Review KLX170 dengan Bore Up Kit BRT 63 mm di Medan Off-Road

Mungkin temen-temen reader blog ini udah banyak yang tahu kalau motor saya si belalang tempur KLX150L telah dipasangi bore up kit 63 mm dari Bintang Racing Team (BRT). Ini adalah salah satu contoh melakukan bore up mesin tanpa perlu bikin mekanik pusing. Tinggal beli bore up kit dari BRT yang di dalamnya sudah termasuk blok ceramic 63 mm, piston (forging) 63 mm, ring piston, pen, dan gasket atau packing. Untuk sementara waktu saya memang hanya memasang bore up kit 63 mm saja tanpa mengganti komponen-komponen yang lain. Praktis kapasitas mesin si belalang tempur sekarang naik dari 144 cc (standar) menjadi 170 cc. Makanya motor ini sekarang saya beri nama KLX170. Terus gimana impresi KLX170 mas?

Jujur aja tinggal di kampung seperti saya ini repotnya nggak ada bengkel yang punya fasilitas lengkap seperti mesin dyno. Jadi kita nggak bisa mengukur berapa kenaikan tenaga mesin sebelum dan sesudah dipasangi bore up kit. Semua hanya berdasarkan feeling yang bisa saja sangat subjektif. Kebetulan weekend lalu KLX170 saya gelandang ke Gunung Templek di Wana (Kecamatan Melinting) dan Gunung Kerung di Pematang Tahalo (Kecamatan Jabung) sehingga bisa merasakan bagaimana impresi nunggang KLX170. Ngetes mesin seperti ini menurut saya paling pas dibawa ke gunung buat hill climb. Kalau tangguh buat melibas tanjakan ekstrem ya berarti nggak sia-sia melakukan bore up.

Well, setelah dipasangi bore up kit sangat terasa suara KLX170 berubah menjadi lebih gahar. Padahal knalpot nggak diganti, masih sama dengan sebelumnya, yaitu knalpot murah-meriah Norifumi RV1 Shorty. Ketika digeber di jalur off-road pun tenaganya terasa jauh lebih padat di semua gear, dan rpm mesin bisa naik melengking lebih cepat dibandingkan dengan mesin standar. Gimana saat dipakai nanjak? Di Tanjakan Enduro – Gunung Templek (Wana), dalam kondisi masih standar dulu saya lebih sering pakai gigi 1 saat nanjak. Bisa sih pakai gigi 2, tapi sekitar tiga perempat tanjakan harus down shifting ke gigi 1. Buat yang nggak piawai, down shifting di tanjakan ekstrem tergolong tricky karena rawan bikin motor jepat (wheelie). Nah, saat motor sudah berubah menjadi KLX170, saya langsung hajar pakai gigi 2 hingga finish di puncak tanjakan tanpa perlu down shifting. Sangat terasa tenaga dan torsi jadi jauh lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya. Bahkan nggak ada gejala kedodoran menggunakan gigi 2. Artinya masalah gigi 2 ngempos pada KLX150 standar setidaknya sudah lumayan bisa diatasi dengan bore up kit 63 mm.

Berikutnya motor digelandang ke Tanjakan Ilat Kadal di Gunung Kerung. Sekedar informasi, Tanjakan Ilat Kadal di Gunung Kerung itu jauh lebih ekstrem dibandingkan dengan Tanjakan Enduro. Selain lebih tinggi, lebih tegak, dan lebih panjang, juga berkelok dan ngerel. Pada percobaan pertama saya menggunakan gigi 2, tapi ternyata tetap mesti down shifting ke gigi 1 menjelang akhir tanjakan. Percobaan kedua tetap pakai gigi 2 dan gagal karena kurang ancang-ancang. Percobaan ketiga iseng full pakai gigi 1 tapi akhirnya ya gagal dan nyantol di pohon sawit. Kemudian pada percobaan keempat kembali pakai gigi 2 terus kagok saat down shifting, gagal maning. Fixed dari empat percobaan nanjak di Tanjakan Ilat Kadal cuma sukses sekali yang pertama. Wkwkwkwk… Untuk di Tanjakan Gistar yang merupakan tanjakan paling ekstrem di Gunung Kerung saya nggak coba karena udah pasti nggak kuat motornya. Mending nonton aja… Hahaha…

Kesimpulannya, dengan menggunakan bore up kit 63 mm sudah cukup membuat tenaga dan torsi KLX150 mengalami kenaikan. Power dan torsi jauh lebih ngisi dibandingkan dengan mesin standar di semua gear. Wajar sih karena kapasitas mesin melonjak jadi 170 cc. Tapi sebenarnya kenaikan itu belum sampai membuat tenaga dan torsi mesin menjadi sangat liar. Baru pada level cukup powerful. Mungkin project ke depan si belalang tempur akan dinaikkan lagi kapasitas mesinnya menjadi 188 cc menggunakan crankshaft BRT, di mana langkah (stroke) naik sebesar 6 mm. Ditunggu aja updatenya di blog ini ya!

Advertisements