Main Off Road di Wana, Desa Tradisional Warga Lampung Melinting

Temen-temen sekalian… Belakangan ini bermain off road sudah menjadi rutinitas bagi Adventuriderz.com untuk mengisi waktu di akhir pekan. Yups, setelah punya buntut dan tinggal di Lampung Timur sejak setahun yang lalu bisa dibilang Adventuriderz.com sulit melakukan perjalanan adventure (on road – off road) jarak jauh. Salah satu yang bisa dilakukan ya dengan bermain full off road di akhir pekan karena bisa berangkat pagi atau siang hari dan sudah pulang lagi ke rumah di sore hari menjelang maghrib. Dengan begitu Adventuriderz.com bisa tetap berkumpul dengan keluarga tanpa meninggalkan mereka terlalu lama. Beda cerita dengan dulu yang sering melakukan perjalanan adventure jarak jauh hingga berhari-hari atau berminggu-minggu, sekarang nggak bisa lagi. Kebetulan pula yang namanya off road adventure di lingkungan tempat tinggal Adventuriderz.com sedang marak sekali sehingga terbentuklah sebuah komunitas trail yang beranggotakan sekitar 20-an rider. Agendanya tentu saja bermain off road adventure nyaris setiap akhir pekan. Entah itu di hari Sabtu atau Minggu, yang jelas kami rutin mencari keringat bersama-sama.

Tepat pada hari Minggu (29 Juli 2018) kami rombongan sekitar 15 orang rider memutuskan mencari keringat di Desa Wana. Ada yang kenal dengan Desa Wana? Okeee… Desa Wana merupakan desa tradisional yang berada di wilayah Kecamatan Melinting, Kabupaten Lampung Timur, dan telah ditetapkan sebagai objek wisata budaya sejak tahun 1990-an. Sebagai desa tradisional, di sana masih banyak banget ditemui rumah adat khas Suku Lampung Melinting dengan desain ala rumah panggung yang sangat klasik. Di jaman yang serba modern seperti ini, masih banyak lho rumah yang terbuat dari bahan dasar kayu. Kemudian di dalam rumah biasanya juga masih ada sejumlah peralatan masak tradisional seperti tungku. Nggak heran kalau suasana pedesaan masih sangat kental di Desa Wana. Asli keren bangeeet!!

Nah… Kembali ke masalah ngetrail… Kenapa kami memutuskan off road di Desa Wana? Pertama karena di sana jalurnya cukup memadai untuk latihan off road, khususnya dalam melibas tanjakan. Di sana ada Tanjakan Enduro yang sempat dilewati saat event STA #1 – 2018 dua minggu sebelumnya. Total ada sekitar empat sampai lima tanjakan dengan satu puncak yang sama. Alasan kedua, Tanajakan Enduro adalah tanjakan yang paling gampang di sekitar sini, walaupun sebenarnya ya tergolong tanjakan ekstrem juga. Lumayan lah buat latihan skill dan mental para pemula. Ketiga, jarak Desa Wana dengan lokasi rumah kami nggak terlalu jauh. Kloopp banget kan?

Karena berangkat ngegas udah hampir sore, sekitar jam 14.00 WIB, makanya kami nggak njalur. Melainkan langsung to the point meluncur Tanjakan Enduro. Kami ingin menikmati tanjakan ini dengan puas… Begitu sampai di lokasi satu per satu rider langsung geber motor dengan kencang di tanjakan pertama. Dari bawah suara motor terdengar meraung-raung tanpa terlihat motor maupun ridernya lantaran tanjakan tertutup oleh pepohonan sawit. Tiba giliran Adventuriderz.com naik, si belalang tempur Kawasaki KLX150L langsung melesat. Tapi di tengah-tengah tanjakan harus terhenti karena jalur tertutup oleh empat sampai lima motor yang bergelimpangan. Memang agak tricky bermain di Tanjakan Enduro. Kita nggak bisa lihat langsung puncak tanjakan. Begitu pula kalau ada rider yang crash maupun gagal nanjak nggak kelihatan. Mau teriak-teriak? Nggak kedengeran boskuuh…

Puas melibas tanjakan pertama, kami bergeser ke tanjakan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Pokoknya semua tanjakan dicoba. Jatuh bangun, ndlosor, motor terbang, stang bengkok, hingga badan ketimpa motor saat crash udah jadi pemandangan yang lumrah. Alhamdulillah nggak ada crash yang cukup fatal. Rata-rata jatuh bego’ khas anak trail. Yang jelas kami sangat puas mencoba semua tanjakan hingga berkali-kali sampai lemas… Hari semakin sore kami bergeser ke Tanjakan Sepele yang sebenarnya nggak bisa dibilang sepele. Justru lumayan ekstrem. Mulai dari tanjakannya tinggi meskipun nggak terlalu panjang, banyak akar menjuntai di jalur, ada gundukan super bowl, ada jalur yang ngerel, serta di bagian atas tanahnya gembur dan berbatu. Nggak tahu kenapa sih dibilang Tanjakan Sepele. Mungkin karena naiknya gampang-gampang susah. Unpredictable! Tapi di Tanjakan Sepele ini nggak semua rombongan naik. Sebagian memutuskan keluar dari jalur menuju perkampungan karena sudah kelelahan. Sebagian lagi termasuk Adventuriderz.com lanjut latihan di Tanjakan Sepele. Kalau nggak salah hanya sekitar enam sampai delapan rider yang naik ke Tanjakan Sepele. Beruntung si belalang tempur bisa naik Tanjakan Sepele dalam satu kali percobaan.

Dari Tanjakan Sepele kami sebenarnya pengen lanjut mencicipi Tanjakan Ilat Kadal di Gunung Kerung. Tapi sayangnya begitu tiba di Gunung Kerung ada dua motor yang trouble, salah satunya putus tali gas. Oke… Mampir bengkel dulu buat dibenerin yang ternyata memakan waktu agak lama. Semua motor kembali fit saat waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB. Karena sudah menjelang maghrib, kami kemudian memutuskan untuk langsung pulang ke rumah masing-masing alias nggak jadi latihan di Tanjakan Ilat Kadal yang super ekstrem. Mungkin bakal coba di lain waktu. Apalagi beberapa kali nyoba nanjak di sana selalu gagal. Masih penasaran… Hehehe…

Advertisements