Kenapa Tidak Pasang Sistem Karburator Pada CRF150L, Honda?


Motor dual sport Honda CRF150L udah resmi hadir di Indonesia nih bro… Motor ini bisa dibawa pulang ke rumah dengan mahar Rp 31,8 juta on the road Jakarta. Harga yang sangat kompetitif! Sekarang tinggal nunggu CRF150L disebarkan ke dealer-dealer, bahkan dikirimkan ke konsumen yang udah indent. Kemungkinan CRF150L udah tersedia merata di seluruh jaringan dealer Honda sekitar akhir bulan November ini. Artinya Honda langsung gerak cepat menyebarkan CRF150L begitu diluncurkan.

Nah… Salah satu diferensiasi yang diberikan oleh Honda pada CRF150L dibandingkan dengan kompetitor adalah pada sistem pembakaran. Honda memilih memasang sistem pembakaran injeksi PGM-FI di CRF150L, beda dengan Kawasaki KLX150 series yang masih setia dengan sistem pembakaran karburator. Selalu ada pro dan kontra mengenai pilihan ini. Dari sisi yang kontra, mereka biasanya beralasan sistem pembakaran karburator perawatannya lebih gampang, di bengkel umum pedesaan pun bisa, nggak khawatir kalau misalnya terjadi trouble saat main-main di hutan, dan yang nggak kalah penting ngopreknya gampang karena udah lazim pengguna motor trail akan langsung ngoprek tunggangannya biar lebih siap dipakai off road adventure. Bukan berarti sistem pembakaran injeksi nggak bisa dioprek ya. Bisa, tapi cost yang dikeluarkan pasti lebih mahal. Memang apa sih alasan sebenarnya Honda lebih memilih sistem injeksi PGM-FI pada CRF150L daripada sistem karbu?

Menurut Akihiro Momiyama, Large Project Leader and Chief Engineer Honda R&D Co., Ltd. Motorcycle R&D Center, sistem pembakaran karburator kurang cocok dipakai di area pegunungan yang umumnya punya tekanan udara tinggi. Padahal biasanya ketika rider bermain off road adventure, area yang dipilih adalah di sekitar pegunungan dengan track-track yang menantang. Kenapa kok nggak cocok? Karena karburator itu jauh lebih sensitif dengan perubahan suhu, cuaca, dan perubahan tekanan udara. Makanya waktu kena udara tekanan tinggi di area pegunungan, motor dengan sistem karbu performanya bakal drop lumayan signifikan. Lain ceritanya dengan motor bersistem injeksi yang dilengkapi cukup banyak sensor, baik itu sensor suhu udara maupun tekanan udara, sehingga asupan bahan bakar yang dikirim ke ruang bakar disesuaikan secara otomatis sesuai dengan kondisi lingkungan jadi gejala drop power bisa diminimalisir.

“Karena karburator kurang cocok atau akan sangat rentan pada udara bertekanan tinggi. Kalau kami lihat pada saat digunakan di pegunungan atau perbukitan, maka karburator akan mendapatkan imbas kondisi perubahan suhu dan cuaca tersebut. Karena itulah kami memilih menggunakan PGM-FI,” ungkap Akihiro.

Sementara itu, President Director PT Astra Honda Motor Toshiyuki Inuma nggak menampik sama sekali bahwa sistem pembakaran karburator menyediakan opsi penyetelan dengan range yang lebih luas dan lebih fleksibel untuk kebutuhan peningkatan performa motor. Namun AHM sebagai pabrikan motor tetap berkomitmen terhadap emisi gas buang yang dikeluarkan oleh motor. Mau bagaimanapun emisi gas buang motor bermesin injeksi lebih sedikit dan lebih terkontrol dibandingkan dengan mesin karbu. Apalagi sekarang AHM udah nggak punya varian motor dengan sistem karbu.

“Tidak hanya untuk masa sekarang, tetapi untuk masa depan, kebutuhan regulasi emisi mulai berkembang, maka menurut kami dengan mengadopsi injeksi adalah yang terbaik untuk saat ini dan nanti,” terang Inuma.

Advertisements