Off-Road HUT Bhayangkara Polres Lamsel – Jalur Fun, View Mantap!

Guys… Hari Sabtu (13/7/2019) yang lalu saya bersama dengan beberapa rekan komunitas trail dari Lampung Timur meluncur ke Sidomulyo, Lampung Selatan, untuk mengikuti sebuah event off-road adventure yang bernama Bhayangkara Gas Bareng 2019 dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Bhayangkara Polres Lampung Selatan. Karena lokasi start nggak terlau jauh dari rumah, kurang lebih sekitar 25-30 km, jadi saya bersama dengan tiga orang lainnya memutuskan menggeladak motor. Pertimbangannya agar lebih hemat waktu. Apalagi kami nggak melewati jalan raya. Jadi aman lah… Waktu tempuh dari rumah hingga titik start di Lapangan Sidomulyo kurang lebih 40 menit saja.

Menurut saya Bhayangkara Gas Bareng 2019 yang digagas oleh Polres Lampung Selatan ini cukup menarik meskipun tergolong sebagai event kecil dengan jumlah peserta nggak sampai 1.000 orang. Peserta cukup membayar biaya pendaftaran senilai Rp 50.000. Sangat murah. Normalnya biaya pendaftaran event trail kayak gini Rp 150.000 – 200.000. Tapi dengan duit sebesar itu sudah bisa mendapatkan makan siang dan air mineral botol ditambah dengan satu bungkus rokok, satu teh botol, dan satu sachet kopi. Apalagi peserta juga berpeluang mendapatkan hadiah undian setelah bermain off-road. Saya sih nggak terlalu berharap dengan hadiah undian karena selama ini belum pernah dapat sama sekali.

Nah, rombongan kami yang ntah berapa orang (lupa) start agak belakangan. Musim kemarau gini jalur nggak akan rusak-rusak amat walaupun start terakhir. Setelah bendera start dikibarkan, kami dipandu panitia masuk ke jalur-jalur off-road di sekitar Sidomulyo. Obstacle pertama yang harus dilalui berupa sungai. Yups, seperti biasa kami mesti menyeberangi sungai. Air sungainya sedikit sekali, tapi untuk naik agak tricky lantaran dihadang batu yang cukup besar dan licin. Beruntung si belalang tempur KLX170 nggak kesulitan melewati rintangan ini. Dengan sekali hentakan gas langsung lolos.

Rintangan berikutnya yang mesti dilalui adalah Turunan Batu Kecepit. Di sini jalurnya berupa turunan berbatu yang sempit. Tidak jarang batu berada di kanan dan kiri yang membuat ban terjepit di antara dua batu. Mungkin karena hal ini panitia memberikan nama Turunan Batu Kecepit. Beruntung batunya kering, jadi nggak terlalu sulit. Banyak juga yang berjatuhan di sini, tapi kalau sudah pernah merasakan atmosfer Jogja Hard Enduro rasanya jalur berbatu di sini nggak ada apa-apanya. Setelah Turunan Batu Kecepit kami menghadapi sebuah tanjakan yang lumayan tinggi dengan kontur tanah rata dan tidak gembur. Beruntung rombongan kami nggak ada yang kesulitan melibas tanjakan ini. Tidak jauh dari tanjakan pertama kami kemudian menghadapi tanjakan kedua dengan karakter yang mirip. Praktis nggak ada kesulitan berarti.

Setelah melewati tanjakan kedua ini praktis rutenya hanya rute santai berupa jalur single track yang terkadang menyeberangi aliran sungai. Baru kemudian kami menemukan tanjakan lagi. Berbeda dengan tanjakan pertama dan kedua yang relatif panjang, pada tanjakan ketiga ini nggak terlalu tinggi tapi tegak. Banyak rider bergelimpangan karena kurang berani ngegas atau malah terlalu berani ngegas. Kuncinya di tanjakan tegak mesti benar-benar pas dalam buka tutup gas. Terlalu kalem ya nyangkut, terlalu kuat ngegasnya berpotensi back flip. Lagi-lagi si belalang tempur nggak mendapatkan kesulitan berarti di sini. Dari tanjakan ketiga kami terus berjalan mengikuti arah yang sudah tertempel di sepanjang jalur hingga kami tiba di pantai. Saya nggak tahu ini nama pantainya apa, yang jelas pantainya bagus, bersih, asri, berpasir putih, banyak batuan karang, dan sangat sepi. Kami berhenti cukup lama di tepi pantai untuk istirahat sambil makan siang.

Puas istirahat kami kembali melanjutkan perjalanan menyusuri pantai dengan kondisi pasir yang sangat gembur hingga mentok dan ketemu tanjakan yang lumayan terjal, tegak, dan beruba bebatuan. Sejauh ini si belalang tempur masih mulus melewati rintangan ini. Nggak jauh dari tanjakan ini kami menemui sebuah tanjakan yang mungkin paling sulit di Bhayangkara Trail Adventure Polres Lampung Selatan. Namanya adalah Tanjakan Mbah Slamet. Tanjakannya tinggi dan panjang dengan awalan yang bergelombang. Konon kabarnya panjang tanjakan ini 300 meter. Rider jatuh bangun kayaknya udah jadi hal lumrah di sini, nggak peduli penyemplak motor trail lokal, odong-odong, bebek goreng, hingga built up. Apesnya saya dan si belalang tempur gagal pada percobaan yang pertama karena back flip menjelang puncak tanjakan. Saya turun lagi dan melakukan percobaan kedua… SUKSESSS!!

Dari puncak Tanjakan Mbah Slamet ini pemandangan yang disajikan benar-benar luar biasa. Kita berada di atas gunung dengan pemandangan hamparan pantai yang sangat luas dan panjang lengkap dengan hijaunya pohon-pohon kelapa yang berada di tepi pantai. Asli pemandangan ini nggak ada obatnya. Keren pake banget!! Di puncak Tanjakan Slamet ini saya cukup lama karena harus menunggu beberapa teman yang masih berusaha naik. Saat semuanya berkumpul kami lanjut menggeber motor. Ternyata setelah Tanjakan Mbah Slamet tadi kami kembali dihadang tanjakan yang panjang dan berliku. Bedanya tanjakan ini nggak securam Tanjakan Mbah Slamet. Lalu kami bertemu dengan warung dadakan di tengah hutan. Kami beristirahat di sini sambil minum kelapa muda.

Jalur-jalur berikutnya relatif aman tanpa ada obstacle yang cukup sulit. Hanya saja pada suatu titik kami kehilangan arah dan membuat rombongan terpencar. Saya tinggal bertiga dengan Tole dan Bowo melewati jalur licin menyeberangi kali dengan tanjakan yang lumayan tegak di bawah pohon bambu. Setelah itu kami kembali bertemu dengan rombongan yang lain. Tapi kami juga bersama-sama kehilangan jalur yang benar sehingga kami memutuskan keluar jalur dan langsung menuju titik finish. Kami nggak ketemu dengan Tanjakan Jati yang konon kabarnya nggak kalah menantang dari Tanjakan Mbah Slamet.

Walaupun nggak full 100% melewati jalur tapi kami sudah cukup puas mengikuti event Bhayangkara Gas Bareng Polres Lampung Selatan 2019 dengan jalur yang disajikan sangat cocok buat bersenang-senang. Nggak terlalu hard, namun juga nggak gampang-gampang amat. Jalurnya pas lah kalau hanya sekedar buat happy-happy. Terakhir, saya pribadi mengucapkan Selamat Hari Bhayangkara Ke-73, semoga Korps Bhayangkara terus maju dan bisa mengayomi masyarakat dengan lebih baik lagi.

Advertisements