• Home »
  • Adventure »
  • Main Off Road di Tanjung Bintang – Lampung Selatan… Jalur Full Lumpur!!

Main Off Road di Tanjung Bintang – Lampung Selatan… Jalur Full Lumpur!!

Temen-temen sekalian… Pada tanggal 12 Agustus 2018 yang lalu Adventuriderz.com pergi ke Tanjung Bintang (Lampung Selatan) untuk mengikuti event Anniversary TAS #3 yang notabene salah satu komunitas off road yang ada di wilayah setempat. Seperti biasanya, dalam sebuah perayaan anniversary komunitas ataupun klub off road bakal diisi dengan main off road bareng. Nggak mau melewatkan momen tersebut, Adventuriderz.com bersama dengan tujuh orang rekan lainnya meluncur ke Tanjung Bintang!

Kali ini Adventuriderz.com yang masih mengandalkan si belalang tempur KLX150L berangkat bersama dengan Mas PR yang menggunakan motor trail Monstrac, Mas RM dengan Honda XL 125 wannabe, Mas AN yang pakai KTM 350 EXC-F, serta sisanya Mas KH, Dokter AG, Mbak EN, dan FJ semuanya pakai KLX150. Dari basecamp semua motor itu diangkut menggunakan truk combined harvester (alat pemanen padi) menuju Tanjung Bintang, kecuali motor KTM 350 EXC-F milik Mas AN digendong oleh mobil double cabin Nissan Navara NP300.

Kami berangkat dari basecamp masih cukup pagi, sekitar pukul 06.00 WIB. Kemudian kami sampai di Lapangan Desa Sabah Balau – Tanjung Bintang yang menjadi titik start dan finish pada pukul 08.00 WIB. Sesampainya di sana kondisi Lapangan Sabah Balau sudah cukup ramai. Ada ratusan rider dari berbagai penjuru daerah di Lampung yang siap main offroad bareng meramaikan Anniversary TAS #3. Motor yang turun pun amat sangat beragam. Mulai dari odong-odong (trail rakitan), Viar Cross X, Kawasaki KLX/KX, Honda CRF, Yamaha YZ, Suzuki TS, KTM EXC/EXC-F, Husky TE/FE, hingga Sherco SEF-R semuanya tumpah ruah di Lapangan Sabah Balau!

Start dilakukan sekitar pukul 09.00 WIB. Begitu bendera start dikibarkan, kami langsung menggeber gas masuk ke jalur off road. Bisa dibilang sebagian besar jalur off road di event Anniversary TAS #3 berada di wilayah perkebunan karet milik PTPN 7, didominasi oleh jalur single track, dan di banyak sekali titik kami harus membawa motor naik turun sungai yang sangat berlumpur. Benar saja, nggak jauh dari titik start kami sudah dihadang oleh sejumlah cerukan berlumpur. Lalu tidak lama kemudian kami harus melewati tanjakan yang pertama. Tanjakannya nggak terlalu tinggi dan nggak panjang. Tapi sudut elevasinya cukup tegak. Sialnya lagi tanjakan ini sepertinya sudah diguyur air oleh panitia yang membuatnya lumayan licin. Beruntung si belalang tempur masih belum kerepotan menaklukkan tanjakan tersebut.

Pada perjalanan berikutnya karakter track masih sama. Kebanyakan jalur single track yang dikombinasikan dengan jalur yang menyeberangi alur sungai. Bedanya cerukan sungai yang dilewati semakin dalam, terjal, licin, dan berlumpur. Jangan bayangkan alur sungainya lebar dengan air yang jernih. Bukan seperti itu bro… Tapi alur sungai yang sempit dan hanya ada lumpur. Bagaimana dengan tanjakan? Memang ada sejumlah tanjakan yang mesti kami lewati. Namun lagi-lagi tanjakan itu bukanlah tanjakan yang sangat gila, ekstrem, sangat tinggi, ataupun sangat panjang macam di event STA #1, melainkan tanjakan yang basah dan cukup licin. Nggak tahu deh di saat musim kemarau seperti sekarang kok jalurnya banyak yang licin. Apa sengaja diguyur air ya? Hehehe…

Sekitar pukul 10.00 WIB rombongan kami telah tiba di sebuah bukit. Katanya di depan sana ada tanjakan yang cukup ekstrem. Tapi sayangnya di jalur single track yang sebelah kanan tebing dan sebelah kiri jurang itu mendadak macet parah. Puluhan atau bahkan ratusan motor stuck nggak bergerak karena harus antre satu per satu melewati tanjakan. Sudah lebih dari 1 jam kami menunggu, namun nggak ada pergerakan yang berarti. Paling kami hanya bergerak beberapa puluh meter. Bayangin deh, badan dengan full gear berhenti di tengah terik matahari selama hampir 1,5 jam!!… Otomatis keringat mengucur deras, badan mulai dehidrasi, dan mata secara perlahan mengantuk. Lebih sial lagi panitia nggak memberikan jalur alternatif. Karena sudah terlalu lelah menunggu, kami bersama dengan puluhan rider yang lain terpaksa balik kanan, membuka jalur baru menuruni lereng bukit yang sangat curam menuju ke arah perkampungan.

Nah… Setelah keluar dari kemacetan luar biasa itu kami kembali masuk ke jalur… Kali ini jalurnya agak bervariatif karena melewati persawahan, perkebunan sawit, hingga bukit dengan tanah merah yang sangat berdebu. Kemudian kami kembali masuk ke perkebunan karet dan sawit, serta sangat banyak menyeberangi cerukan sungai yang sangat berlumpur. Nggak terhitung berapa kali kami menyeberangi cerukan sungai di tengah perkebunan karet dan sawit, yang jelas banyak!! Terkadang kami harus turun dari motor untuk saling membantu rekan yang terjebak di dalam lumpur. Di beberapa titik panitia menyiapkan sejumlah tanjakan sebagai sebuah tantangan. Beruntung kami bisa melewati semua tanjakan itu dengan baik, kecuali satu tanjakan yang Adventuriderz.com lupa namanya. Tanjakan itu berada di sebuah sungai yang sangat dirimbuni oleh pohon bambu. Lagi-lagi itu bukanlah tanjakan yang tinggi. Namun amat sangat tricky. Kenapa? Karena tanjakannya sangat licin, sangat tegak, dan nggak ada ruang buat ancang-ancang. Nggak heran kalau sebagian besar rider mesti jumpalitan ketika melewati tanjakan yang satu ini.

Terus tanjakan lain yang agak-agak menantang kalau nggak salah namanya Tanjakan PHP. Di tanjakan itu ada empat jalur sekaligus yang bisa dipilih oleh para rider. Tanjakannya sendiri lumayan tinggi, licin pastinya, dan ada beberapa super bowl (gundukan) yang bikin lumayan tricky. Nggak tahu kenapa kok dikasih nama Tanjakan PHP. Mungkin karena super bowl itu tadi ya yang bikin seolah-olah tanjakannya sudah habis (selesai), padahal masih belum berakhir. Alhamdulliah teman-teman satu tim Adventuriderz.com semuanya lolos. Mas KH, Mas RM, dan Dokter AG memang sempat njungkel di sini, tapi akhirnya lolos juga setelah beberapa kali percobaan.

Oh ya… Kami finish di Lapangan Sabah Balau sekitar pukul 15.00 WIB. Kok lama banget mas? Ya memang lama karena kami super santai. Nggak semua rider dalam tim kecil kami punya pace yang kencang, skill yang sama, dan daya tahan tubuh yang sama. Apalagi motor milik Mas KH sempat trouble, tali gasnya putus. Jadi ya mendadak buka bengkel dadakan di tengah hutan. Toh prinsip kami ketika off road bukanlah kencang-kencangan, melainkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan. Kalau ada yang sudah kelelahan ya berhenti istirahat bareng-bareng. Kalau ada yang kesulitan melewati jalur ya saling tolong-menolong. Kalau ada yang motornya trouble ditungguin sampai beress!! Terakhir nih ya… IMHO walaupun jalurnya cenderung monoton dan sempat kena macet yang sangat menyebalkan, tapi kami cukup fun dan menikmati event Anniversary TAS #3. Sampai jumpa lagi di petualangan selanjutnya!

Advertisements