Main Dual Sport Adventure Pakai Motor Enduro Eropa, Bisa Nggak Sih?

Kegiatan dual sport adventure di Indonesia belakangan lumayan mewabah. Menikmati riding menggunakan motor mulai dari jalanan aspal di kota yang mulus sampai di pelosok nusantara yang kebanyakan susah diakses namun punya pemandangan memukau memang sangat seru. Apalagi ada komunitas bernama Dual Sport Adventure Indonesia yang membuat kegiatan ini semakin hype. Mungkin masih ada yang penasaran, apa sih dual sport adventure itu? Yups, dual sport adventure merupakan kegiatan petualang yang mengombinasikan antara on-road dan off-road menggunakan motor dual sport. Jadi kata kuncinya sih campuran antara on-road dan off-road. Beda dengan touring yang kebanyakan pure on road atau enduro yang pure off-road. Di Indonesia udah banyak kok motor dual sport yang dipasarkan. Contohnya Kawasaki KLX150, Kawasaki KLX250S, Honda CRF150L, dan Honda CRF250RALLY. Motor yang kapasitas mesinnya lebih besar juga ada, misalnya KTM 690 Enduro R dan Husqvarna 701 Enduro. Tapi kebanyakan motor-motor dual sport tulen itu bobotnya berat. Ditambah lagi performa yang kurang nampol kalau pengen jauh lebih nakal di medan off-road (melintasi jalur hard off-road). Pertanyaannya, bisa nggak ya kita main dual sport adventure pakai motor enduro tulen dari brand-brand Eropa macam KTM, Husqvarna, Sherco, Beta, atau Gas Gas yang memang dikenal punya performa luar biasa di medan off-road?

Well… Salah satu syarat motor bisa dipakai dual sport adventure adalah motor itu harus bisa dipakai on-road dan off-road sekaligus. Saat dipakai on-road, seharusnya motor juga harus bersifat street legal (road legal) alias dilengkapi dengan surat-surat, plus kelengkapan standar jalan rayanya komplit. Ada konsol speedometer, kaca spion, dudukan plat nomor polisi, ada lampu-lampu, dan lolos uji emisi. Masalahnya adalah motor-motor enduro macam KTM 250/350/450/500 EXC-F, Husqvarna FE 250/350/450/501, Sherco 250/300/450 SEF-R, hingga Beta RR 4T 350/390/430/480 di Indonesia hanya dijual off the road tanpa surat-surat. Bukan karena mereka nggak bisa lolos uji emisi yang diterapkan di Indonesia. Jelas bisa banget… Kelengkapan standar jalan raya pun bisa dipasang. Lha wong di Amerika Serikat motor-motor itu dijual sebagai motor dual sport kok. Bahkan deretan motor itu sudah sesuai dengan standar emisi Euro 4, sedangkan di Indonesia masih pakai standar Euro 3. Jadi soal emisi gas buang dan emisi suara nggak masalah. Yang jadi masalah justru karena Agen Pemegang Merek (APM) KTM, Husqvarna, Sherco, dan Beta nggak mendaftarkan deretan produk enduronya untuk dilakukan uji tipe sehingga motor-motor itu nggak bisa dikeluarkan surat-suratnya. Ini case pada motor-motor terbaru ya, bukan motor-motor lama beberapa tahun yang lalu.

Masalah kedua, motor-motor enduro KTM, Husqvarna, dan lain-lain itu diciptakan sebagai motor kompetisi tulen untuk ajang balap mulai dari Classic Enduro, Cross-Country, Beach Race, hingga Extreme Enduro. Nggak heran secara bobot memang sangat enteng dan performa mesin sangat ganas. Sangat ideal lah buat bermain off-road. Dengan label motor kompetisi, maka jangan heran kalau konsumsi bahan bakarnya lumayan haus. Belum lagi interval servis motor-motor itu juga sangat pendek. Kalau nggak salah satu ekor motor enduro 4-tak KTM EXC-F atau Husky FE perlu diganti olinya setiap 15 jam mesin nyala. Kemudian piston mesti diganti setiap 250 jam mesin nyala. Jadi umur motor ini memang nggak berdasarkan kilometer seperti motor biasa, tapi berdasarkan jam mesin nyala. Di konsol speedometer nggak ada indikator trip meter, adanya hours. Bayangin deh kalau temen-temen melakukan kegiatan dual sport adventure selama seminggu (on-road dan off-road). Dalam sehari bisa riding selama 7-8 jam saja. Berarti dalam seminggu mesti ganti oli sebanyak 3-4 kali. Oli standar KTM/Husqvarna pakainya Motorex yang harganya Rp 400 ribuan per liter, sedangkan dalam satu kali pengisian butuh 1,5 liter. Berapa biaya ganti oli untuk satu minggu? Belum bensinnya… Belum lagi kalau sering dipakai dual sport adventure, dalam 250 jam sudah harus ganti piston yang harganya jutaan. Ngeri guys!!

Kesimpulannya, agak sulit menggunakan motor enduro Eropa untuk dual sport adventure maupun untuk harian. Malah menurut saya nggak memungkinkan. Masalah pertama adalah legalitas surat-surat dan masalah kedua maintenance cost yang sangat nggilani. Motor-motor enduro KTM/Husky lawas memang banyak yang dijual lengkap dengan surat-surat. Beruntung sekali yang masih punya simpenan motor enduro KTM/Husky ful paper. Tapi yang model-model baru sejak beberapa tahun terakhir dijual no paper. Buat para sultan yang nggak masalah dengan duit ya bisa saja nekat pakai motor enduro buat dual sport adventure. Contohnya Gas Gas EnduroGP 300 di Indonesia bisa dibeli lengkap dengan surat-surat. Tapi masalah lainnya motor ini pakai mesin 2-tak yang haus bensin dan oli samping bukan main. Walaupun punya duit banyak tetap nggak praktis karena baru jalan sebentar udah ngisi bensin dan oli samping. Ribet lah! Paling rasional memang tetap pakai motor dual sport tulen seperti Kawasaki KLX150, Kawasaki KLX250S, Honda CRF150L, Honda CRF250L, Honda CRF250RALLY, dan Yamaha WR250R karena maintenance cost jauh lebih murah dan jarak jelajah dalam sekali pengisian bahan bakar lumayan panjang meskipun kompensasinya bobot dan performa nggak sebagus motor enduro tulen. Kalau mau yang lebih powerful ya hajar langsung ke KTM 690 Enduro R atau Husqvarna 701 Enduro. Performa oke banget, kenceng, harga mahal, tapi bobotnya ya tetap nggak ringan. So, maklumi aja motor dual sport memang nggak bisa dipakai di jalur off-road yang sangat berat karena itu sudah masuk ranahnya motor enduro. Nikmati saja motor dual sport sebagai motor yang bisa dipakai di jalan raya dan off-road ringan sekaligus. Setidaknya motor dual sport masih jauh lebih baik dibandingkan dengan motor touring saat melintasi jalur off-road.

Advertisements