Welcome KLX170: Kombinasi KLX150 + Bore Up Kit 63 mm dari BRT

Seperti yang sudah saya ulas di artikel Review Lima Tahun Kawasaki KLX150L beberapa waktu yang lalu, si belalang tempur KLX150L saya sudah memasuki usia lima tahun pada tahun 2019 ini. Saya beli motor ini kalau nggak salah bulan April 2014. Jadi ya persis lima tahun lah… Memasuki usia lima tahun, si belalang tempur sudah mulai minta jajan di bagian mesin. Setelah saya pakai off-road di Gunung Mas pada 31 Maret 2019, mesin si belalang tempur terdengar sangat kasar, kemerosak, dan mirip seperti suara mesin jahit. Nggak menunggu lama, saya gelandang motor ke bengkel milik mekanik langganan. Mesin kemudian dibongkar dan diketahui bearing kruk as (crankshaft) mulai oblak. Ternyata masalah nggak berhenti sampai di situ… Piston si belalang tempur juga minta diganti. Bisa dibilang semua komponen si belalang tempur masih dalam kondisi standar, kecuali kampas kopling dan per kopling yang sudah diganti dengan punya KX85. Selebihnya masih standar tingi-ting. Terus saya mikir, mumpung bongkar mesin, daripada diganti lagi dengan piston standar, mendingan dibeliin aja bore up kit yang banyak tersedia di pasaran biar performanya lebih nampol! Iya nggak?

Dalam mesin standar (cuma ganti CDI BRT, karburator Kawahara PE28, dan knalpot Norifumi NV1 Shorty), sebenarnya si belalang tempur KLX150L sudah cukup oke buat main off-road. Buat hill climb pun nggak masalah asalkan bukan tanjakan yang sangat ekstrem makanannya motor built up. Tapi ya gitu, mainnya kebanyakan di gigi 1 kalau buat nanjak. Power di gigi 2-nya kurang greget. Konsekuensinya apa banyak main gigi 1 di tanjakan? Kita nggak bisa dapat speed yang kencang, motor gampang jengat, dan mengendalikannya jadi lebih sulit. Imbas ke mesin pun kemungkinan besar ada karena dengan pakai gigi 1, mesin dipaksa berputar pada rpm tinggi terus. Bisa jadi ini salah satu penyebab kenapa bearing kruk as sudah oblak.

Nah… Untuk bearing kruk as saya tetap pakai produk dari Kawasaki Genuine Parts dengan harga satu pasang Rp 290.000 di BukaLapak. Temen-temen kalau mengalami permasalahan serupa bisa juga menggunakan merek lain seperti Faito yang harganya di kisaran Rp 320.000 – Rp 350.000 sepasang. Kalau punya duit lebih nggak ada salahnya pakai bearing racing yang harganya tembus Rp 700.000 sepasang atau malah lebih mahal lagi. Saya sih cukup pakai yang standar-standar aja ya yang nggak terlalu mahal. Toh produk dari Kawasaki Genuine Parts sudah cukup oke kok. Terbukti bearing standar bawaan motor bisa bertahan lima tahun.

Kemudian untuk bore up kit saya memilih menggunakan produk dari Bintang Racing Team (BRT). Kenapa BRT? Karena brand yang satu ini sudah sangat dikenal di kalangan off-roader maupun tim-tim balap. Banyak banget yang pakai produk BRT meskipun harus ditebus dengan harga yang lebih mahal. Bore up kit 62,5 – 63 mm untuk KLX dari Kawahara, Scorpion, atau TDR misalnya, hanya dibandrol dengan rentang harga antara Rp 850.000 sampai dengan Rp 1 jutaan. Sedangkan bore up kit 63 mm dari BRT saya tebus dengan harga Rp 1,55 juta. Itu belum termasuk ongkos kirim karena saya belinya di BukaLapak. Maklum tinggal di desa, lebih hemat bayar ongkir belanja online daripada berangkat sendiri ke kota.

Mungkin temen-temen banyak yang heran, kenapa kok bore up kit BRT lebih mahal dibandingkan dengan merek-merek lain? Ini mungkin lho ya… Karena BRT menggunakan material yang berbeda. Dalam satu paket bore up kit BRT ada blok, piston 63 mm, ring piston, pin, dan packing atas-bawah (gasket). Plus saya dapat bonus busi iridium merek Bosch. Nah, blok BRT terbuat dari material ceramic yang konon kabarnya bisa membuat mesin jauh lebih dingin. Kemudian pistonnya sudah forging, sehingga lebih presisi dibandingkan dengan piston casting. Begitulah kira-kira perbedaan antara bore up kit BRT dengan merek-merek lain yang lebih murah. Melalui sebuah perhitungan matematis (0,785 x diameter piston x diameter piston x panjang stroke), maka kapasitas mesin KLX mengalami kenaikan dari 144 cc menjadi 170 cc ketika dipasang bore up kit 63 mm, didapatkan dari 0,785 x 63 mm x 63 mm x 54,4 mm = 169,49 cc, bisa dibulatkan menjadi 170 cc.

Well… Pemasangan bore up kit BRT ke mesin KLX150L bisa dibilang cukup cepat karena semuanya bersifat plug and play. Head pakai standar bawaan motor, klep standar, per klep standar, dan noken as pun standar. Nggak ada lagi komponen lain yang perlu diganti atau diubah kecuali bore up kit tadi. Pokoknya langsung pasang, beres! Ya ini baru coba-coba ya guys. Nanti kalau misalnya kurang puas mungkin merembet ke komponen lain, seperti ganti noken as (camshaft), ganti kruk as (crankshaft), ganti super head all bronze BRT, ganti per klep, dan pasang klep lebar. Tapi bertahap melihat tingkat kepuasan saya nanti. Kalau ganti langsung semua nggak kuat duitnya. Wkwkwkwk…

Terus gimana rasanya setelah KLX150L dipasangi bore up kit 63 mm dari BRT? Pertama yang paling terasa adalah suaranya yang lebih gahar, lebih bulat, dan dari suaranya saja kita bisa tebak kalau tenaganya nambah. Beruntungnya di kampung nggak ada mesin dyno sehingga nggak bisa melihat seberapa besar kenaikan tenaganya. Semua testimoni saya nanti hanya berdasarkan feeling, bukan berdasarkan data-data berupa angka. Saat dicoba memang betul tenaga dan torsi motor jadi lebih melimpah. Tapi sayangnya saya baru sekedar coba di jalan datar. Belum dicoba di medan off-road maupun untuk hill climb. Kalau cuaca cerah, baru besok minggu motor ini digelandang ke medan off-road dan mencoba tanjakan-tanjakan tinggi di Gunung Kerung. Semoga saja tenaga dan torsi gigi 2 sudah ngisi buat nanjak. Dan terakhir, secara official si belalang tempur sekarang saya beri nama KLX170!

Advertisements