• Home »
  • Article »
  • Fakta: 16 Finisher ErzbergRodeo 2019 Semua Pakai Motor 300 cc 2-Tak

Fakta: 16 Finisher ErzbergRodeo 2019 Semua Pakai Motor 300 cc 2-Tak

Di artikel sebelumnya kita udah bahas mengenai hasil dari balapan ErzbergRodeo 2019 yang tergolong sebagai salah balapan Extreme Enduro paling kejam di dunia. Kenapa dibilang sebagai salah satu yang paling kejam? Karena dari total 500 starter, hanya 16 rider saja yang sanggup finish dalam batasan waktu yang telah ditetapkan yaitu empat jam. Padahal panjang track ErzbergRodeo 2019 hanya sekitar 35 km. Jadi temen-temen bisa bayangin, dengan jarak tempuh 35 km dan dikasih waktu empat jam saja banyak yang nggak lolos. Yang lolos cuma 16 orang saja. Bayangin gimana ekstremnya kompetisi ini.

Tapi dari hasil ErzbergRodeo 2019 yang dimenangkan oleh Graham Jarvis ini terungkap fakta yang cukup menarik untuk dibahas. Apa itu? Yups, dari total 16 finisher, ternyata semua rider ini menggunakan motor dengan kapasitas dan tipe mesin yang sama. Apa lagi kalau bukan motor enduro 300 cc 2-tak yang berasal dari tiga pabrikan motor asal Eropa. Mereka adalah Husqvarna, KTM, dan Sherco. Nggak ada brand Jepang maupun mesin 4-tak yang sanggup menyentuh garis finish dalam waktu kurang dari empat jam. So, mungkin ini bisa menjadi salah satu indikasi bahwa kompetisi Extreme Enduro itu memang jadi makanan empuk bagi motor-motor Eropa, khususnya dengan mesin 2-tak.

Sejumlah rider yang menggunakan motor Husqvarna semuanya pakai Husqvarna TE 300i (injeksi) atau Husqvarna TE 300 (karburator) antara lain Graham Jarvis, Alfredo Gomez, Billy Bolt, Pol Tarres, Lars Enockl, Jonathan Richardson, dan Xavi Leon Sole; sedangkan rider yang menggunakan motor KTM semuanya memilih KTM 300 EXC TPI (injeksi) atau KTM 300 EXC (karburator) antara lain Manuel Lettenbichler, Taddy Blazusiak, Jonny Walker, Travis Teasdale, Dieter Rudolf, Trystan Hart, dan Josep Garcia. Kemudian ada dua rider tangguh yang menggunakan motor Sherco 300 SE Factory yaitu Mario Roman dan Wade Young.

Daftar 16 Finisher ErzbergRodeo Red Bull Hare Scramble 2019:

  1. Graham Jarvis – Rockstar Energy Husqvarna Factory Racing (Husqvarna TE 300i)
  2. Manuel Lettenbichler – KTM Support (KTM 300 EXC TPI)
  3. Mario Roman – Sherco Factory Racing (Sherco 300 SE Factory)
  4. Alfredo Gomez – Rockstar Energy Husqvarna Factory Racing (Husqvarna TE 300i)
  5. Wade Young – Sherco Factory Racing (Sherco 300 SE Factory)
  6. Taddy Blazusiak – Red Bull KTM Factory Racing (KTM 300 EXC TPI)
  7. Billy Bolt – Rockstar Energy Husqvarna Factory Racing (Husqvarna TE 300i)
  8. Jonny Walker – Red Bull KTM Factory Racing (KTM 300 EXC TPI)
  9. Pol Tarres – TTR Rigamonti Team (Husqvarna TE 300)
  10. Travis Teasdale – Eurotek KTM (KTM 300 EXC)
  11. Lars Enockl – X-Grip Team (Husqvarna TE 300)
  12. Jonathan Richardson – Jonathan Richardson Team (Husqvarna TE 300)
  13. Dieter Rudolf – KTM St.Polten (KTM 300 EXC)
  14. Trystan Hart – RPM KTM Racing (KTM 300 EXC)
  15. Josep Garcia – Red Bull KTM Factory Racing (KTM 300 EXC TPI)
  16. Xavi Leon Sole (Husqvarna TE 300)

Melihat data di atas, di mana para alien di kompetisi Extreme Enduro semuanya menggunakan motor bermesin 2-tak khususnya 300 cc, nggak heran penjualan motor enduro 2-tak masih laris-manis di dunia, nggak terkecuali di Indonesia. Bahkan menurut KTM, motor enduro 2-tak KTM 300 EXC TPI tergolong sebagai best seller alias paling laris dari seluruh varian motor enduro pabrikan orange. Mungkin saja Husqvarna dan Sherco mengalami hal yang sama, seri 300 2-tak jadi yang paling laris. Sulit dibantah sih memang, sebagian besar konsumen hampir pasti menjadikan para rider-rider top itu sebagai role model, termasuk dalam menentukan motor idaman. Konsep “Race on Sunday, sell on Monday” rasanya berjalan dengan baik.

Terus kenapa para rider-rider top dunia tadi memilih mesin 2-tak? Jujur saya nggak tahu alasan pastinya. Saya pun bukan fans motor 2-tak. Saya masih lebih demen dengan motor 4-tak yang menurut saya power delivery-nya lebih predictable. Tapi kemungkinan karena alasan bobot motor 2-tak yang lebih enteng signifikan dibandingkan dengan motor 4-tak sehingga lebih enak buat melintasi track-track technical yang banyak ditemui di kompetisi Extreme Enduro. Selain itu, dengan kapasitas mesin yang sama, motor 2-tak memilih power dan torsi yang jauh lebih besar ketimbang motor 4-tak. Bobot lebih enteng, power dan torsi lebih besar. Jadi jangan heran kalau power-to-weight ratio (PWR) dan torque-to-weight ratio (TWR) motor enduro 2-tak lebih besar daripada yang 4-tak.

Advertisements