor Corporation (Jepang) selaku prinsipal YIMM.

“Masih belum (produksi motor trail) kayaknya. Yamaha Jepang bilang ini pasarnya kecil. Artinya, kalau dibandingkan dengan skutik, sport biasa, itu kecil, segmented,” ungkap Pak Masyikur, dikutip dari detikOto.

Boleh dibilang market motor trail entry level memang nggak gede-gede amat. Kawasaki saja hanya menjual sekitar 5.000 unit KLX150 series per bulan. Ditambah dengan versi supermoto D-Tracker, paling-paling penjualannya hanya 7.000-an unit per bulan. Selain Kawasaki ada juga brand-brand lokal yang jualan motor trail entry level seperti Viar, Gazgas, Happy, dan lain-lain. Kalau penjualan motor trail entry level dari brand lokal/non-Jepang digabungkan seluruhnya, kemungkinan juga nggak sampai 1.500 unit per bulan. Jadi total market motor trail entry level tidak tembus 10.000 unit per bulan. Cukup logis juga kalau YIMM nggak pengen ikutan terjun di segmen yang kecil itu…

Menurut Pak Masyikur, waktu dulu di jaman beliau masih bertugas di bagian research and development (R&D) YIMM, Pak Masyikur sempat meminta kepada prinsipal untuk memproduksi motor trail dari basis mesin 2-stroke milik RX-King. Sayangnya permintaan itu harus dikubur dalam-dalam. RX-King justru disuntik mati karena regulasi yang memaksa motor yang dijual di Indonesia harus lebih clean dan bersahabat bagi lingkungan. Maka seluruh motor dengan mesin 2-stroke dibumihanguskan dan kemudian diganti dengan mesin 4-stroke.

“Karena pada waktu itu kita masih punya RX-King. RX-King masih didominasi untuk trail. Tapi setelah RX-King mati, itu tidak ada. Saya waktu itu masih di R&D mintanya,” tutur Pak Masyikur.

So, masih berharap ada motor trail entry level dari YIMM? Buang jauh-jauh harapan itu bro, setidaknya dalam waktu dekat ini!