Gas Tipis-Tipis Pakai Motor Trail Sambil Plesiran di Lereng Gunung Merapi

Hola mas bro… Saya akan kembali cerita nih mengenai pengalaman ke Jogja dua minggu yang lalu dalam rangka mengikuti event Jogja Hard Enduro (JHE) 7. Cerita tentang JHE 7 sendiri sudah saya posting di artikel sebelumnya ya! Sekarang saya bakal cerita mengenai liburan setelah JHE 7. Sayang dong udah jauh-jauh sampai Jogja nggak sekailan liburan. Jadi sehari setelah mengikuti JHE 7, rombongan kami dari Lampung Timur meluncur plesiran ke lereng Gunung Merapi yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Sleman. Tentunya bukan plesiran biasa, tapi plesiran pakai motor trail!

Karena rombongan kami lumayan banyak, sedangkan nggak semua motor trail dalam kondisi sehat setelah event JHE 7, maka hanya beberapa orang yang menggunakan motor trail, sedangkan sebagian lagi menggunakan mobil double cabin Nissan Navara NP300. Untuk motor trail, yang keluar totalnya kalau nggak salah ada 12 unit, antara lain KTM 300 EXC TPI, KTM 300 EXC, Husaberg FE 350, Husaberg FE 450, dan Yamaha TT-R230 masing-masing satu unit, serta dua Honda CRF150L dan lima Kawasaki KLX150. Saya sendiri tetap pakai motor andalan buruk rupa Yamaha TT-R230.

Senin (17/6/2019) siang kami langsung tancap gas dari Depo PT SKS di Jalan Magelang KM.17 menuju destinasi pertama yaitu Kaliadem. Pastinya kami melewati jalan aspal dulu, baru kemudian menjelang Kaliadem kami bertemu dengan jalan batu yang batunya asli gede-gede. Jalan ini biasa dipakai oleh truk-truk yang mengangkut hasil tambang batu di sekitar lereng Merapi. Danang SKS yang memimpin rombongan dengan KTM 300 EXC TPI langsung mengambil posisi riding berdiri dan menggeber motor dalam kecepatan tinggi. Saya yang cuma mengandalkan Yamaha TT-R230 mengikuti di belakangnya. Begitu kami berdua noleh ke belakang, terlihat jelas debu berhamburan sampai-sampai jalan yang tadi kami lewati nggak kelihatan sama sekali. Temen-temen yang lainnya pun belum nongol. Begitu mereka nongol dan formasi lengkap, kami kembali menggeber motor dengan kencang. Jujur aja jalur bebatuan seperti ini bukan favorit saya. Kenapa? Karena sangat menguras tenaga, menyiksa tangan, dan menyiksa motor terutama kaki-kaki.

Nggak lama kemudian kami akhirnya sampai di Bunker Kaliadem yang berfungsi sebagai ruang evakuasi ketika Gunung Merapi meletus. Dari sana kami terus naik melewati tanjakan yang sebenarnya nggak terlalu tinggi dan nggak terlalu panjang, tapi lumayan teknikal karena tanahnya gembur dan penuh dengan bebatuan besar. Untuk motor-motor trail kecil macam KLX150, CRF150L, hingga TT-R230 yang saya pakai nggak ada yang kerepotan melakukan uphill. Yang kerepotan justru para penyemplak motor built up macam KTM dan Husqvarna, kecuali Danang yang memang punya skill luar biasa. Tenaga motor yang gede dan liar serta ketinggian jok yang sangat tinggi membuat penyemplaknya kesulitan. Sampai di atas seperti biasa kami foto-foto. Puas foto-foto langsung turun makan siang di warung-warung yang banyak berderet di sekitar Kaliadem.

Dari area Bunker Kaliadem kami melipir ke Dusun Kinahrejo yang dulunya kampung Mbah Maridjan (juru kunci Merapi). Di Kinahrejo ini kami melihat berbagai peninggalan bersejarah di kampung ini, termasuk eks rumah Mbah Maridjan. Sekarang Kinahrejo memang sudah nggak ditinggali, tapi hanya sebagai tempat wisata dan menjadi bukti bagaimana keganasan Gunung Merapi waktu meletus pada Oktober 2010. Setelah merasa cukup berkeliling Kinahrejo, kami melanjutkan perjalanan ke spot berikutnya yaitu Kali Kuning dan Kaliurang. Jadi wisatanya serba kali pada hari itu.

Selain Kaliadem kami memang nggak melewati track yang cukup menantang. Semuanya serba aspal. Niat kami memang plesiran, bukan hard enduro. Kalau mau hard enduro sih banyak banget track di Merapi yang amat sangat menantang dan menguras tenaga. Tapi kami nggak memilih opsi itu. Alasan pertama karena kami lelah setelah JHE 7. Alasan kedua, pada Senin malam kami akan melakukan perjalanan darat menggunakan mobil dari Jogja ke Lampung sehingga kami harus menjaga kebugaran tubuh. Jangan sampai kami semua kelelahan di jalan yang membuat ritme perjalanan menggunakan mobil menjadi sangat lambat. Jadi jangan pertanyakan juga kenapa kami nggak memakai riding gear yang komplit. Karena ya memang cuma mau plesiran, bukan hard enduro. Tapi setidaknya kami menggunakan helm dan sepatu, walaupun bukan sepatu off-road. Oh ya, sejumlah foto dan video selama di Jogja udah saya posting di Instagram @adventuriderz ya, silakan lihat di sana. Semoga tahun depan kami bisa ke Jogja lagi mengikuti event JHE 8 ya!

Advertisements