• Home »
  • Article »
  • Resmi Dirilis di IIMS 2018, Harga Royal Enfield Himalayan Tembus Rp 93 Juta

Resmi Dirilis di IIMS 2018, Harga Royal Enfield Himalayan Tembus Rp 93 Juta

Di segmen motor petualang, Himalayan bukanlah produk baru. Motor ini sudah diluncurkan oleh Royal Enfield sejak beberapa tahun yang lalu di negara asalnya India. Himayan kemudian diboyong dan dipamerkan di Indonesia pada tahun 2016, persisnya di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2016. Namun saat itu Distributor Motor Indonesia (DMI) sebagai distributor resmi motor Royal Enfield di Indonesia belum resmi menjual Himalayan. DMI hanya sebatas memperkenalkan Himalayan kepada publik sekaligus tes pasar. DMI akhirnya resmi merilis Himalayan di Tanah Air bertepatan dengan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018. Sayangnya motor ini dibandrol dengan harga yang cukup fantastis!

DMI membandrol Himalayan dengan harga Rp 93 juta on the road. Status motor kabarnya ready stock dan siap dikirimkan kepada konsumen mulai akhir April 2018 ini. Mungkin harga segitu terdengar wajar mengingat Himalayan mengusung mesin LS410 yang berkapasitas 410 cc satu silinder dan berpendingin udara. Apalagi mesin di atas 250 cc sampai dengan 500 cc di Indonesia ini sudah kena PPN BM sebesar 60 persen. Apakah Himalayan bakal diminati oleh konsumen di Indonesia? Kalau ngomongin laku sih ya laku. Tapi berapa kuantitasnya? Jelas nggak akan banyak konsumen yang melirik Himalayan, kecuali yang benar-benar pengen motor anti mainstream. Terlebih di India sana Himalayan cukup sering terkena isu kualitas, padahal sebagai sosok motor adventure harusnya Himalayan memiliki reliabilitas yang baik.

Baca juga:

Nah… IMHO mestinya DMI bisa membandrol Himalayan jauh lebih murah lagi. Kenapa? Pertama, Himalayan diproduksi di India. Betul Himalayan kena PPN BM 60 persen ketika masuk Indonesia, namun di India sana harganya tergolong murah kok, cuma Rp 40 jutaan kalau nggak salah ya. Itu harga on the road ke tangan konsumen. Berarti ketika dijual di Indonesia ada selisih lebih dari 100 persen. Dan nggak mungkin kan distributor resmi mendapatkan harga setara dengan konsumen di negara asalnya? Alasan kedua, Himalayan nggak mengusung teknologi yang advance. Mesin masih SOHC berpendingin udara, dashboard analog, lampu-lampu masih pakai bohlam biasa, suspensi depan masih teleskopik, dan performa mesin nggak bisa dibilang fenomenal meskipun kapasitasnya tembus lebih dari 400 cc. Ketiga, range harga di atas Rp 90 jeti sudah masuk zonanya motor merek-merek Eropa dengan teknologi yang serba advance dan performa beringas macam KTM 390 Duke, BMW G 310 R, dan BMW G 310 GS. Walaupun nggak bisa dipungkiri ketiga motor itu juga diproduksi di India, bukan di Eropa, tapi secara brand image dan teknologi Royal Enfield kalah kelas dengan KTM dan BMW Motorrad. Lebih menariknya lagi dengan range harga di bawah Rp 90 juta, persisnya Rp 60 jutaan malah, masih ada Kawasaki Versys-X 250 dan Honda CRF250RALLY yang punya reliabilitas sangat baik dan performanya nggak kalah dibandingkan dengan Himalayan.

Meskipun demikian Adventuriderz.com mengapresiasi langkah DMI yang berani menjual Himalayan ke Indonesia. Perkara laku atau nggak, ya tinggal pinter-pinternya DMI menawarkan kelebihan motor ini kepada konsumen di tengah persaingan motor adventure yang sangat ketat. Soalnya Himalayan ini nggak seperti lineup motor lain milik Royal Enfield yang menjual nilai historis. Ini motor petualang yang mestinya siap dipakai ancur-ancuran. Di sini sudah ada Kawasaki Versys-X 250 dan Honda CRF250RALLY di angka Rp 62-65 juta dan BMW G 310 GS di angka Rp 130 jutaan, sedangkan Himalayan ada di tengah-tengah dengan angka Rp 93 juta. Oh ya, buat temen-temen yang pengen liat langsung Himalayan, motor ini masih akan nongkrong di IIMS sampai dengan 29 April 2018. Masih ada waktu empat hari lagi!

Advertisements