• Home »
  • Article »
  • KMI Tegur Dealer yang Paksa Konsumen Beli Apparel Senilai Rp 1,5 Juta!

KMI Tegur Dealer yang Paksa Konsumen Beli Apparel Senilai Rp 1,5 Juta!


Bro sekalian… Awal tahun 2016 yang lalu Adventuriderz.com pernah menulis artikel mengenai seorang teman di Jogja yang ingin beli motor Kawasaki KLX150 BF, namun oleh dealer dipaksa membeli paket apparel senilai Rp 1,5 juta jika ingin membawa pulang motor itu (Baca: Curhat Teman, Beli Kawasaki KLX150 BF Dipaksa Beli Apparel Senilai Rp 1,5 Juta). Kalau nggak mau beli apparel senilai Rp 1,5 juta, jangan berharap bisa meminang KLX150 BF series. Nah, waktu Adventuriderz.com ke Jogja kemudian melakukan servis Si Belalang Tempur KLX150L, cerita dari teman itu rupanya bukan cuma isapan jempol belaka. Kewajiban membeli apparel senilai Rp 1,5 juta di dealer-dealer Kawasaki di Jogja terpampang dengan nyata di brosur! Di dalam brosur terpampang dengan jelas kewajiban membeli apparel senilai Rp 1,5 juta jika konsumen ingin meminang KLX150 BF, KLX150 BF SE, dan D-Tracker SE (Baca: Bukan Cuma Rumor, Beli KLX150 BF di Jogja Wajib Beli Apparel Senilai Rp 1,5 Juta).

Setelah lebih dari satu tahun berselang, akhirnya terungkap juga kalau program yang mewajibkan konsumen membeli apparel senilai Rp 1,5 juta saat ingin meminang KLX150 BF, KLX150 BF SE, dan D-Tracker SE itu bukanlah program dari Kawasaki Motor Indonesia (KMI) yang menjadi Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Kawasaki di Indonesia, melainkan program dari PT Sumber Buana Motor (SBM) yang notabene menjadi main dealer Kawasaki di Jogja. Praktik yang kurang sehat dan tidak elegan ini tentu saja bisa merusak brand Kawasaki di Tanah Air, dan tentunya ini membuat KMI berang. Apalagi dari pihak KMI menyebutkan bahwa apparel yang dipaksakan untuk dibeli itu bukanlah apparel original Kawasaki. Deputy Head Sales & Promotion Division KMI Michael Chandra Tanadhi mengaku sudah memberikan teguran keras kepada main dealer Kawasaki di Jogja, PT Sumber Buana Motor!

“Pastinya tidak benar dan itu bukan kebijakan dari kami. Untuk masalah apparel itu juga ternyata bukan apparel resmi dari Kawasaki, mereka buat apparel sendiri. Karena bila apparel resmi harus ada persetujaun dari kami, apalagi ada tulisan Kawasaki yang notabenenya itu merupakan license juga. Untuk masalah ini sudah kami selesaikan, kami juga sudah berikan teguran keras ke pihak dealer,” ungkap Michael Chandra Tanadhi, dikutip dari Kompas Otomotif.

Terus gimana ceritanya praktik yang tidak lazim dari dealer dan main dealer Kawasaki di Jogja itu bisa terungkap? Itu juga ada ceritanya bro… Awal mulanya, salah satu konsumen Kawasaki di Jogja yang juga builder motor custom nasional penggaggas Kustomfest, Lulut Wahyudi, ingin membeli motor D-Tracker SE untuk putranya. Namun saat ingin melakukan transaksi, Lulut dipaksa membeli apparel senilai Rp 1,5 juta yang terdiri dari satu jaket dan dua jersey. Merasa hal ini nggak lazim, Lulut pun mencurahkan uneg-unegnya ke media sosial Facebook yang kemudian mengundang komentar pedas di jejaring sosial miliknya itu. Kabar inipun kemudian sampai ke meja KMI yang selanjutnya memberikan teguran keras kepada pihak PT Sumber Buana Motor.

“Aku tuh mau beli motor untuk anak janji habis ujian, sudah tanya harga dan harga sudah keluar, saat mau transaksi taunya ada pemberitauan diharuskan membeli apparel seharga Rp 1,5 juta. Saya tanya ini keputusan siapa, mereka bilang pusat. Saya kalau beli motor justru biasanya dapat doorprize seperti helm jaket, dan lainnya ini kok malah dalam artikata tanda kutip dipaksa beli,” ucap Lulut kepada Kompas Otomotif.

Menurut Lulut, apa yang dilakukan oleh pihak Kawasaki di Jogja sangatlah tidak logis. Bukan perkara nominal uangnya, melainkan dari sisi cara yang dilakukan tidak etis. Menurut Lulut, pihak PT Sumber Buana Motor akhirnya memang sudah mendatangi dirinya untuk mengembalikan uang senilai Rp 1,5 juta dan berjanji akan mencabut kebijakan yang mewajibkan konsumen membeli apparel senilai Rp 1,5 juta jika ingin meminang KLX150 BF, KLX150 BF SE, dan D-Tracker SE. Namun tetap saja Lulut menyayangkan kejadian tersebut yang mestinya tidak perlu dilakukan oleh sebuah main dealer.

“Mereka sudah minta maaf secara tertulis dan mengembalikan uang, dan akan mencabut kebijakan tersebut, saya juga sudah anggap selesai. Tapi masalahnya bukan soal uang, apalagi saya beli untuk anak, tapi lebih kepraktiknya yang tidak elegan. Pertanyaanya apakah hal ini terjadi di sini (Jogja) saja atau di setiap daeler Kawasaki,” ucap Lulut.

Nah, sekarang sudah paham kan kalau kewajiban membeli apparel itu bukan kebijakan dari Kawasaki Motor Indonesia, tetapi kebijakan dari main dealer Kawasaki di Jogja. Soalnya ketika Adventuriderz.com melakukan cross check ke main dealer Kawasaki Jawa Timur (PT Surapita Unitrans) dan Kawasaki Bali (PT Duta Intika), nggak ada praktik-praktik seperti ini. Mau beli motor ya beli motornya, pengen beli apparel juga disediakan tanpa ada pemaksaan. So, buat temen-temen yang pengen beli KLX150 BF, KLX150 BF SE, atau D-Tracker SE di kota manapun, kemudian dipaksa membeli apparel dengan nominal tertentu, JANGAN MAU!! Kenapa? Karena itu tindakan illegal yang tidak mendapatkan persetujuan dari Kawasaki Motor Indonesia… Gimana kalau masih ada dealer yang melakukan praktik nggak lazim seperti itu mas? Mendingan langsung laporan ke Kawasaki Motor Indonesia aja bro!!

Advertisements