• Home »
  • Adventure »
  • Ikutan Event Off Road STA #1 – 2018… Tanjakannya Nggak Ada yang Beresss!!

Ikutan Event Off Road STA #1 – 2018… Tanjakannya Nggak Ada yang Beresss!!

Kurang lebih sekitar dua minggu yang lalu, persisnya pada 14 Juli 2018, Adventuriderz.com bersama dengan teman-teman komunitas trail di sini ikut ambil bagian dalam event off road Sribawono Trail Adventure (STA) #1 – 2018. Yups sesuai dengan namanya, bisa dibilang ini adalah event pertama yang diselenggarakan oleh teman-teman dari komunitas STA. Meskipun baru bertama kali bikin event dan belum berpengalaman, IMHO event STA #1 tergolong sukses sehingga bisa memberikan kepuasan kepada para peserta berkat jalur-jalurnya yang amat sangat aduhai. Terus gimana keseruan event STA #1?

Nah… Event STA #1 ini mengambil titik start dan finish di Lapangan Merdeka Sribawono, Lampung Timur. Peserta yang ikut lumayan banyak juga walaupun sepertinya nggak tembus 1.000 rider. Tapi banyak juga lho rider yang rela datang jauh-jauh ke Sribawono buat ikutan STA #1. Bahkan mungkin hampir dari seluruh penjuru Lampung tumplek-bleeek di Lapangan Merdeka. Karena titik start/finish yang nggak terlalu jauh dari rumah, Adventuriderz.com bersama dengan belasan teman-teman komunitas sengaja menggeladak motor alias menaiki motor sejak dari rumah hingga titik start. Cara ini cukup praktis ketimbang menggendong motor ke atas mobil. Beda ceritanya kalau lokasinya jauh. Towing motor pakai mobil jelas lebih aman dan nyaman.

Adventuriderz.com bersama dengan teman-teman komunitas melakukan start sekitar pukul 09.00 WIB dan langsung masuk ke jalur off road. Awalnya jalur yang dilewati memang nggak cukup istimewa. Hanya jalur single track di tanah datar yang melewati perkebunan warga. Mulai dari kebun kakao, kopi, hingga sawit. Si belalang tempur Kawasaki KLX150L pun bisa digeber dengan kencang. Baru kemudian kami memasuki tanjakan pertama yang kalau nggak salah berada di wilayah Wana (Kecamatan Melinting). Teman-teman di sini menyebut tanjakan ini dengan nama “Tanjakan Sepele”. Gampang-gampang susah sih untuk melewati tanjakan ini. Tanjakannya sendiri memang cukup tinggi walaupun nggak terlalu panjang, banyak akar-akar pohon melintang di sekitar jalur dan ada beberapa gundukan (super bowl) plus jalur ngerel yang bikin kita nggak bisa mengail speed di awal, terus di bagian agak atas tanahnya agak gembur lengkap dengan banyaknya bebatuan. Itu belum termasuk pohon sawit yang berada di sebelah kanan, kiri, dan tengah jalur. Begitu sampai di depan tanjakan langsung coba tancap gas… Dan ternyata sampai di tengah tanjakan gagal karena ada motor rider lain yang menghalangi jalur. Adventuriderz.com turun lagi untuk melakukan percobaan yang kedua. Beruntung si belalang tempur sanggup melewati Tanjakan Sepele dalam dua kali percobaan.

Setelah lolos dari Tanjakan Sepele, kami menuruni bukit yang ternyata cukup curam. Nggak lama kemudian kami dihadapkan pada Tanjakan Enduro yang masih berada di wilayah Kecamatan Melinting. Total ada tiga sampai empat tanjakan yang bisa dicoba di sini dengan satu puncak yang sama. Lagi-lagi ini adalah tanjakan yang cukup ekstrem. Dari bawah nggak kelihatan sama sekali puncaknya. Kenapa? Karena pertama tanjakannya memang tinggi. Kedua karena banyak pohon sawit yang menutupi puncak tanjakan. Satu-satunya cara untuk melihat puncak tanjakan ya geber motor ke atas. Alhamdulillah dalam satu kali percobaan si belalang tempur udah sanggup naik ke atas. Maklum lah… Tanjakan ini tempat kami biasa latihan. Kebangetan kalau nggak bisa nanjak. Wkwkwkwkwk…

Dari Tanjakan Enduro kami bergeser menuju ke wilayah Gunung Kerung. Seperti di awal, jalur penghubungnya nggak bisa dibilang ekstrem. Malah sangat biasa… Jadi kami bisa menggeber motor dengan santai tanpa perlu bersusah-payah. Apalagi jalurnya juga kering karena di sini lama nggak turun hujan. Di wilayah Gunung Kerung ini kami harus menghadapi Tanjakan Gistar yang bisa dibilang amat sangat ekstrem. Tanjakannya tinggi dan panjang banget di tengah perkebunan jagung. Jujur aja Adventuriderz.com nggak coba tanjakan ini pas event kemarin. Soalnya waktu sebelum event nyoba pun gagal terus. Malah nggak tembus setengah tanjakan. Daripada motor babak belur mendingan nonton aja. Lha wong motor-motor built macam KTM, Husky, dan Sherco pun banyak yang gagal di sini. Apalagi ini cuma pakai KLX150 mesin standar ting-ting… Hehehe…

Yo wess… Puas nonton para rider penyemplak motor built up nyobain Tanjakan Gistar, kami geser ke sebelahnya yang disebut Tanjakan Pisangan. Lagi-lagi ini bukan tanjakan yang beres. Tanjakannya amat sangat curam, meskipun nggak terlalu panjang. Parahnya lagi di tengah-tengah tanjakan itu ada batu gede. Cuma rider dengan skill dewa sih yang sanggup lolos dari tanjakan ini. Itupun jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Buat rider yang gagal lolos dan sudah mulai lelah macam Adventuriderz.com ya mending melipir. Nggak perlu memaksakan diri harus bisa.

Meninggalkan Tanjakan Pisangan, kami melewati jalur single track dengan turunan curam menuju ke Tanjakan Ilat Kadal yang masih tetap berada di wilayah Gunung Kerung. Nggak sedikit rider yang terperosok ketika turun ke arah titik start Tanjakan Ilat Kadal. Bisa dibilang Tanjakan Ilat Kadal ini juga arena bermain kami hampir di setiap minggu. Ekstrem nggak mas? Jelas ekstrem bangeeeett… Kalau baru pertama kali liat tanjakannya aja udah bikin dengkul lemes… Tapi kalau yang biasa main di sini sih rasanya nggak ada masalah… Gagal sekali dua kali udah biasa. Coba lagi, lama-lama juga lolos… Itu kalau nggak kehabisan tenaga duluan ya… Hehehe… Selain nyobain Tanjakan Ilat Kadal, kami juga makan siang di sini. Ngopi juga sambil santai.

Setelah cukup puas beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini keluar dari Gunung Kerung yang kalau nggak salah menuju ke arah Batu Pengajar dan Gunung Mas. Sesuai dengan namanya, Batu Pengajar itu memang bener-bener kurang ajar!!! Jalurnya sih lebar, double track… Kanan dan kiri jalur lebih banyak didominasi oleh perkebunan jagung dan pepaya. Tapi batu-batu gede yang berhamburan di jalan itu lumayan bikin frustasi. Tangan rasanya sampai ngilu semua. Jarak yang kami tempuh untuk melewati track berbatu ini tergolong jauh sampai akhirnya kami kembali masuk ke dalam hutan dan disambut oleh Tanjakan Slamet. Lolos dari sana masih ada beberapa tanjakan lagi yang semuanya amat sangat ekstrem. Satu tanjakan terakhir yang Adventuriderz.com ingat adalah Tanjakan Patah Hati. Pokoknya tanjakan yang satu ini sanggup bikin patah hati para rider karena saking sulitnya dilewati. Bahkan para rider dengan skill tinggi penyemplak motor built up pun banyak yang gagal. Pokoknya ini tanjakan yang paling ultimate lah…

Oh ya… Di event STA #1 total ada sembilan tanjakan yang disediakan oleh panitia. Semuanya tergolong sebagai tanjakan yang ekstrem. Nggak ada yang gampang. Jadi ya nggak heran kalau hanya beberapa tanjakan aja yang sanggup dilibas oleh motor-motor trail bermesin kecil hingga odong-odong. Terus di menjelang finish di Lapangan Merdeka Sribawono para rider mesti melewati Kali Mesin. Lagi-lagi ini merupakan track yang sangat menantang sekaligus tricky. Alasannya karena sungainya agak dalam. Paling nggak ban depan-belakang terendam semuanya. Jadi temen-temen bisa bayangin itu airnya hanya sedikit di bawah tangki motor. Risiko mesin mati sangat tinggi. Horornya lagi di sungai itu banyak bebatuan gede-gede yang bikin kita agak susah menjaga kecepatan motor dengan konstan di dalam air. Daripada nanggung risiko basah-basahan dan motor ngadat, rombongan kami memutuskan balik kanan lewat jalur pelipiran langsung ke garis finish. Wkwkwkwkwkwk…

Advertisements