• Home »
  • Review »
  • Review 5 Tahun KLX150L: Bongkar Mesin, Sekalian Upgrade Jadi KLX170?

Review 5 Tahun KLX150L: Bongkar Mesin, Sekalian Upgrade Jadi KLX170?

Nggak terasa si belalang tempur KLX150L saya bulan ini persis memasuki usia lima tahun. Motor ini cukup banyak menemani kegiatan saya, mulai dari sebagai kendaraan harian dan motor untuk dual sport adventure pada dua tahun pertama, banyak nganggur pada tahun ketiga, dan dominan dipakai buat off-road selama dua tahun terakhir. Walaupun kilometernya mungkin masih relatif rendah dalam lima tahun, tapi menurut saya ini motor yang capek, terutama dalam dua tahun terakhir yang sering banget dipakai buat off-road. Bukan rahasia lagi jarak tempuh saat off-road memang pendek-pendek, namun mesin hingga suspensi benar-benar diforsir dengan maksimal.

Oh ya… Selama lima tahun ini banyak komponen si belalang tempur yang masih dibiarkan standar. Mesin masih standar, belum di-bore up dan sejenisnya, karbu diganti dengan Kawahara PE 28, CDI BRT, dan knalpot pakai Norifumi RV1 Shorty. Dengan gaya riding dan pemakaian saya, selama lima tahun ini sudah mengganti sejumlah komponen. Kampas rem dan ban pasti lah lumayan sering diganti, kampas kopling kalau nggak salah ganti dua kali dengan milik KX85, bearing komstir ganti sekali, seal shock depan ganti sekali, dan linkage (Uni-Trak) juga udah ganti belum lama ini. Selain itu, penggantian beberapa kali dilakukan di bagian sprocket dan rantai. Tapi kayaknya penggantian gear set ini bukan karena sudah aus atau rusak, melainkan lebih karena banyak eksperimen dalam mencari final gear ratio yang nyaman. Untuk saat ini kombinasi ukuran sprocket 13T-52T atau 14T-56T merek SSS lengkap dengan rantai yang juga merek SSS cocok buat si belalang tempur saya.

Kondisi terakhir si belalang tempur saya sekarang sedang diobrak-abrik. Setelah off-road di Gunung Mas dua pekan yang lalu mesin si belalang tempur terdengar sangat kasar, kemerosak, dan lebih mirip mesin jahit. Saat mesin dibongkar diketahui bearing noken as sudah oblak, tentu saja perlu diganti. Di pasaran cukup banyak sih substitusi bearing noken as KLX150 dengan kode 3605. Mau yang versi racing harga mahal ada, yang murah juga banyak. Tapi saya pilih bearing noken as dari Kawasaki Genuine Parts saja karena harganya nggak terlalu mahal, juga nggak murah-murah amat. Sepasang bearing noken as KLX150 original Kawasaki saya beli online di BukaLapak dengan harga Rp 290.000.

Nah… Selain bearing noken as yang oblak, ternyata piston si belalang tempur juga sudah lelah dan perlu diganti. Rasanya ini cukup wajar mengingat umur yang sudah menyentuh angka lima tahun dan sering disiksa dengan rpm tinggi di jalur off-road. Mumpung mesin udah dibongkar dan minta ganti piston juga, saya jadi kepikiran menaikkan kapasitas mesin si belakang tempur jadi 170 cc, biar lebih galak lagi saat melibas tanjakan ekstrem. Caranya adalah dengan memasang bore up kit 63 mm yang banyak tersedia di pasaran. Kenapa 63 mm? Kok nggak 66 mm sekalian biar lebih gede lagi kapasitas mesinnya? Atau kenapa nggak ganti motor yang lebih powerful sekalian mas? Alasannya ya pengen coba dulu yang 63 mm. Pengen tahu seberapa besar perbedaannya dibandingkan dengan piston standar (58 mm). Toh kemungkinan saya cuma pasang bore up kit 63 mm dulu, sedangkan noken as, klep, dan head masih dibiarkan standar. Kalau kurang puas mungkin nanti bergerak ke arah noken as, klep, dan head, tapi secara bertahap ya. Secara teori seharusnya piston 63 mm bikin mesin lebih durable ketimbang 66 mm karena kenaikannya nggak terlalu banyak dan kompresi lebih rendah. So far bore up kit masih dalam proses pemesanan, belum dipasang. Nanti saya update lagi deh kalau si belalang tempur sudah bertransformasi menjadi KLX170! Mengenai kenapa nggak ganti motor sekalian, jujur aja sih saya masih cinta dengan frame dan suspensi KLX150. Hehehe…

Advertisements