Event Jagur #2 Hari Kedua: Jalur Sangat Ekstrem, KLX150 Tumbang!

Melanjutkan cerita mengenai event off-road adventure Jelajah Alam Gunung Rajabasa (Jagur) 2 pada 24-25 November 2018 lalu di Lampung Selatan nih bro… Jadi event Jagur 2 digelar selama dua hari alias 2 days off-road adventure. Pada hari pertama kami para off-roader diajak menyusuri pegunungan di pesisir pantai Lampung Selatan dengan kondisi jalur yang naik-turun dan banyak bebatuan lengkap dengan jarak tempuh yang lumayan panjang (long trip) dari Menara Siger di Bakauheni hingga Pantai Bagoes di kawasan Grand Elty Krakatoa Nirwana Resort – Kalianda. Jalur di hari pertama memang nggak begitu ekstrem, tapi sangat melelahkan karena full bebatuan. Terus gimana dengan off-road hari kedua?

Untuk off-road hari kedua ini digelar pada Minggu (25/11/2018). Rutenya relatif pendek, sekitar 50 km, dengan titik start dari Pantai Bagoes dan finish kembali ke Pantai Bagoes. Konon kabarnya sih rute hari kedua ini sangat ekstrem. Oh ya, pada hari kedua tim Adventuriderz.com bertambah. Kalau di hari pertama meluncur enam orang, maka di hari kedua pasukan nambah jadi 12 orang, yaitu Adventuriderz.com, Mas PR, Mas AN, FJ, AT, HL, Pak Dokter AG, Mas KH, Mas DD, dan Mas ED serta dua orang rider cewek Mbak EN dan RN.

Kami start sekitar jam 10.00 pagi dengan kondisi cuaca yang lumayan cerah. Walaupun tim kami ada 12 orang, tapi secara otomatis pecah menjadi dua tim yang lebih kecil. Mas KH, Mas DD, Mas ED, dan Adventuriderz.com ada di barisan depan, sedangkan sisanya di belakang. Di awal-awal jalur yang dilewati tergolong landai. Handicap yang ada hanya berupa lumpur. Lumpur pertama sukses kami lalui. Lumpur kedua mestinya menyeberangi aliran sungai yang cukup dalam. Motor mesti digotong menggunakan kayu oleh empat orang dan rider digendong oleh para helper, tentu dengan membayar sejumlah rupiah. Kami berempat memutuskan skip jalur berbayar ini dan mencari jalur lain hingga menemukan kembali jalur off-road. Tapi siapa yang sangka kami kembali dihadang oleh jalur lumpur yang lebih kejam. Melihat kondisi lumpur yang dalam, bahkan berisi air payau atau malah air asin, Mas KH ngajak melipir. Terlalu berisiko merusak motor katanya…

Setelah jalur lumpur yang ketiga tadi jalurnya tergolong enak, landai, dan bisa buat santai karena berupa jalur single track yang dominan di tengah perkebunan warga dengan sedikit bebatuan. Di sini Adventuriderz.com dan Mas ED sudah bergabung dengan rombongan di belakang, sementara Mas KH dan Mas DD yang menunggang Viar Cross X 250 ES hilang nggak tahu ke mana. Sepertinya mereka berdua melesat kencang di depan. Saat adzan dzuhur berkumandang kami berhenti sejenak di tengah hutan sembari membuka bekal makan siang. Selesai istirahat kami lanjut ngegas. Sayangnya motor KLX150S milik AT bermasalah. Tromolnya pecah sehingga harus dievakuasi.

Sembilan orang ini kemudian melanjutkan perjalanan tanpa AT. Adventuriderz.com dan Mas ED melesat kencang meninggalkan rombongan untuk mengejar Mas KH dan Mas DD. Kami kemudian masuk ke jalur tanjakan di Gunung Rajabasa. Mungkin momen ini adalah petualangan kami yang sesungguhnya. Kalau boleh digambarkan, jalur di Gunung Rajabasa ini berupa tanjakan yang panjang. Salah… Bukan tanjakan panjang, tapi sangaaat panjang. Asli kayak nggak ada habisnya tanjakan tersebut. Belum lagi jalur sangat basah dan licin. Mas ED dengan motor odong-odongnya terus merayap di depan, disusul oleh Adventuriderz.com yang menggeber si belalang tempur KLX150L. Beruntung traksi ban si belalang tempur sangat oke. Walaupun hanya bisa merayap karena sangat licin tapi si belalang tempur terus naik tanpa kendor.

Nah… Baru dapat setengah tanjakan, tangan dan kaki mulai gemeteran, napas ngos-ngosan, dan keringat bercucuran. Cuaca nggak hujan sama sekali tapi jersey kami bisa basah kuyup. Di setengah tanjakan ini Mas ED sudah berhenti, ternyata di depan juga ada Mas KH dan Mas DD yang ngos-ngosan di atas motornya. Nggak lama kemudian Mas KH yang sudah lebih lama beristirahat tampak lanjut menggeber Viar Cross X 250 ES miliknya. Adventuriderz.com sendiri masih asyik ngobrol bareng Mas DD dan Mas ED. Lalu Mas DD mengambil inisiatif menggeber motornya, diikuti oleh Adventuriderz.com dan Mas ED. Di sisa setengah tanjakan yang sangat jahanam, licin, dan banyak akar-akar pohon melintang ini Adventuriderz.com merasa tenaga si belalang tempur mulai melemah. Ada gejala kampas kopling aus, meskipun akhirnya kami berempat sukses melewati tanjakan.

Di rute berikutnya setelah tanjakan setan tadi jalur masih sedikit menanjak tapi sangat licin. Semakin mengerikan di sebelah kiri berupa jurang. Kalau nggak hati-hati dan sampai melakukan kesalahan sedikit saja dijamin jurang siap menerkam. Habis tanjakan tadi Adventuriderz.com sempat menolong beberapa rider penyemplak motor KTM. Dalam kondisi medan yang ekstrem dan licin seperti ini penyemplak KTM dan motor built up lain banyak yang frustasi. Tenaga motor yang sangat liar membuat mereka kehabisan tenaga dalam mengendalikan motor. Setiap kali digas ban motor langsung ngesot ke kanan-kiri nggak dapat traksi. Berulang kali mereka jumpalitan, padahal jalur yang dilewati hanya sedikit menanjak. Bahkan salah satu rider KTM yang Adventuriderz.com tolong wajahnya sudah pucat dan tangan sampai gemeteran, nggak kuat menarik tuas kopling maupun gas. Beda dengan motor built up, motor-motor dengan kapasitas mesin kecil justru lebih mudah dikendalikan di track Gunung Rajabasa karena hentakan power jauh lebih jinak. Mau gas gede pun powernya ya segitu-segitu aja.

Sampai di tempat yang lebih lapang Adventuriderz.com kembali bertemu dengan Mas KH dan Mas DD, disusul oleh Mas ED yang datang kemudian. Kami berempat istirahat cukup lama sembari menunggu rombongan teman-teman yang masih di belakang. Sayangnya setelah sekian lama menunggu mereka nggak nongol juga. Akhirnya kami lanjut ngegas… Kami kira tanjakan tadi adalah yang pertama dan terakhir. Tapi dugaan kami salah… Karena nggak lama setelah kami ngegas kami dihadang lagi oleh sebuah tanjakan. Tanjakan kedua ini nggak kalah jahanam. Di awal tanjakan nggak ada ancang-ancang. Bebatuan besar yang sangat licin langsung menghadang. Kami inisiatif membuat rute baru untuk menghindari bebatuan besar itu. Kami pun harus melewati semak-semak yang rimbun, tanah lembab dan lengket, dan ternyata tetap banyak batu! Jalur plipiran nggak lebih baik daripada jalur asli yang disediakan panitia. Asyiknya samar-samar rombongan di belakang mulai terlihat, yaitu Mas PR dan Pak Dokter AG. Sisanya nggak ada!! Temen-temen yang lain pada putar balik. Ada yang motornya trouble, ada pula yang nggak mau ambil risiko akibat jalur yang kelewat ekstrem.

Saat mencari jalur plipiran inilah drama terjadi. Tenaga si belalang tempur milik Adventuriderz.com semakin ngedrop. Adventuriderz.com yakin kampas kopling sudah habis. Dan benar saja begitu motor dipaksa terus ngegas di tanjakan nggak ada lagi dorongan tenaga ke roda. Roda nggak gerak sama sekali. Ketika tuas kopling dilepas pun mesin nggak mati. Yo wes positif kampas kopling habis. Beruntung Adventuriderz.com punya tim yang solid. Mereka rela dorong motor sampai ke tempat yang lebih lapang. Mas KH kemudian membuka bak kopling untuk mengganti kampas kopling yang telah aus. Kebetulan Adventuriderz.com selalu membawa cadangan kampas kopling di tas. Sembari melakukan perbaikan, kami menelepon tim evakuasi buat jaga-jaga kalau motor nggak bisa diperbaiki. Dan benar saja, nggak cuma kampas kopling aja yang aus, tapi satelit kopling juga rompal. Motor nggak bisa diperbaiki di hutan nyaris di puncak gunung macam ini. Kami putuskan mendorong motor sampai atas karena setelah tanjakan selesai jalur berupa turunan.

Gimana rasanya motor mogok di gunung? Beuuuh nano-nano mas bro… Keringat bercuruan setelah mendorong motor, tenggorokan kering, tangan gemeteran, dan sialnya semua kehabisan air minum. Mantap kan? Hahaha… Agak beruntungnya setelah sukses mendorong motor di tanjakan kedua tadi jalurnya menurun sampai kami menemukan area pemukiman warga. Bisa dibilang nggak kerepotan lah waktu turun. Adventuriderz.com lalu ditinggal di titik penjemputan tim evakuasi, sedangkan teman-teman yang lain lanjut ke titik finish tanpa melewati jalur off-road. Kenapa? Karena hari sudah sore. Sebenarnya masih ada satu tanjakan dan sejumlah jalur menantang lain yang mesti dilewati dalam jalur. Tapi panitia sudah tidak mengijinkan peserta masuk ke jalur meskipun motornya fit. Alasannya ya itu tadi, udah kesorean! Para off-roader langsung diarahkan ke titik finish melewati jalan aspal.

Well… Beginilah off-road adventure. Kadang perlu melipir, kadang hajar terus, kadang bisa finish, dan kadang bisa tumbang. Tapi yang pasti kebersamaan dan friendship sangat dibutuhkan di dunia off-road adventure. Makanya jangan heran kalaupun ada masalah kayak cerita di atas kami masih bisa haha hihi, masih bisa ketawa, masih bisa senyum. Berkat teman-teman yang kompak dan solid, masalah berat pun bisa dihadapi dengan happy. Nggak kebayang deh kalau kena trouble terus sendirian. Bisa nangis daraaaah… Hahahaha…

Advertisements