Motor Trail Diyakini Bisa Bikin Penjualan Suzuki Semakin Moncer…

Penjualan Suzuki di Indonesia yang awalnya jeblok sekarang berangsur naik. Setidaknya tren kenaikan terjadi dalam dua sampai tiga tahun terakhir, persisnya sejak 2016. Produk yang beragam dipadu dengan strategi marketing yang bagus membuat posisi Suzuki kembali berada di deretan Top 3 pabrikan motor di Indonesia. Kalau dulu market share Suzuki hanya nol koma sekian, sekarang sudah di atas 1%. Artinya Suzuki sudah bisa battle dengan Kawasaki dalam hal angka penjualan, meskipun kalau dilihat produknya agak nggak berimbang karena kebanyakan produk Suzuki mengisi market entry level sedangkan Kawasaki banyak bermain di kelas menengah ke atas.

Sekedar indormasi, produk Suzuki yang paling laris saat ini adalah skutik Nex II yang menyumbang hingga 50% dari total penjualan Suzuki pada tahun 2018 yang lalu kalau saya nggak salah, disusul oleh Satria F150 yang mampu berkontribusi sebesar 30%, dan sisanya diisi oleh motor sport GSX series. Menurut opini saya, angka penjualan Suzuki masih bisa berkembang lebih baik andai saja mereka mau mengeluarkan produk motor trail entry level yang berada di kelas yang sama dengan Kawasaki KLX150 dan Honda CRF150L. Apa alasannya?

Market motor trail memang nggak terlalu gede. Tapi patut dicatat, market di segmen ini terus ada dan trennya menanjak. Apalagi kalangan penggemar motor trail terbagi ke dalam banyak cluster, mulai dari dual sport, off-road/enduro, supermoto, dll. Jadi nggak terpaku dalam satu tipe pengguna. Nah, salah satu kelemahan Suzuki adalah dalam hal layanan purna jual (after sales service). Jaringan 3S Suzuki tergolong masih minim. Uniknya hal ini bukan jadi masalah bagi kalangan pengguna motor trail off-road. Kebanyakan penyemplak motor trail off-road punya bengkel langganan masing-masing, baik itu untuk modifikasi, servis rutin, maupun setup motor. Siapa yang peduli dengan bengkel resmi???

Lha terus gimana dengan spare parts mas? Oke… Saya pengguna KLX150 yang tinggal di desa dengan jarak ke kota (Bandar Lampung) sekitar 80 km. Di sini nggak ada bengkel resmi Kawasaki. Adanya ya di kota. Saya nggak pernah tuh servis motor atau beli spare parts di bengkel resmi di kota. Butuh spare parts tinggal buka aplikasi BukaLapak, Tokopedia, dan lain-lain. Pencet sana-sini, bayar, dan 3-4 hari kemudian pesanan datang. Lanjut pasang di bengkel langganan terdekat. Beres! Buktinya KLX150 saya sampai sekarang sehat terus, selalu siap dipakai off-road. Nggak pernah ada cerita motor mangkrak karena susah cari spare parts. Suzuki juga bisa pakai strategi yang sama. Galakkan penjualan spare parts lewat marketplace dan sebarkan spare parts ke berbagai macam bengkel spesialis trail. Banyak bengkel spesialis trail juga jualan lewat marketplace atau Instagram kok!

Yakin deh, kalau Suzuki mau serius menaikkan market share, segmen trail wajib dilirik. Tapi tentu Suzuki harus menyajikan produk yang lebih unggul dibandingkan motor trail yang sudah ada. Kalaupun specnya mendekati atau sama, paling nggak harganya mesti lebih atraktif. Intinya harus ada salah satu sisi yang jadi selling point motor trail Suzuki, ntah itu dari segi produk yang lebih superior atau harga yang lebih bersahabat. Gimana Suzuki? Kapan trailnya nongol? Xixixixi…

Advertisements