CRF DAY East Java Xpedition #2 Hari-1: Jalur Kali Kebo Bikin Ngos-Ngosan

Mas bro… Akhir pekan lalu 9-10 November 2019 Honda mengadakan event khusus bagi pengguna motor Honda CRF. Namanya adalah CRF DAY East Java Xpedition yang ternyata sudah memasuki seri kedua. Seri pertama kalau nggak salah sudah digelar April 2019 yang lalu dengan mengeksplor Gunung Mujur, Gunung Arjuno, dan Gunung Welirang. Semuanya adalah gunung yang ada di Jawa Timur karena namanya saja East Java Xpedition. Bagaimana dengan CRF DAY East Java Xpedition seri kedua?

Kebetulan saya diundang oleh Honda untuk ikut dalam event CRF DAY East Java Xpedition yang kedua. Untuk seri kedua ini kami mengeksplor sekitaran lereng Gunung Kawi dan Gunung Kelud selama dua hari. Total ada sekitar 200 rider yang ikut ambil bagian dalam event ini, terdiri dari 150 rider berasal dari komunitas CRF dan 50-an rider lainnya diisi oleh kalangan blogger, vlogger, jurnalis, pihak internal Honda, dan sejumlah undangan lain.  Kok pesertanya cuma sedikit mas? Menurut informasi yang saya dapatkan, pihak Honda memang sengaja membatasi jumlah peserta karena event ini dibuat eksklusif agar peserta pun merasa nyaman menikmati jalur dan segala macam fasilitas yang disediakan. Nggak bisa dipungkiri, menurut saya event CRF DAY East Java Xpedition #2 ini tergolong mewah. Gimana nggak, dengan bayar biaya pendaftaran Rp 200.000, pesera udah dapat jersey, kaos lengan panjang, makan dan snack selama dua hari, tenda lengkap dengan sleeping bag, hiburan, asuransi, pit service, medical assistant, mobil kargo untuk membawa barang dari titik start ke titik camp dan dari titik camp ke lokasi finish, dan nomor untuk door prizes satu unit Honda Genio. Josss mantap pokoknya!

Titik start dan finish CRF DAY East Java Xpedition #2 sendiri berada di sebuah lapangan yang masuk ke dalam area Selorejo Hotel & Resort, nggak jauh dari Waduk Selorejo, Ngantang, Malang, Jawa Timur. Untuk event kali ini saya dapat CRF150L yang masih sangat muda. Baru nempuh 1.200 km dengan kondisi yang semuanya masih standard. Mesin standard, ban standard, suspensi masih standard. Jadi bannya belum pakai ban offroad tulen, tapi pakai ban dual purpose bawaan motor. Kalau ada komponen yang diganti itu cuma knalpot dan handlebar.

Nah pada offroad hari pertama ini kami bakal menempuh jarak sekitar 80 km dari Selorejo ke arah selatan, persisnya ke Pagersari dan Ringinsari di lereng Gunung Kawi. Jalur awal ini bisa dibilang biasa saja, nggak susah, mostly single track, dan motor bisa digeber kenceng. Ya kebanyakan rutenya lewat jalan setapak di pegunungan yang sering dilewati warga. Walaupun nggak sulit, tapi tetap saja rute pegunungan menghadirkan pemandangan yang luar biasa!!

Dari Ringinsari kami turun ke aliran sungai tempat menambang pasir. Kalau nggak salah ini masuk ke wilayah Wonorejo sekaligus jadi penanda kami mulai meninggalkan lereng Gunung Kawi dan bergeser ke lereng Gunung Kelud. Kami menelusuri sungai yang penuh dengan batu dan pasir tapi minim air ini sampai ke ujung. Di sini lah drama terjadi! Saat kami akan berfoto, salah satu rider dari MPM Honda Jatim putar balik karena ingin ikut foto. Tapi apesnya, doi malah masuk ke area pasir atau lumpur hisap yang dikiranya area keras. Motor nancep nggak bisa gerak. Temen-temen yang mau nolong evakuasi motor pun kerepotan lantaran justru nggak bisa gerak, sulit keluar dari lumpur. Niat nolong malah minta tolong. Untungnya ada warga setempat, sopir truk pasir, yang sekaligus off-roaders ikut nolong mengevakuasi motor. Memang butuh waktu lama, tapi akhirnya motor berhasil diangkat dan hebatnya nggak mogok lho. Padahal lumpurnya dalam.

Nggak jauh dari area drama tadi, kami akhirnya tiba di pos 1, Hutan Pinus Loji di lereng Gunung Kelud. Di sini adalah titik istirahat untuk sekedar ngopi maupun makan siang. Saya dan rombongan tiba di Hutan Pinus Loji sekitar pukul 11.00. Udara di sini adem, suasananya nyaman, dan pemandangan juga oke. Cocok lah sebagai titik istirahat. Tapi kabar buruknya ini belum setengah perjalanan. Apalagi jalur di depan katanya lebih berat!

Well… Setelah istirahat dan makan siang kami melanjutkan perjalanan. Dari Hutan Pinus Loji yang sebenarnya tempat wisata sekaligus spot foto yang asyik tersebut kami meluncur ke dalam hutan terus ke wilayah yang disebut Kebun Bantaran. Lagi-lagi jalurnya single track, beberapa kali menyeberangi sungai kecil berbatu, dan untungnya kondisi jalur masih kering. Kalau basah pasti butuh effort lebih untuk melewatinya karena kita mesti naik turun nyeberang sungai.

Perjalanan menjadi semakin menantang saat kami sampai di jalur bernama Kali Kebo. Ya, kami mesti berjalan di sepanjang alur sungai. Bukan mengikuti aliran air, tapi justru naik melawan aliran air sungai. Memang sih jalur sungai ini nggak terlalu licin. Kalah jauh dibandingkan dengan licinnya jalur sungai di event Jogja Hard Enduro 7. Tapi tetap saja jalur Kali Kebo sangat melelahkan. Kenapa? Karena banyak banget batu-batu gede. Tangan benar-benar disiksa di sini. Kaki juga mesti selalu siaga biar kita nggak gubrak. Saya paling nggak dua kali berhenti istirahat di jalur Kali Kebo. Temen-temen rombongan udah tercecer di belakang. Karena lama nunggu nggak nongol-nongol, saya lanjut geber motor sendirian alias single fighter. Konon kabarnya jalur Kali Kebo ini jauhnya sekitar 3 km. Lumayan bikin otot tangan dan kaki kontraksi semua. Otomatis napas pun ngos-ngosan.

Lolos dari jalur Kali Kebo – Kali Semut, saya meluncur ke arah Dongki dan Ngusri. Di sini Saya sudah riding sendirian. Pure single fighter. Beruntung jalur yang disajikan bukan jalur teknikal. Masih jalur single track di tengah hutan dan naik – turun. Hanya beberapa kali saya ketemu dengan peserta lain. Itupun sedang berhenti istirahat. Kadang juga ada rider petarung yang mendahului dengan kencang dan langsung menghilang. Saya berhenti sejenak di tepi danau. Nggak tau namanya danau apa, yang jelas di situ juga ada tanjakan berhadiah yang tinggi dan curam.

Setelah coba tanjakan tapi gagal, saya langsung cabut geber CRF150L Extreme Red menuju check point Kali Putih. Kali Putih ini jalurnya lebar seperti jalan makadam dengan tekstur batu lumayan halus. Ada airnya tapi sangat dangkal. Masih bisa lah geber motor kecepatan tinggi di sini. Nggak lama kemudian saya sudah masuk jalur Petung Ombo yang sangat spooky. Bayangin deh, riding sendirian di dalam hutan bambu single track yang dalam seperti huruf V yang otomatis nggak bisa mendahului dan nggak bisa nyalip juga. Begitu masuk hutan bambu langsung gelap gulita. Saya lewat sini sekitar pukul 16.20, tapi matahari udah nggak bisa nembus ke dalam hutan bambu. Asli bikin merinding. Begitu keluar dari hutan bambu langsung lega karena lihat matahari lagi. Nggak jauh dari hutan bambu ternyata saya sudah sampai di camp point yang masuk ke dalam wilayah Kebun Kopi Karanganyar tepat pukul 16.30. Di Kebun Kopi Karanganyar inilah peserta bermalam di tenda. Tapi saya bersama dengan blogger dan vlogger serta perwakilan Astra Honda Motor (AHM) nginep di Hotel Tugu – Blitar. Oh ya, pada malam harinya juga ada sesi launching Honda CRF150L model year 2020 yang terdiri dari tiga pilihan warna: Extreme Red, Extreme Black, dan Extreme Grey.

Anyway pengalaman offroad hari pertama di CRF DAY East Java Xpedition #2 lumayan seru. Apalagi CRF150L yang saya pakai tergolong mumpuni walaupun dalam kondisi standard. Motor ini nggak kerepotan kok lewat jalur hari pertama bermodal mesin standard dan ban standard. Asli enaaaak. Suspensinya pun juara! Next lanjut cerita untuk offroad hari kedua ya!

Advertisements