Banjir Tanjakan di Pubian – Lampung Tengah, Bukan Track untuk Pemula!

Lebih dari seminggu yang lalu, persisnya tanggal 27 Juli 2019, saya bareng temen-temen komunitas mengikuti event KUTIL Anniversary #01 dengan lokasi event berada di Desa Payung Dadi, Kecamatan Pubian, Lampung Tengah. Jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal saya, kurang lebih sekitar 170 km yang bisa ditempuh dalam waktu 4-5 jam dengan kondisi lalu lintas normal. Kenapa kok ngebet ikut event ini? Karena kabarnya jalur off-road di Pubian sangat syahdu, keren, dan banyak banget tanjakan-tanjakan (uphill) yang menantang.

Benar saja, begitu tiba di titik start Lapangan Payung Dadi, MC Om Apunk Pakot menyebut bahwa panitia sudah menyediakan total 19 tanjakan dan 4 turunan dengan jarak total rute sejauh 70 km. Bisa dibilang ini sangat luar biasa ya guys, dengan jarak cuma 70 km ada 19 tanjakan plus 4 turunan. Mantaaaap! Oh ya, dari 19 tanjakan itu beberapa di antaranya terdapat tanjakan berhadiah. Bahkan hadiahnya cukup menarik mulai dari uang hingga satu unit motor, meskipun itu motor matic bekas. IMHO ini lokasi yang tepat bagi para jawara-jawara tanjakan membuktikan kemampuan dirinya. Hehehe…

Seperti biasa, saya dan beberapa orang rekan start agak santai. Nggak perlu start pertama karena ini musim kemarau jadi jalurnya pasti aman-aman saja, nggak rusak. Kami langsung dibawa masuk ke jalur single track di pegunungan yang dipenuhi oleh tanaman sawit. Nggak lama kemudian kami sudah harus menghadapi sebuah tanjakan. Nggak terlalu tinggi tapi lumayan tegak. Dengan mudah kami bisa melewati tanjakan ini. Setelah tanjakan ada turunan yang cukup curam dan licin karena tanah gembur. Lumayan lah bisa bikin motor ngesot-ngesot. Kami terus menelusuri jalur hingga akhirnya bertemu dengan tiga tanjakan sekaligus dalam satu lokasi. Ada Tanjakan Bebek, Tanjakan Ojo Engkres, dan Tanjakan Melipir. Tiga tanjakan ini nggak ada yang beres. Semuanya susah! Tanjakannya tinggi, panjang, dan tegak. Belum lama sepanjang tanjakan penuh dengan super bowl, banyak tunggak kayu, dan ancang-ancang yang sangat minim. Bahkan Tanjakan Melipir pun nggak sesuai dengan namanya, susah banget. Pemandangan motor bergelimpangan sudah jadi pemandangan lumrah di sini. Dari ratusan off-roader yang ikut event paling hanya segelintir yang mampu sampai puncak. Sisanya ya melipir, bayar uang seikhlasnya untuk pembangunan masjid, termasuk saya. Wkwkwkwk…

Dari tiga tanjakan impossible tadi kami melaju hingga kembali menemukan kalau nggak salah sekitar tiga tanjakan. Dua tanjakan pertama masih relatif gampang, sedangkan satunya lagi relatif sulit karena tanahnya sangat gembur, berdebu, dan panjang. Saya butuh dua kali percobaan agar bisa sukses nanjak di sini. Setelah itu kami bertemu dengan Turunan Linu-Linu. Turunannya nggak terlalu ekstrem sebenarnya, tapi penuh dengan batu dan ngerel. Ini membuat kaki lumayan linu sesuai dengan namanya Turunan Linu-Linu. Lolos dari Turunan Linu-Linu kami istirahat sejenak. Cuaca di jalur benar-benar panas dan terasa nggak ada angin yang berhembus, bikin badan sangat lelah. Padahal pepohonan sangat rimbun tapi ya itu anehnya nggak ada rasa semilir angin. Di sini rekan satu komunitas saya, cewek, minta dievakuasi karena udah nggak kuat lagi melanjutkan perjalanan. Lemes coooi!

Puas istirahat kami lanjut dan langsung menemukan Tanjakan Tembok Derita. Lagi-lagi tanjakannya nggak terlalu tinggi, namun sangat tegak seperti tembok. Beruntung si belalang tempur KLX170 bisa lolos dengan mulus. Begitu juga temen-temen yang lain. Setelah Tanjakan Tembok Derita masih ada tanjakan lain yang karakternya mirip. Saya lupa nama tanjakannya. Tentu tanjakan ini bisa kami lewati dengan mudah. Nggak lama kemudian kami masuk ke area perkampungan. Kami berhenti istirahat makan siang di sebuah warung. Maklum perut sudah lapar dan setelah perkampungan ini nggak ada lagi kampung lantaran kami akan dibawa masuk ke dalam area hutan lindung. Lontong pecel dan es cendol jadi menu santap kami siang itu.

Nggak perlu menunggu lama setelah perut kenyang kami langsung lanjut masuk ke dalam area hutan lindung sesuai dengan petunjuk arah yang diberikan oleh panitia. Di dalam area hutan lindung ini memang nggak ada tanjakan yang sangat ekstrem. Tapi rutenya tetap keren! Jalur single track di tengah hutan yang sangat rimbun dengan kontur campuran antara jalan menanjak dan turunan teknikal. Pada banyak area di sebelah kanan itu berupa dinding tebing, sedangkan di sebelah kiri jurang menganga. Adrenalin otomatis langsung terpacu di sini. Konsentrasi mesti fokus dan nggak boleh lengah sama sekali. Lengah sedikit saja bisa bablas.

Keluar dari hutan lindung barulah kami kembali bertemu dengan tanjakan-tanjakan sadis khas Pubian. Saya nggak terlalu ingat nama-namanya dan masih ada berapa tanjakan. Yang jelas banyak banget, ekstrem, dan semuanya sangat menantang. Satu yang cukup melekat di ingatan saya adalah Tanjakan Penasaran. Kenapa kok inget? Karena saya njungkel di sini! Wkwkwkwkwk… Karakter tanjakannya sangat tegak seperti tembok namun penuh dengan super bowl dan minim ancang-ancang. Parahnya lagi spesial di tanjakan ini nggak ada jalur pelipiran. Mau nggak mau mesti nanjak. Saya gagal pada percobaan pertama. Motor udah back flip sebelum sampai di puncak. Nah, saya jatuhnya itu saat menurunkan motor untuk melakukan percobaan kedua. Kalau nanjak tegak seperti tembok, otomatis turunnya sangat curam. Posisi saya nggak bisa dan nggak berani naik ke atas motor. Praktis cuma bisa nuntun motor. Begitu bergerek sedikit saja motor langsung meluncur deras ke bawah meskipun tuas rem sudah ditekan maksimal, sedangkan saya bergulung-gulung seperti bola. Nggak tahu berapa kali kepala saya menyentuh tanah, yang jelas jidat lecet terkena gesekan padding helm. Overall nggak ada bagian tubuh yang cidera karena terlindung oleh protektor, mulai dari helm, elbow protector, knee protector, hingga boots. Yang absen dari protektor cuma dada, tapi alhamulillah nggak apa-apa. Setelah ambil napas sebentar lanjut gas lagi percobaan yang kedua. Hasilnya tetap gagal! Hahaha… Mesti ditarik sedikit sampai puncak. Sayang foto dan videonya nggak ada.

Masih ada tanjakan lagi nggak mas? Masih banyak!! Seingat saya setelah Tanjakan Penasaran ada tanjakan lain, diikuti gerombolan tiga tanjakan dalam satu tempat yang salah satunya adalah Tanjakan RMS. Setelah melewati Tanjakan RMS saya langsung meluncur ke titik finish di Lapangan Payung Dadi. Awak wes lemes kabeh broo… Kaki kiri mulai sering kram kalau kaki berada di footpegs. Padahal kalau nggak salah masih ada Tanjakan Trial Bang Nafit dan tanjakan built up yang berhadiah motor. Wes… Nggak coba nggak apa-apa daripada badan semakin remuk.

Last… Menurut saya event KUTIL Anniversary #01 di Pubian – Lampung Tengah memiliki jalur yang benar-benar menarik. Bahkan jalur hingga tanjakannya mungkin yang paling menarik dari semua event yang pernah saya ikuti di Lampung. Benar-benar pesta tanjakan bro! Tapi tentunya jalur seperti ini bakal lumayan menyeramkan sekaligus tantangan nyata buat para pemula. Jalur yang bisa membentuk mental sih ini bro… Next time KUTIL mengadakan event lagi sebisa mungkin ikutan! Tapi untuk artikel kali ini mohon maaf ya kalau minim foto. Maklum kali ini saya nggak banyak foto dan lebih fokus menikmati jalur. Untuk foto-foto dan video bisa temen-temen lihat di akun Instagram @adventuriderz. Sampai jumpa di petualangan berikutnya…

Advertisements