Melibas Jalur Jahanam Maestro Trail Adventure 2018 – Bandar Lampung

Yeaaah… Tahun ini Lampung memang penuh banget event off-road adventure. Bahkan di akhir tahun event off-road adventure masih saja padat. Setelah pada akhir November 2018 yang lalu Adventuriderz.com ikutan event Jelajah Alam Gunung Rajabasa (Jagur) #2 selama dua hari, pada pertengahan Desember persisnya tanggal 15 Desember 2018 kembali ikutan event off-road. Kali ini yang diikuti adalah Maestro Trail Adventure 2018 di Bandar Lampung. Bisa dibilang event Maestro yang cukup rutin diselenggarakan setiap tahun tergolong sebagai event yang cukup bergengsi di Lampung. Kenapa? Karena Maestro dikenal punya jalur off-road yang sangat ekstrem! Nggak heran event Maestro selalu ramai diikuti oleh off-roader dari berbagai penjuru daerah. Untuk Maestro 2018, jumlah rider yang terdaftar mengikuti event lebih dari 1.800 orang. Gila nggak tuh??

Titik start event Maestro 2018 berada di Lapangan Pinang Jaya yang masih masuk ke dalam wilayah Kecamatan Kemiling – Bandar Lampung. Sebelum start Adventuriderz.com mendapatkan informasi dari salah seorang rekan off-roader yang ikut mempersiapkan jalur, Mas Andri Encek… Doi bilang kalau jalur yang dilewati nanti bakal sangat berat. Apalagi kalau turun hujan, dijamin licin bangeeett… Mas Andri ngasih saran Adventuriderz.com start lebih awal. Soalnya kalau start belakangan ditakutkan jalur sudah rusak dan itu membuat perjalanan semakin berat dan melelahkan. Lebih parahnya lagi ketika memasuki jalur single track kita sulit atau nggak bisa putar balik. Model jalurnya ngunci. Sekali masuk harus lanjut terus. Maju kena mundur kena!

Well… Adventuriderz.com menuruti saran dari Mas Andri karena doi cukup paham dengan jalur yang bakal dilewati. Kami yang berjumlah lima orang yaitu Adventuriderz.com, Mas PR, Mas KH, Dokter AG, Mbak EN, plus tiga orang rider dalam satu keluarga antara lain Om KW, Mbak HN, dan mereka berdua yang masih SMA tapi punya skill sangat oke, DR, berangkat bareng dengan start sekitar pukul 08.00 pagi mendahului start dari panitia. Di awal perjalanan kami masuk ke jalur single track dengan dua tanjakan yang tidak terlalu tinggi. Dua tanjakan itu bisa dilalui dengan mulus. Handicap berikutnya adalah turunan yang sangat curam. Kami semua lolos dengan baik di sini, kecuali Mbak EN yang tergelincir dan Mbak HN yang memilih melipir.

Dari rintangan awal itu kami bergerak melewati jalan aspal menuju jalur off-road berikutnya. Setelah sekian kilometer melewati aspal, kami kembali masuk ke jalur off-road dengan ditemani gerimis rintik-rintik. Kali ini jalur yang dilewati berupa jalur double track tanah di tengah kebun kopi yang ternyata sangat basah dan licin. Jalurnya sangat unik karena licin luar biasa. Seperti keramik yang disiram dengan oli lalu dilewati oleh motor!! Tapi anehnya si belalang tempur milik Adventuriderz.com perform sangat baik di lintasan seperti ini. Motor terus bergerak dan ban mendapatkan traksi sangat baik. Mas KH yang pakai Viar Cross X 250 ES dan Dokter AG dengan Kawasaki KLX150 BF pun merasakan hal yang sama. Si anak muda DR yang menggeber motor 2-tak Yamaha DT100 agak kerepotan. Namun karena doi punya skill yang cukup oke jadi bisa keluar dari rintangan dengan cepat. Beda cerita dengan pasangan suami istri Mas PR dan Mbak EN yang sama-sama menggeber KLX150, mereka sangat kesusahan. Berkali-kali mereka terjungkal sehingga sangat lama baru bisa lolos dari jalur tersebut. Padahal Mas PR ini punya skill yang sangat memadai. Tapi nggak tahu kenapa di jalur super licin doi jadi nggak berdaya. Gimana dengan Om KW dan Mbak HN? Om KW yang sempat mengalami trouble pada motor melanjutkan perjalanan, sedangkan istrinya Mbak HN nyerah dan memutuskan balik ke titik start.

Adventuriderz.com, Mas KH, Dokter AG, dan DR yang udah lolos duluan dari jalur kebun kopi lanjut menggeber motor masing-masing karena cukup lama menunggu Mas PR dan Mbak HN nggak nongol-nongol juga. Jalur berikutnya ini punya view yang sangat keren menanjak ke atas gunung. Jalurnya pun sangat lebar (double track). Dalam kondisi kering, motor bisa digeber habis-habisan di jalur ini. Tapi sayangnya saat itu hujan dan basah… Jadinya sama kayak di jalur kebun kopi tadi, sangat licin bro! Waktu melewati tanjakan sih oke lah, motor masih bisa agak digeber. Nah repotnya itu di turunan… Kalau motor direm pasti melintir. Buat ngurangi kecepatan cuma mengandalkan engine brake sambil sedikit-sedikit nyenggolin rem belakang. Rem depan praktis jarang terpakai. Kami membutuhkan waktu hampir satu jam melewati jalur double track yang sangat licin sepanjang 7 km ini sampai ke puncak yang biasa disebut dengan Teropong Bintang. Kurang lebih pukul 10.00 kami tiba di sana. Dengan lokasi yang tergolong tinggi, Teropong Bintang menyuguhkan pemandangan yang luar biasa cantik. Pesisir pantai di wilayah Teluk Betung dan Panjang pun bisa dilihat dari sini. Asli keren!!

Kami berempat (Adventuriderz.com, Mas KH, Dokter AG, dan DR) berhenti melepas lelah di Teropong Bintang bersama dengan sejumlah rider yang lain. Apalagi di sana juga ada warung dan spot-spot keren buat foto. Secangkir kopi dan beberapa potong gorengan menemani istirahat kami di Teropong Bintang. Nggak lama kemudian Om KW nongol menyusul kami, diikuti oleh Mas PR dan Mbak EN. Pasukan kami akhirnya berkumpul lagi dengan jumlah tujuh orang, minus Mbak HN yang udah nyerah.

Karena hari sudah semakin siang dan cuaca juga mulai membaik, kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Kami semua masuk ke jalur single track yang lagi-lagi basah, berlumpur, dan licin. Di awal-awal masuk ke jalur single track ini lebih banyak turunan daripada tanjakan, dengan kondisi di sebelah kiri jurang dan kanan tebing atau sebaliknya. Kalaupun ada tanjakan ya nggak terlalu tinggi. Bisa dilewati dengan gampang. Nggak jarang kami melewati jalur yang berada di tengah kebun kopi. Karakter jalurnya sama saja… Basah, berlumpur, dan licin! Hingga kami kemudian dihadang oleh tanjakan yang lumayan tinggi. Parahnya antrean di tanjakan amat sangat panjang. Yups, macet nggak cuma ada di kota. Di jalur off-road pun bisa macet!! Kenapa bisa antre dan macet? Karena nanjaknya cuma bisa satu per satu. Nggak sedikit motor dan rider yang stuck di tengah tanjakan. Terus nggak ada official atau warga yang membantu narik motor. Kami murni dilepas di tengah hutan. Yang bisa menolong kalau stuck ya hanya teman atau meminta belas kasihan rider lain.

Hampir dua jam kami menunggu antrean tanpa ada progres yang berarti. Kami bersama ratusan rider lain akhirnya memutuskan putar balik mencari jalur lain biar bisa potong kompas di depan antrean tanjakan tadi. Apalagi gerimis mulai turun. Kalau nggak cepetan gerak bisa-bisa kami bermalam di hutan. Apakah jalur melipir lebih gampang? Mungkin iya lebih gampang… Tapi tetap ekstrem dan melelahkan karena mulai banyak tanjakan yang mesti kami libas. Tanjakannya memang nggak tinggi, tapi sangat licin dan technical. Setelah sukses naik di tanjakan yang paling tinggi sehabis menyeberangi sungai, kami berhenti dulu makan siang.

Menurut informasi dari warga yang berada di kebun, jalur di sisa perjalanan sudah landai tapi jaraknya masih lumayan jalur untuk bisa keluar. Bisa-bisa sekitar 3 jam perjalanan. Faktanya?? Ternyata masih banyak tanjakan bro… Ya walaupun tanjakannya nggak tinggi-tinggi amat sih. Tapi dalam kondisi penuh lumpur, basah, dan licin tanjakan kecil pun jadi susah dilewati. Beruntung di sisa perjalanan banyak anak-anak kecil yang membantu mendorong atau narik motor di tanjakan. Paling nggak sedikit memudahkan rider yang stuck di tanjakan dan membuat antrean jadi jauh lebih cepat.

Di sisa perjalanan ini Mas KH udah ngacir duluan, sedangkan DR pamit putar balik menunggu rekan-rekannya sesama penunggang trail tua. Om KW nggak tahu ke mana rimbanya. Mungkin juga udah ngacir duluan. Tinggal Adventuriderz.com, Dokter AG, Mas PR, dan Mbak EN yang masih bergerombol. Kami berempat sempat istirahat lagi. Setelah kembali ke atas motor, Adventuriderz.com berada di depan dalam formasi, disusul oleh Mbak EN, Mas PR, dan Dokter AG. Adventuriderz.com langsung geber si belalang tempur. Nggak lama kemudian nengok ke belakang ternyata mereka bertiga udah nggak ada.

Sambil nunggu mereka, Adventuriderz.com ngegas sedikit lebih santai. Maklum tangan dan kaki udah terasa capek bangeettt… Eh bukannya mereka bertiga yang nongol, justru DR yang menyusul. Informasi dari DR mereka bertiga baik-baik saja di belakang. Yo wes… Adventuriderz.com melanjutkan perjalanan bareng DR sampai akhirnya ketemu lagi dengan Mas KH yang sedang istirahat. Kami bertiga menggeber motor hingga finish pukul 16.00. Bayangin deh, dengan jarak paling nggak sampai 50 km butuh waktu tempuh 8 jam (termasuk istirahat)!! Gimana dengan trio Mas PR, Mbak EN, dan Dokter AG?? Mereka finish jam 17.30. Hahaha… Kata mereka Mbak EN bolak-balik tersungkur karena tangan dan kakinya udah lemes gemeteran dihajar di jalur jahanam!! By the way jalur yang disajikan oleh panitia Maestro 2018 memang luar biasa ekstrem. TOP dah!!

Advertisements