Beberapa Opsi Tipe Motor Jika Yamaha Ingin Terjun di Segmen Trail



Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) lewat General Manager Marketing Pak Hendri Wijaya membuat pernyataan yang cukup mengejutkan. Menurut Pak Hendri, Yamaha Indonesia bakal memberikan kejutan dengan ikut terjun di segmen motor trail. Yamaha memang sudah punya motor trail dual sport WR250R yang dijual sejak awal tahun 2015. Namun motor hi-tech dengan spesifikasi mentereng yang didatangkan dari Jepang itu kurang diterima oleh pasar lantaran harganya terlalu mahal. Di awal peluncuran WR250R dibandrol dengan harga Rp 93 juta on the road Jakarta. Dalam rentang waktu beberapa bulan kemudian harganya sudah naik menjadi Rp 103 juta on the road Jakarta. Padahal kompetitor terdekatnya seperti Kawasaki KLX250S masih dijual Rp 60 jutaan. Hal itu jelas membuat WR250R sulit dijual dalam volume tinggi.

Untuk menyiasatinya, Pak Hendri mengatakan bahwa Yamaha Indonesia tidak akan tinggal diam dan berencana memproduksi motor trail secara lokal di Tanah Air. Pabrikan berlogo garputala terus mempelajari dan mendalami segmen motor trail yang diyakini marketnya bakal terus berkembang. Sayangnya Pak Hendri nggak mau membocorkan tipe motor trail apa yang bakal diproduksi di Indonesia nanti. Pak Hendri hanya meminta kita semua para penggemar motor trail menunggu kejutan dari Yamaha sampai dengan motor resmi diluncurkan.

“Modelnya belum bisa kita bocorkan. Tunggu saja kejutannya. Kita sudah punya strategi dan kita tidak akan tinggal diam begitu saja. Tetapi, strategi itu belum bisa kita informasikan sekarang. Tunggu saja,” ungkap Pak Hendri Wijaya.



Nah, kalau yang dikejar adalah volume penjualan, biar nggak tekor saat investasi produksi lokal, tentunya yang mesti diproduksi adalah motor trail entry level dengan harga terjangkau dengan rentang harga Rp 30-40 juta. Soalnya kompetitor yang ada sekarang (Kawasaki KLX150) bermain di rentang harga tersebut. Di pasar global Yamaha sudah punya beberapa motor trail entry level yang berpeluang dijual dengan harga murah. Terus mana yang layak untuk diproduksi secara lokal di Indonesia?

Yamaha WR150R

Eropa punya motor dual sport WR125R dengan basis mesin Yamaha Motori Minarelli M/C 125. Kalau di Indonesia basis mesin itu dipasang pada V-Ixion, YZF-R15, Xabre, dan MX-King, tentunya dengan menaikkan kapasitasnya jadi 150 cc. Paling logis memang Yamaha Indonesia membangun WR150R dari basis mesin V-Ixion dan kawan-kawan. Yamaha nggak perlu melakukan pengembangan mesin dari nol. Basisnya sudah ada, tinggal bagaimana mengubah engine mapping dan gear ratio agar sesuai dengan karakter motor trail. Suspensi upside down di bagian depan, mono shock dengan link, dan double disc brake adalah piranti yang mutlak bagi WR150R.

Yamaha TT-R230

TT-R230 dikenal sebagai motor off road tulen yang ganas tapi harganya murah. Di kalangan motor off road, TT-R230 merupakan pesaing utama bagi Honda CRF230F. Namun di sejumlah negara motor ini juga dijual secara street legal. Kenapa kok bisa murah? Karena dia menggunakan frame sederhana, mesin yang sederhana, dan suspensi teleskopik yang pastinya lebih murah daripada suspensi upside down. Mesinnya pakai basis Scorpio 225 yang sudah disuntik mati oleh Yamaha Indonesia sejak beberapa tahun lalu. Peluang TT-R230 diproduksi secara lokal di Indonesia kayaknya lebih kecil ya. Kalaupun diproduksi di sini kemungkinan masuk ke rentang harga yang lebih tinggi (Rp 35-45 juta) dengan fitur pas-pasan. Padahal biasanya konsumen Indonesia demen banget sama fitur yang futuristik.

Yamaha XT250

Yamaha XT250 merupakan motor trail dual sport dengan gaya classic yang desainnya nggak pernah mati ditelan jaman. Dari dulu desain XT250 gitu-gitu aja, nggak ada perubahan yang berarti. Justru itu yang membuat XT250 jadi legend. Basis mesinnya sama seperti TT-R230 yang kemudian dinaikkan kapasitasnya jadi 250 cc. Mesinnya masih mengusung teknologi SOHC 2-valve dan berpendingin udara. Sangat sederhana. Nggak sulit bagi Yamaha Indonesia memproduksi mesin ini karena sudah melakukannya pada Scorpio 225. XT250 setidaknya bisa menjadi alternatif, meskipun bandrol harganya pasti di atas Rp 40 juta. Peluangnya pun kayaknya lebih kecil ya…

 

Advertisements