Off-Road Hore Sambil Bakar Ayam di Puncak Gunung Mas – Lampung Timur

Hallo guys… Akhir pekan yang lalu, Minggu (31/03/2019) seperti biasanya saya mengisi waktu luang dengan main off-road menggunakan motor trail. Ya, main off-road memang nggak rutin banget saya lakukan setiap akhir pekan, tapi biasanya dalam sebulan paling nggak ada lah main satu sampai dua kali. Mengenai off-road di hari Minggu kemarin, saya dan teman-teman komunitas diajak gas bareng oleh sesama komunitas trail off-road dari Sadar Sriwijaya, sebuah desa yang masih masuk ke dalam Kecamatan Bandar Sribhawono – Lampung Timur, untuk gas bareng dan happy-happy ke Gunung Mas. Gimana keseruannya?

Sekitar pukul 10.00 WIB saya bersama dengan enam orang lainnya berangkat menuju Sadar Sriwijaya sebagai titik start. Maklum yang punya hajat adalah teman-teman dari Sadar, jadi titik startnya ya dari sana. Sialnya nggak lama setelah kami geber gas hujan turun sangat deras. Kami sempat berteduh sebentar di sebuah gubuk, tapi karena hujan nggak kunjung reda kami memutuskan lanjut hujan-hujanan biar nggak telat sampai Sadar. Sampai di Sadar kami istirahat sebentar kemudian langsung tancap gas menuju Gunung Mas bersama dengan puluhan rekan off-roader lainnya yang sudah berkumpul. Saya nggak menghitung berapa orang yang ikutan gas bareng ke Gunung Mas, namun saya perkirakan ada sekitar 20-an orang. Motornya macem-macem, ada Kawasaki KLX150, Honda CRF150L, KTM 300 EXC, Viar Cross X 250 ES, Suzuki TS125, Yamaha DT100, dan aneka macam trail odong-odong bermesin Kawasaki Ninja 150, Honda Tiger/GL series, dan lain-lain. Lengkap pokoknya!

Memang Gunung Mas itu di mana sih? Jujur saja walaupun saya sudah dua tahun belakangan tinggal menetap di Lampung, tapi saya nggak tahu banyak mengenai daerah-daerah di Lampung, nggak terkecuali Lampung Timur yang notabene wilayah saya. Hehehe… Dari hasil searching, Gunung Mas itu masuk ke wilayah Kecamatan Marga Sekampung, Lampung Timur. Lokasinya nggak terlalu jauh dari Sidorejo. Untuk sampai di Gunung Mas kami perlu melewati jalur-jalur off-road double track di tengah perkebunan jagung dan singkong. Meskipun judulnya jalur double track, tapi kita nggak bisa geber gas terlalu dalam. Kenapa? Karena di jalur ini banyak coakan-coakan yang dalam dan ngerel, bukan jalur double track yang plong. Sepertinya jalur ini juga menjadi jalur aliran air ketika hujan. Di sejumlah bagian juga masih tergenang air dan penuh lumpur. Memang nggak sulit meskipun agak tricky.

Setelah sekian puluh menit menggeber motor di jalur double track, kami akhirnya sampai di tanjakan menuju puncak Gunung Mas. Otomatis di sini kami mesti melakukan hill climb untuk sampai ke puncak gunung. Tanjakannya bisa dibilang nggak terlalu panjang, tapi lumayan tinggi dan tegak. Cuma awalannya aja yang agak susah karena cukup banyak gundukan (super bowl) yang membuat kita nggak bisa mengail speed dengan maksimal. Kalau dibandingin dengan tanjakan di Gunung Kerung ya masih ekstrem di Gunung Kerung ya. Tapi alhamdulillah dengan KLX150L saya sukses nanjak dalam satu kali percobaan. Saya kemudian turun lagi dan coba nanjak lagi, SUKSES!!

Di Puncak Gunung Mas menurut saya pemandangannya sangat keren. Hijau sepanjang mata memandang. Dari sana terlihat sejumlah gunung lain yang berada di sekitaran Gunung Mas. Mungkin suatu saat saya mesti mencoba naik satu per satu di gunung-gunung itu dengan motor trail. Oh ya, di puncak Gunung Mas ini kami menyalakan api untuk memanggang ayam yang sudah dibawa oleh teman-teman komunitas off-road dari Sadar. Rencananya kami memang mau makan siang dengan menu nasi putih, ayam bakar, sambal, dan lalapan di puncak. Gimana rasanya? Mantaaaap guys! Bahkan rasanya lebih nikmat daripada ayam bakar di restoran sekalipun! Kok bisa? Ya tentu karena faktor lapar setelah njalur, terus makannya juga keroyokan rame-rame. Wkwkwkwkwk…

Saat makan tadi sebenarnya sudah ada tanda-tanda cuaca nggak bersahabat. Mendung tebal mengelilingi kami. Bahkan dari atas gunung ini kelihatan sejumlah spot sudah diguyur hujan. Nggak mau terjebak hujan di atas gunung, kami pun memutuskan segera turun. Tapi sayangnya kami agak telat. Saat downhill gerimis mulai turun. Beruntung hujan deras baru datang ketika kami sudah turun dari puncak Gunung Mas. Di sinilah petualangan sesungguhnya terjadi… Ya kami memutuskan untuk pulang, namun mengambil jalur yang berbeda dari saat berangkat. Kami mengambil jalur Rawa Kodok. Ternyata jalur yang agak menurun ini sangat licin ditambah hujan semakin menjadi-jadi. Kami dituntut berhati-hati dalam membuka gas. Bahkan untuk sekedar ngerem saja mesti penuh perhitungan. Namanya motor gulang-gulung sudah jadi pemandangan yang lumrah di sini.

Sampai di jalur double track yang agak datar pun masih sangat menantang. Dalam kondisi normal jalurnya asli gampang. Tapi dalam kondisi hujan deras seperti ini sangat merepotkan. Selain licin, juga banyak kubangan air di jalur. Dan nggak tanggung-tanggung, kubangannya sangat dalam. Ban motor depan-belakang bisa tenggelam sempurna lho! Kalau nggak bisa mengantisipasi efeknya mesin motor bisa mati hingga mogok nggak bisa hidup lagi. Saya sempat kaget ketika menggeber motor lumayan kencang kemudian melibas kubangan dalam. Speed bisa turun drastis, mesin brebet-brebet, dan gas nggak mau balik. Untungnya sih mesin nggak mati. Sampai menjelang finish jalurnya dominan seperti itu. Licin, tricky, penuh lumpur, dan penuh canda tawa… Tapi sebelum benar-benar pulang, kami mampir dulu di sebuah sungai untuk mandi, bersih-bersih, walaupun nggak bisa bersih juga ya. Meskipun bukan jalur yang panjang, namun menurut saya off-road minggu lalu sangat seru, menyenangkan, sekaligus melelahkan. Kalau cuaca panas mungkin nggak terlalu menyenangkan seperti kemarin. Kadang cuaca hujan justru membuat kita jadi lebih fun. Banyak banget hal-hal konyol yang terjadi. Jangan tanya deh gimana rupa kami. Kayak kebo guys… Anyway, setelah off-road kemarin itu mesin motor saya suaranya nggak lazim, kemerosak nggak jelas kayak mesin jahit. Mungkin waktunya bongkar mesin ya!

Advertisements