Travel

Ini Asal Usul Nama dan Pengunaan Jeruji Besi untuk Sate Klatak di Jogja

Sate klatak merupakan sate khas Jogja yang digemari wisatawan. Keunikan sate klatak terletak pada penggunaan jeruji besi untuk membakarnya. Sate klatak juga menggunakan bumbu garam dan kuah santan.

Jika traveler ingin menikmati sate klatak bisa datang langsung ke daerah Jalan Wonogiri. Di tempat ini ada sederet warung Sate Klathak yang populer. Satu di antaranya sate klathak Pak Pong yang berada di Jalan Sultan Agung No 18 Jejeran II, Wonokromo, Pleret, Kabupaten Bantul.

Warung sate klathak Pak Pong memiliki tempat yang cukup luas dan bisa untuk rombongan. Namun karena popularitasnya, terkadang Anda harus menunggu cukup lama karena pengunjung yang membeludak, terutama pada akhir pekan atau masa masa liburan. Selain Sate Klathak Pak Pong, ada pula Sate Klathak Pak Bari.

Ini pun tak kalah populernya bahkan menjadi tempat syuting film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2). Pak Bari menjelaskan bahwa dirinya adalah generasi ketiga yang berjualan sate klathak. "Dulu yang pertama kali berjualan sate klathak adalah simbah saya. Kemudian diteruskan olah bapak, kemudian saya," ujarnya. Sebelum dikenal dengan nama sate klathak, sate jenis ini dikenal dengan nama sate uyah.

Alasannya kerena sate ini hanya dibumbui menggunakan garam (uyah) sehingga menambah keunikan sate klathak. Pak Bari menambahkan bahwa awalnya penggunaan jeruji roda sepeda sebagai tusuk satenya agar tidak repot membuat tusuk dari bambu. Tetapi dengan penggunaan jeruji yang terbuat dari besi menghasilkan daging yang matang sempurna hingga ke dalam daging, karena sifat besi yang menghantarkan panas.

Terkait dengan penamaan klathak, baru diberikan saat Pak Bari yang meneruskan usaha kuliner tersebut sejak tahun 1992. Berawal dari kebiasaan bapak tiga orang anak tersebut mencari biji melinjo untuk dijual sebagai tambahan uang saku di sela sela membantu berjualan sate. Saat sedang membakar sate, Pak Bari iseng ikut membakar biji melinjo, dan bagi orang Yogyakarta, isi melinjo juga disebut dengan klathak. Dari situlah ide penamaan sate klathak muncul.

Citarasa sate klathak berbeda dari kebanyakan sate. Meskipun cuma diolah menggunakan garam, tetapi hal tersebut menciptakan rasa yang begitu gurih dan daging kambingnya pun terasa begitu empuk. Satu porsi sate klathak berisikan dua tusuk sate, dan disajikan dengan kuah gulai yang semakin menambah nikmat menyantap sajian satu ini. Karena keunikannya ini, warung sate klathak Pak Bari menjadi salah satu lokasi syuting film Ada Apa Dengan Cinta.

Dalam film tersebut digambarkan Rangga dan Cinta menikmati kelezatan sate klathak di tempat makan yang begitu sederhana. "Sejak digunakan sebagai lokasi syuting AADC, pengunjungnya semakin banyak," kata Pak Bari. Jika sebelumnya dalam sehari menghabiskan dua hingga tiga ekor kambing, setelah muncul di film AADC dalam sehari warung makan ini bisa menghabiskan delapan hingga 10 ekor kambing.

Tidak hanya menyediakan sate klathak, di warung yang setiap harinya buka dari jam 18.30 hingga 02.00 dinihari tersebut juga menyediakan sate bumbu, tongseng, gulai, dan kicik balungan. Untuk soal harga, sate klathak masih cukup terjangkau. Dengan Rp20 ribu anda bisa mendapatkan seporsi sate klathak, lengkap dengan kuah gulai, nasi dan juga minum. Saat ini sebaiknya anda jangan datang terlalu malam untuk memastikan tidak kehabisan olahan sate Pak Bari. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *