Menikmati Event Trabas Jogja Hard Enduro 7 yang Benar-Benar Hard!

Jogja Hard Enduro (JHE) 7 telah berlalu lebih dari seminggu yang lalu. Tapi gegap gempita event off-road yang satu ini masih terus terngiang. Yups, saya dan beberapa orang teman dari Lampung Timur memang mengikuti JHE 7 yang berlangsung selama dua hari (15-16 Juni 2019) dengan titik start/finish di Lanud Gading, Gunung Kidul. Momennya sangat pas karena masih nyambung dengan libur Lebaran. Nggak heran banyak temen-temen yang kompak dan join JHE 7. Kami datang ke Jogja rombongan empat mobil. Kalau nggak salah totalnya sekitar 12 orang. Sebagian besar dari kami nggak membawa motor dari Lampung. Cuma ada tiga orang yang bawa motor sendiri dari Lampung, sedangkan sisanya pakai motor yang sudah disediakan oleh Danang dan Mas Muawan dari PT SKS – Jogja, antara lain ada KTM 300 EXC TPI, KTM 500 EXC-F, Husaberg FE 350, Husaberg FE 450, Yamaha TT-R230, Kawasaki KLX150, dan Honda CRF150L.

Oh ya… Rombongan kami hanya ikut event JHE 7 yang regular. Kami nggak ikutan event private. Kenapa? Karena untuk private tanggal 15 Juni 2019 pesertanya dibatasi 200 peserta meskipun akhirnya melambung hingga lebih dari 300 peserta, dan beberapa dari kami yang pengen ikutan sudah nggak kebagian tiket. Tapi ikutan yang regular pada 16 Juni 2019 juga bukan pilihan buruk kok. Soalnya jalur yang disediakan nggak kalah seru dan nggak kalah menantang. Beda yang paling signifikan adalah jumlah peserta yang ikutan sesi regular amat sangat banyak. Tembus lebih dari 3.000 peserta! Sadis ya?

Walaupun sudah disediakan banyak motor-motor keren dan mahal seperti KTM dan Husaberg, tapi untuk JHE 7 ini saya memilih pakai motor Yamaha TT-R230. Alasannya saya sudah terbiasa pakai KLX150 bore up dan tenaga KLX150/CRF150L ya segitu-segitu saja. Saya pengen naik kelas dari KLX150, tapi juga nggak mau naik motor yang sangat brutal macam KTM/Husaberg. At least TT-R230 lebih galak dibandingkan dengan KLX150/CRF150L namun nggak seliar KTM/Husaberg. Jujur saja sih, fisik dan skill saya rasanya belum mampu menghandle motor macam KTM/Husaberg. Apalagi karakter jalur di Gunung Kidul yang menjadi lokasi JHE 7 kebanyakan adalah jalur teknikal. Buat rider amatir sulit lah pakai motor dengan jok sangat tinggi dan tenaganya buas. So, pakai TT-R230 merupakan pilihan yang paling rasional.

Nah… Kami memang datang rombongan, tapi faktanya kami nggak selalu bareng-bareng di jalur. Bahkan saya start paling buncit di antara rombongan saya. Handicap pertama yang mesti dilalui di JHE 7 regular ini adalah jalur bebatuan menyusuri Sungai Oya kalau saya nggak salah ya… Saya dan TT-R230 nggak kesulitan sama sekali di sini meskipun batu-batunya gila banyak banget dan gede-gede. Malah pemandangan di handicap pertama ini keren banget. Apalagi air sungainya sangat jernih, jadi pengen mandi. Hehehe… Setelah lolos dari sini kami menyeberangi sungai yang sama, melewati jalur setapak, jalur perkampungan, jalur setapak lagi, dan kemudian ketemu dengan dam atau aliran sungai yang sangat licin. Bisa dibilang ini menjadi salah satu jalur yang cukup unik di Gunung Kidul, di mana kita masuk ke aliran sungai yang dangkal dan bahkan di beberapa titik nggak ada airnya, tapi di dasar sungai itu berupa lempengan batu yang sangat licin. Rasanya jatuh bangun di sungai ini sudah menjadi pemandangan yang sangat lumrah. Nggak peduli penyemplak motor built up, trail lokal, maupun odong-odong banyak banget yang jatuh bangun. Beruntung dengan setelan angin ban yang pas, saya bersama TT-R230 bisa lolos dengan baik tanpa perlu basah-basahan.

Setelah keluar dari sungai yang kedua, kami kembali dimasukkan ke dalam sungai lagi. Sungai ketiga ini jauh lebih licin dan lebih panjang dibandingkan dengan sungai yang kedua. Motor hanya bisa berjalan merayap dengan sesekali saya harus turun mendorong motor. Nyatanya berdiri mendorong motor pun nggak gampang. Sering kali saya terpeleset karena saking licinnya dasar sungai yang berupa lempengan batu. Jujur saja jalur sungai kali ini lumayan menguras tenaga. Saya butuh waktu yang lumayan lama sampai bisa lolos keluar. Setelah lolos dari sungai, saya masuk ke jalur yang banyak gundukannya di tengah hutan/kebun. Jalurnya nggak terlalu sulit dan bisa dilewati dengan cepat.

Puas bermain air di sungai tadi, kami harus menghadapi banyak banget tanjakan. Tanjakan-tanjakan di JHE 7 lumayan bikin shock para rider dari Lampung, termasuk saya. Kenapa? Karena banyak banget tanjakan yang ngetrap-ngetrap seperti punden berundak, tegak banget walaupun nggak tinggi plus nggak ada ancang-ancang. Benar-benar butuh skill yang bagus. Sedangkan di Lampung sendiri kebanyakan tanjakannya tinggi, panjang, dan ngeplong yang lebih banyak membutuhkan nyali dan power motor. Saya nggak begitu hafal melewati tanjakan apa saja. Yang jelas dalam satu lokasi itu ada banyak tanjakan dan ada namanya masing-masing. Semuanya relatif sulit! Saya cuma inget waktu mental di Tanjakan Fito yang tegak dan berundak-undak. Kemudian juga ada Tanjakan Roti atau apa ya, saya nggak terlalu inget. Setelah menyelesaikan tanjakan-tanjakan itu ternyata di atas merupakan lokasi makan siang berupa prasmanan dan ada panggung dangdutnya sebagai hiburan.

Cukup lama beristirahat, makan siang, dan shalat, saya pun gas lagi bareng Mas Aziz – WD Motor Garage yang kebetulan juga ikutan JHE 7. Sialnya baru sebentar ngegas bareng kami sudah terpisah. Saya sibuk cari bengkel buat nambah tekanan angin ban, sementara Mas Aziz sibuk mencari HP-nya yang jatuh. Dari bengkel saya kembali masuk ke jalur yang full batu sampai ketemu dengan Tanjakan PETE Indonesia dan Tanjakan Crystal-X. Lagi-lagi saya mesti berdecak kagum melihat tanjakan yang super tegak, banyak super bowl, banyak batu, dan nggak ada ancang-ancang. Asli bikin keder! Beruntung atau malah sialnya lagi, ban TT-R230 saya kempes pesss waktu mau diajak mencoba tanjakan. Wkwkwkwk…

Dengan ditemani oleh Tole (teman asal Lampung), kami mencari tukang tambal ban yang jauhnya kayak mau minggat. Sempat frustasi juga sih nyari tukang tambal ban nggak ketemu-ketemu karena tukang tambal ban di sana banyak yang ikut event. Kami pun meminta tolong panitia untuk mengantarkan kami ke tukang tambal ban karena kami nggak tahu mesti nyari ke mana lagi. Dengan bantuan pantia kami tiba di tukang tambal ban yang jaraknya sangat jauh dan banyak melewati jalur berbatu. Akhirnya ya saya mesti ganti ban dalam. Ban dalam TT-R230 sudah robek sehingga nggak memungkinkan ditambal. Di tukang tambal ban ternyata banyak yang mengalami nasib serupa. Total dalam satu waktu itu ada tiga orang yang minta ganti ban dalam.

Urusan ban sudah kelar, saya dan Tole berniat kembali ke jalur. Apalagi waktu itu masih sekitar jam 2 siang lebih dikit lah. Kami masih belum puas dan masih ingin mencoba sisa jalur dan tanjakan yang ada. Tapi sayangnya kami dicegat oleh panitia. Mereka menyarankan kami langsung kembali ke titik finish karena sudah nggak ada lagi orang di jalur. Kebanyakan dari peserta sudah meluncur menuju titik finish. Ya apa boleh buat, kami langsung gas ke titik finish di Lanud Gading dan menyelesaikan JHE 7 yang konon katanya punya rute sejauh 65 km itu dengan penuh rasa penasaran.

Last… Nggak bisa dipungkiri jalur di JHE 7 beneran hard… Susah dan menantang! Sulit menemukan karakter jalur penuh teknik yang sama di Lampung. Jujur saja saya masih penasaran dengan jalurnya karena nggak bisa ikutan njalur full akibat ban bocor. Tapi nggak masalah, mungkin bisa diulangi tahun depan di JHE 8 dengan jalur dan lokasi yang berbeda plus persiapan yang lebih matang. Selain motor saya yang pecah ban, motor KTM 500 EXC-F yang dipakai oleh Mas Heru dan Husaberg FE 350 yang dipakai Dokter Agus mati total. Kerusakan beberapa motor ini memang lumayan menyita waktu meskipun susah dihindari. Semoga tahun depan bisa ikutan JHE 8 sesi private dan regular sekaligus!

Advertisements