Yamaha Akui Penjualan WR250R Tidak Moncer Karena Harga Mahal

Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) selaku Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Yamaha di Indonesia sebenarnya sudah ikut terjun di segmen motor trail sejak tahun 2015. Pada akhir Februari 2015 itu Yamaha meluncurkan motor trail dual sport WR250R yang didatangkan secara utuh (completely built up/CBU) dari Jepang. Sayangnya, penjualan WR250R nggak bisa dibilang moncer lantaran harga jualnya yang terlampau mahal. Apalagi kalau dibandingkan dengan kompetitor sekelas.

Saat peluncurannya itu WR250R dibandrol dengan harga Rp 93 juta on the road. Tapi nggak berselang lama harga WR250R naik menjadi Rp 103 juta on the road. Padahal para kompetitornya cuma dijual dengan harga Rp 60 jutaan. Kawasaki KLX250S misalnya, sekarang cuma dibandrol sekitar Rp 63 juta, sedangkan Honda CRF250RALLY yang baru diluncurkan oleh Astra Honda Motor (AHM) juga harganya sekitar Rp 63 juta on the road. Makanya jangan heran kalau populasi WR250R sangat jarang dan sangat sulit dilihat di jalanan. Tahun lalu saja motor ini cuma laku sekitar 100 unit. Sangat kontras dengan Kawasaki KLX250S yang bisa laku lebih dari 2.200 unit.

Executive Vice President PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) Pak Dyonisius Beti mengakui bahwa seretnya penjualan WR250R terjadi karena faktor harga yang terlampau mahal. Tapi mau gimana lagi, WR250R didatangkan secara utuh dari Jepang, membuatnya memang sulit dibandrol murah. Apalagi impor dari Jepang nggak bisa mendapatkan insentif pajak atau bea masuk impor sebagus impor produk dari Thailand (Kawasaki KLX250S & Honda CRF250RALLY). Meskipun demikian, Pak Dyon bilang Yamaha tidak akan menghentikan penjualan WR250R di Indonesia.

“Kurang sekali ya penjualannya. Tahun lalu saja hanya menjual sekitar 100 unit. Tapi tetap ada. Itu kan impor dari Jepang. Walaupun sedikit dan terbatas, kami tetap lanjutkan,” ungkap Pak Dyon.

Sementara itu, General Manager Service & Motorsport YIMM Pak Abidin pernah mengatakan bahwa WR250R bisa saja dirakit di Indonesia namun dengan syarat permintaannya tembus 10.000 unit per tahun. Padahal pada kenyataannya market motor trail dual sport 250 cc di Indonesia dalam satu tahun hanya sekitar 2.000-an unit. Jadi langkah untuk merakit WR250R di Tanah Air masih sulit direalisasikan walaupun fasilitas pabrik YIMM sendiri sudah sangat siap merakit motor trail seperti WR250R. Padahal kalau bisa dirakit di Indonesia, harga WR250R bisa ditekan hingga di bawah Rp 60 juta.

“Permintaan WR250R harus di atas 10.000 unit kalau mau dirakit di sini. Kami berharap dengan masuknya WR250R sebagai pemicu masuknya produk kompetisi WR250F atau YZ series. Diharapkan nantinya segmen ini akan berkembang dan memudahkan.Kebutuhan manufaktur tidak sulit, dengan kapasitas dua pabrik kita hampir dua juta unit per tahun. Merakit motor seperti ini tidak terlalu sulit,” ungkap Pak Abidin kala itu.

Mungkin karena melihat seretnya penjualan WR250R, Yamaha berniat memproduksi motor trail secara lokal di Indonesia dengan harga yang lebih terjangkau. Diungkapkan oleh Senior General Manager Marketing YIMM Pak Hendri Wijaya, Yamaha bakal membuat gebrakan di segmen motor trail. Tapi sayangnya Pak Hendri masih menutup rapat-rapat motor trail apa yang diproduksi secara lokal di Indonesia dan kapan pula peluncurannya (Baca: Wuiiih… Yamaha Terang-Terangan Mau Rakit Motor Trail di Indonesia). Kalau boleh menebak-nebak, kemungkinan itu adalah motor trail entry level 150 cc dengan mesin V-Ixion dengan bandrol harga sekitar Rp 30 jutaan.

“Modelnya belum bisa kita bocorkan. Tunggu saja kejutannya. Kita sudah punya strategi dan kita tidak akan tinggal diam begitu saja. Tetapi, strategi itu belum bisa kita informasikan sekarang. Tunggu saja,” ungkap Pak Hendri Wijaya.

Advertisements